Otomotif

Pasar Otomotif Indonesia 2026 Diprediksi Berubah Drastis: Hybrid Menguat, Merek China Bertahan di Tengah Kenaikan Harga

Dinamika pasar otomotif nasional diperkirakan memasuki babak baru pada tahun 2026. Perubahan ini utamanya dipicu oleh berakhirnya insentif fiskal untuk mobil listrik impor serta rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang akan berlaku.

Merek-merek asal China, yang selama ini dikenal agresif di segmen elektrifikasi, kini dihadapkan pada tantangan baru. Hal ini mencakup potensi kebangkitan segmen low cost green car (LCGC) serta semakin menguatnya adopsi kendaraan hybrid electric vehicle (HEV) di pasar domestik.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Strategi Merek China di Tengah Tantangan Baru

Pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menyoroti bahwa masuknya merek-merek China dengan pendekatan harga kompetitif dan fitur tinggi telah mencegah pasar untuk kembali mundur ke teknologi lama. Menurut Yannes, tanpa kehadiran produk elektrifikasi berharga terjangkau, baik hybrid maupun listrik, pasar berisiko mengalami regresi.

“Merek China tetap agresif melakukan perang harga dan efisiensi manufaktur untuk membendung potensi kebangkitan segmen LCGC ICE konvensional,” ujar Yannes kepada tim redaksi Mureks, Kamis (8/1/2026).

Ia menambahkan, kenaikan harga kendaraan akibat berakhirnya insentif umum dapat mendorong konsumen kembali melirik LCGC. Namun, strategi merek China yang menekan biaya produksi dan memangkas margin justru menciptakan ‘tembok penahan’ agar konsumen tetap berada di jalur teknologi yang lebih maju.

“Tanpa skema seperti ini, industri berisiko mengalami pergerakan besar kembali ke segmen LCGC atau ICE konvensional karena lonjakan harga setelah insentif umum (mobil listrik) berakhir,” lanjutnya.

Yannes menilai agresivitas tersebut bukan semata soal harga murah, melainkan efisiensi menyeluruh, mulai dari manufaktur, rantai pasok, hingga lokalisasi komponen. Catatan Mureks menunjukkan, langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah.

Insentif Berbasis TKDN dan Kebangkitan Hybrid

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sendiri telah mencanangkan skema insentif baru yang berbasis Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), standar emisi, dan batasan harga. Kebijakan ini bertujuan untuk menciptakan subsidi yang lebih tepat guna dan mendorong para pabrikan untuk melakukan manufaktur lokal jika hendak menerima relaksasi, sehingga industri otomotif secara keseluruhan dapat membaik.

Dalam konteks ini, Yannes turut melihat potensi HEV menjadi teknologi yang paling diuntungkan pada tahun 2026. Mobil hybrid dinilai mampu menjawab kebutuhan konsumen rasional, khususnya di luar kota besar dan di luar Pulau Jawa, tanpa memunculkan kekhawatiran soal jarak tempuh atau range anxiety.

“Antara kebangkitan ICE, LCGC, dan HEV, HEV paling diuntungkan sebagai jembatannya karena ia tidak memicu range anxiety untuk area luar kota besar dan di luar Jawa,” jelas Yannes.

Sementara itu, kendaraan listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) diperkirakan akan tumbuh lebih selektif, dengan fokus pada model produksi lokal yang memenuhi ambang batas TKDN. Adapun plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) cenderung bertahan di segmen premium.

Dengan tekanan harga yang meningkat dan daya beli kelas menengah yang belum pulih sepenuhnya, Yannes menilai persaingan antar merek akan semakin ketat. Dalam kondisi tersebut, perang harga dari merek China menjadi salah satu faktor kunci yang menjaga pasar tetap bergerak maju, bukan kembali ke titik awal.

Situasi ini menegaskan bahwa arah pasar otomotif 2026 tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh strategi pemain global dalam membaca kondisi konsumen Indonesia yang semakin rasional dan sensitif terhadap harga.

Mureks