Dunia kecerdasan buatan (AI) terus bergerak dengan kecepatan luar biasa, namun laju inovasi ini turut membawa serangkaian tantangan baru yang kompleks. Menanggapi dinamika tersebut, CEO OpenAI, Sam Altman, secara resmi mengumumkan pencarian sosok pemimpin untuk mengisi posisi strategis Head of Preparedness.
Langkah ini, seperti dikutip dari Techradar pada Senin (5/1/2026), diambil sebagai respons terhadap perkembangan pesat model AI yang kini mulai memicu risiko nyata yang sebelumnya belum terbayangkan. OpenAI, raksasa di balik ChatGPT, tidak tanggung-tanggung dalam memberikan apresiasi finansial.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Perusahaan menawarkan paket gaji fantastis mencapai $555.000 atau sekitar Rp8,7 miliar per tahun, lengkap dengan skema kepemilikan saham bagi kandidat yang terpilih. Namun, di balik angka yang menggiurkan tersebut, Sam Altman memberikan peringatan keras bahwa peran ini bukanlah pekerjaan kantoran biasa, melainkan sebuah posisi dengan tingkat stres tinggi yang menuntut kesiapan mental baja.
Tanggung jawab utama dari sang “Penjaga Gerbang” ini adalah membedah potensi penyalahgunaan model AI tercanggih oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Sosok ini nantinya akan menjadi kompas dalam pengambilan keputusan strategis terkait aspek keselamatan, sekaligus memastikan seluruh ekosistem OpenAI tetap kokoh dari berbagai ancaman. Fokusnya jelas untuk meminimalisir risiko seefektif mungkin agar teknologi ini tetap menjadi kawan, bukan lawan bagi kemanusiaan.
Urgensi posisi ini semakin terasa setelah Altman membagikan “pratinjau” mengenai dampak kesehatan mental yang berkaitan dengan penggunaan model AI pada tahun 2025. Mureks mencatat bahwa OpenAI bahkan secara terbuka mengakui adanya insiden fatal yang dikaitkan dengan interaksi pengguna melalui ChatGPT. Kejadian tersebut sebelumnya sempat memaksa perusahaan untuk membatalkan pembaruan GPT-4o guna mencegah penguatan perilaku berbahaya pada pengguna, sebuah bukti nyata bahwa teknologi ini memiliki sisi gelap yang perlu diawasi ketat.
Dalam visi besarnya, Altman menegaskan bahwa dunia kini membutuhkan pemahaman yang lebih dalam untuk mengukur sejauh mana sebuah kemampuan AI dapat disalahgunakan. Tujuannya adalah membatasi dampak negatif pada produk maupun lingkungan sosial secara luas, tanpa harus mengorbankan manfaat luar biasa yang ditawarkan AI.
Nantinya, pemimpin baru ini akan menakhodai tim kecil namun memiliki pengaruh besar dalam menjalankan kerangka kerja Preparedness Framework yang menjadi standar keamanan perusahaan. Jika menilik ke belakang, posisi krusial ini sempat mengalami dinamika kepemimpinan yang cukup cepat. Nama-nama besar seperti Aleksander Madry, Joaquin Quiñonero Candela, hingga Lilian Weng tercatat pernah memegang kendali keamanan di OpenAI sebelum akhirnya berpindah tanggung jawab. Transisi ini menunjukkan betapa dinamis dan menantangnya posisi Head of Preparedness dalam menjaga keseimbangan antara inovasi dan keamanan.
Meskipun OpenAI sempat diterpa kritik pedas dari mantan karyawannya yang menganggap perusahaan terlalu fokus pada sisi komersial dan ambisi AGI, langkah terbaru Altman ini seolah menjadi angin segar. Dengan tawaran gaji sultan dan fokus yang lebih tajam pada mitigasi risiko, OpenAI tampak sedang berusaha membuktikan bahwa mereka serius dalam menjaga etika pengembangan teknologi di tengah persaingan global yang kian memanas.






