Keuangan

Nikel Tembus US$17.000 per Ton, Lonjakan Harga Tertinggi dalam 15 Bulan Dipicu Pembatasan Pasokan Indonesia

Harga nikel dunia kembali mencatatkan rekor signifikan, menembus level US$17.000 per ton pada perdagangan Senin (5/1/2026). Capaian ini merupakan yang tertinggi dalam 15 bulan terakhir di Bursa Logam London (LME), setelah terakhir kali mencapai angka tersebut pada Oktober 2024.

Lonjakan harga nikel global yang melonjak hampir 20% dalam tiga minggu terakhir ini terjadi di tengah rencana pengurangan pasokan dari Indonesia, produsen nikel terbesar di dunia. Pemerintah Indonesia diketahui mengusulkan pemangkasan produksi nikel sebesar 34% dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Alasan Pembatasan Produksi Nikel

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa tren harga komoditas saat ini, termasuk nikel dan batu bara, berada di bawah tekanan akibat kelebihan pasokan di pasar global. Oleh karena itu, pihaknya akan berupaya menjaga pasokan dari Indonesia agar tidak membanjiri pasar, yang diharapkan dapat mendongkrak harga.

Selain pertimbangan harga, Bahlil juga menekankan bahwa pembatasan produksi bertujuan untuk mencegah penambangan cadangan dalam negeri secara berlebihan. Langkah ini juga untuk memastikan ketersediaan cadangan mineral dan batu bara untuk masa depan, sekaligus menertibkan perusahaan yang abai terhadap aturan lingkungan. Mureks mencatat bahwa kebijakan ini merupakan upaya terbaru pemerintah untuk mengekang kelebihan pasokan nikel sejak larangan ekspor bijih pada tahun 2020 yang memicu ekspansi besar-besaran sektor tambang nikel.

Tantangan dan Proyeksi Pasar

Meskipun ada upaya pembatasan produksi, pasar nikel masih menghadapi tantangan. Surplus yang berkepanjangan menyebabkan harga kontrak berjangka nikel lebih rendah dibandingkan logam dasar lainnya. Nornickel, perusahaan tambang asal Rusia, bahkan menaikkan perkiraan surplusnya untuk tahun depan menjadi 275.000 ton. Selain itu, stok nikel di LME meningkat lebih dari 93.000 ton, mencapai 255.000 ton sepanjang tahun lalu.

Dari sisi permintaan, tingkat pembelian baja tahan karat secara global yang rendah diimbangi oleh peningkatan penggunaan nikel dalam produksi kendaraan listrik. Ini menunjukkan adanya pergeseran pola permintaan yang signifikan.

Menurut data Refinitiv dalam jajak pendapat Reuters, analis memperkirakan harga nikel global rata-rata akan berada di level US$15.857 per ton pada tahun 2026, dengan median US$15.755 per ton. Proyeksi tertinggi mencapai US$18.000 per ton dan terendah US$14.193 per ton. Namun, perlu dicatat bahwa jajak pendapat ini dilakukan dan diperbarui pada 28 Oktober 2025, sebelum adanya kabar terkait pemangkasan produksi di Indonesia.

Mureks