Tren

Militer Suriah Perintahkan Warga Tinggalkan Aleppo, Bentrokan Sengit dengan Pasukan Kurdi Memanas

ALEPPO – Militer Suriah memerintahkan warga sipil untuk segera mengosongkan tiga lingkungan di Aleppo pada Kamis (8/1/2026). Perintah evakuasi ini dikeluarkan menyusul memanasnya pertempuran dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Amerika Serikat, menandai eskalasi konflik yang telah berlangsung tiga hari.

Pemerintah Suriah mendesak warga di Sheikh Maqsoud, Ashrafieh, dan Bani Zeid untuk meninggalkan wilayah tersebut pada siang hari. Koridor kemanusiaan dan tempat penampungan pengungsi telah disiapkan untuk memfasilitasi proses evakuasi.

Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Tentara Suriah menyatakan akan memulai operasi militer terhadap SDF setelah batas waktu evakuasi berakhir. Peta area spesifik yang perlu dikosongkan juga telah dirilis kepada publik.

Tak lama setelah batas waktu pukul 13.30 waktu setempat (1030 GMT) berakhir, penembakan dimulai oleh pemerintah Suriah, yang kemudian dibalas oleh SDF. Mureks mencatat bahwa eskalasi ini memperdalam keretakan antara pemerintah Suriah dan otoritas Kurdi.

Bentrokan ini menjadi yang paling sengit di Suriah sejak jatuhnya rezim Assad pada Desember 2024. Situasi ini memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas antara pemerintah Suriah dan otoritas Kurdi yang memiliki persenjataan lengkap dan menguasai hampir sepertiga wilayah timur laut Suriah.

Menurut direktorat urusan sosial dan tenaga kerja di Aleppo, sekitar 140.000 warga sipil telah mengungsi sejak pertempuran dimulai pada Selasa (6/1/2026). Korban jiwa juga berjatuhan, dengan setidaknya delapan warga sipil tewas di lingkungan mayoritas Kurdi, serta tujuh warga sipil dan satu tentara tewas di daerah yang dikuasai pemerintah. Puluhan lainnya dilaporkan terluka di kedua belah pihak.

Saat ini, SDF menguasai lingkungan mayoritas Kurdi di Aleppo. Namun, pada Rabu (7/1/2026), pemerintah Suriah mengumumkan niatnya untuk mengusir pejuang Kurdi dari seluruh kota Aleppo. Langkah ini berpotensi memperburuk ketegangan antara pemerintah dan blok Kurdi di timur laut.

SDF membantah memiliki pejuang di lingkungan tersebut, dan menyebut mereka sebagai “pasukan pertahanan diri lokal”.

Kedua belah pihak saling menuduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Pemerintah Suriah mengklaim SDF menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia, tidak mengizinkan mereka mengungsi, dan menembaki mereka saat mencoba melarikan diri.

Sebaliknya, SDF membagikan video yang mereka klaim menunjukkan pasukan pemerintah menembaki sebuah rumah sakit di Aleppo, serta apa yang mereka sebut sebagai “penembakan artileri brutal” yang menargetkan daerah pemukiman padat penduduk di Sheikh Maqsoud.

Banyak pengungsi mencari perlindungan di provinsi lain di Suriah, sementara sebagian lainnya, yang tidak memiliki sarana untuk bepergian, berlindung di masjid dan gereja terdekat.

Akar Konflik: Status SDF Pasca-Assad

Akar konflik ini adalah perselisihan yang terus berlanjut mengenai status SDF di Suriah pasca-rezim Assad. SDF menguasai hampir sepertiga wilayah negara itu dan telah menjadi mitra utama pasukan AS dalam misi anti-ISIS di Suriah.

Berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani pada 10 Maret 2025, SDF seharusnya sepenuhnya terintegrasi ke dalam tentara Suriah yang baru. Namun, perbedaan pendapat mengenai bagaimana tepatnya integrasi tersebut akan berlangsung telah menghambat kemajuan.

SDF berupaya memperoleh otonomi di bawah pemerintahan. Keberanian mereka untuk mempertahankan persenjataan semakin meningkat setelah insiden pembantaian di pesisir Suriah dan daerah mayoritas Druze, di mana beberapa pasukan yang didukung pemerintah melakukan pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga sipil.

Permusuhan yang sengit juga terjadi antara beberapa faksi yang membentuk tentara Suriah yang baru dengan SDF, mengingat mereka telah berperang selama bertahun-tahun.

Pertemuan antara Damaskus dan SDF pada Minggu (4/1/2026) tidak menghasilkan kemajuan baru dalam pelaksanaan perjanjian tersebut, meskipun tenggat waktu telah berakhir. Ketidakpercayaan semakin meningkat di kedua belah pihak, diperparah oleh pertempuran dan kurangnya kemajuan dalam negosiasi.

Pendukung pemerintah menunjukkan kemarahan ketika gambar-gambar warga sipil yang diduga tewas akibat penembakan SDF beredar di media sosial. Sementara itu, ribuan demonstran berkumpul di Qamishli, ibu kota de facto wilayah yang dikuasai SDF di timur laut Suriah, untuk menunjukkan solidaritas dengan SDF.

Mureks