Nasional

Merawat Persatuan Bangsa: Adab Publik, Niat Jernih, dan Kompas Al-Quran sebagai Fondasi Kehidupan Madani

Indonesia, sebuah bangsa yang lahir dari keberagaman, senantiasa dihadapkan pada tantangan untuk merawat persatuan. Arief Sulistyanto, seorang pemerhati kepemimpinan, etika publik, dan refleksi spiritualitas sosial, menyoroti bahwa persatuan bukanlah sekadar slogan, melainkan modal utama yang harus dijaga oleh setiap penghuninya.

Persatuan: Simpul Keberagaman, Bukan Keseragaman

Bangsa ini terbentuk dari perjumpaan berbagai bahasa, suku, adat, keyakinan, dan pengalaman sejarah. Sejak awal, Indonesia belajar berdiri dengan merangkai perbedaan, bukan meniadakannya. Persatuan menjadi simpul yang menyatukan keragaman, memberikan arah bersama tanpa harus menyeragamkan. Dari simpul inilah sebuah bangsa menemukan keberaniannya.

Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Di era digital yang serba cepat ini, teknologi memang menyatukan pandangan mata, namun sering kali mengaburkan pandangan kalbu. Ruang publik dipenuhi suara, tetapi tidak selalu dipenuhi makna. Ironisnya, di tengah ribuan bahasa daerah, belakangan justru bahasa saling curiga makin fasih dipakai. Bahasa ini, menurut Arief Sulistyanto, tidak lahir dari pencarian kebenaran, melainkan dari kegelisahan yang dipelihara.

Pada titik ini, persatuan kerap disalahpahami sebagai keseragaman sikap. Padahal, sejatinya persatuan adalah kesanggupan untuk tetap bersama di tengah perbedaan. Ia tidak menuntut kesamaan pikiran, melainkan kematangan adab. Persatuan mengajarkan bagaimana berbeda tanpa saling melukai, serta kesediaan menahan diri ketika emosi menguasai ruang publik.

Al-Qur’an memberi isyarat bahwa manusia pernah berada dalam satu kesatuan, lalu perselisihan muncul ketika dorongan-dorongan batin mengambil alih kompas nilai. Pelajaran ini bukan celaan atas perbedaan, melainkan peringatan agar perbedaan tidak kehilangan penuntunnya. Kehidupan madani tidak dibangun oleh kerasnya klaim kebenaran, melainkan oleh adab publik yang terjaga, niat yang jernih, dan kesetiaan pada nilai-nilai kebenaran yang melampaui kepentingan sesaat.

Persatuan, pada akhirnya, adalah amanah yang rapuh. Ia tidak runtuh karena perbedaan, tetapi karena kecurigaan yang dibiarkan tumbuh tanpa kendali. Bangsa yang arif tidak akan mengorbankan persatuan demi kemenangan sesaat, melainkan merawatnya perlahan dengan kesabaran, adab, dan kompas nilai yang tidak goyah, agar keberagaman tetap menjadi rahmat.

Kilas Sejarah: Dari Fragmentasi Menuju Sumpah Pemuda

Sebelum nama “Indonesia” menjadi rumah bersama, Nusantara adalah gugusan ruang yang berjalan dengan iramanya sendiri. Kerajaan-kerajaan berdiri, suku-suku tumbuh, dan bahasa-bahasa hidup, namun belum merasa perlu menyebut dirinya “kita”. Kekayaan alam dan letak strategis membuat bangsa-bangsa asing datang, mula-mula sebagai tamu, lalu pedagang, kemudian penguasa.

Penjajahan memahami satu hal sederhana: bangsa yang terpecah lebih mudah dikendalikan. Politik adu domba tidak selalu berupa senjata, sering kali berupa bisik-bisik, perjanjian timpang, pemihakan yang dibuat-buat, serta rasa curiga yang ditanam perlahan. Ketika curiga menjadi kebiasaan, persatuan menjadi barang mahal.

Kesadaran kebangsaan kemudian tumbuh seperti fajar. Tahun 1908, Boedi Oetomo hadir sebagai penanda semangat baru untuk melihat diri sebagai bagian dari bangunan yang lebih besar. Perjalanan itu menemukan momentum tegas ketika para pemuda dari latar beragam menyadari bahwa jalan menuju kemerdekaan tidak mungkin ditempuh dengan langkah yang saling menyilang.

Sumpah Pemuda 1928 adalah puncak kejernihan itu: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa—Indonesia. Pernyataan ini bukan sekadar deklarasi, melainkan latihan batin kolektif untuk menahan ego kedaerahan, merelakan sebagian kepentingan sempit, dan memilih sesuatu yang lebih luas. Bahasa Indonesia menjadi simbol indah dari keputusan tersebut, disepakati agar semua dapat berbicara tanpa merasa dikecilkan, sebuah adab kebangsaan yang diwujudkan dalam kata.

Di sinilah persatuan menunjukkan wataknya yang sejati. Ia tidak datang dari hilangnya perbedaan, melainkan dari tumbuhnya kesadaran untuk mengikat perbedaan dengan tujuan bersama. Kemerdekaan kemudian menjadi buah dari proses panjang itu: kemenangan melawan penjajah dan kemenangan melawan kecenderungan lama untuk saling mencurigai. Sejarah mengajarkan, ketika bangsa ini memilih “kita”, adu domba kehilangan panggungnya.

Pelajaran itu terasa sangat relevan hari ini. Jika dahulu politik adu domba datang dari luar, kini ia bisa lahir dari dalam dengan cara yang lebih halus, cepat, dan sulit dilacak. Namun hakikatnya sama: merusak simpul kebersamaan. Oleh karena itu, merawat persatuan bukan sekadar mengenang Sumpah Pemuda sebagai seremoni tahunan, melainkan menghidupkan kembali ruhnya: menjaga adab kebangsaan, meluruskan niat, serta memegang kompas nilai yang tidak mudah dibeli oleh kepentingan sesaat.

Diagnosis Masa Kini: Ketika Perselisihan Berubah Menjadi Industri

Zaman ini memiliki cara halus untuk membuat orang merasa dekat, sambil perlahan menjauhkan. Layar menyala di tangan, kabar datang tanpa mengetuk, namun di balik riuh itu, kesabaran untuk mendengar, keluasan untuk memahami, dan kelapangan untuk berbeda tanpa saling curiga, pelan-pelan menipis.

Demokrasi memang membuka ruang kompetisi, yang wajar dan sehat selama dituntun adab. Masalah muncul ketika kompetisi kehilangan pagar. Perselisihan tidak lagi sekadar beda pandang, melainkan berubah menjadi barang dagangan. Ada yang merawat panas agar tak padam, ada yang meniup bara agar membesar, dan ada yang memanen keributan menjadi modal. Perlahan, kita menyaksikan lahirnya kebiasaan baru: sebagian orang menjadi “ahli” dalam membelah, bukan dalam menyambung.

Di ruang publik, kata-kata sering tidak dipakai untuk menjernihkan, melainkan untuk menandai kubu. Data tidak dicari untuk memahami, melainkan untuk membenarkan. Orang tidak diajak berdialog, tetapi didorong memilih sisi. Satu kalimat dipotong, satu potongan video disebar, satu prasangka dibesarkan. Kebenaran menjadi tamu yang jarang diundang, kecuali bila membawa keuntungan. Mureks mencatat bahwa algoritma teknologi menyukai reaksi, membuat marah lebih cepat menyebar daripada tabayyun, dan curiga lebih gampang dibagikan daripada klarifikasi.

Di sisi lain, sumber-sumber daya yang semestinya menjadi jalan kesejahteraan sering berubah menjadi gelanggang rebutan. Ketika kepentingan pribadi dan kelompok menjadi kompas, cara-cara curang terasa seperti jalan pintas. Kebenaran dipinjam saat perlu, lalu dikembalikan dalam keadaan rusak. Kepercayaan publik dipakai seperti alat: berguna saat kampanye, merepotkan saat diminta konsistensi. Pada akhirnya, yang terkikis bukan hanya harmoni, tetapi juga rasa adil. Padahal, persatuan tidak bisa lama tinggal di rumah yang lantainya penuh luka.

Akar masalahnya bukan perbedaan itu sendiri, melainkan ketika moralitas memudar, amanah kehilangan makna, dan orang merasa bebas mengkhianati kebenaran tanpa rasa takut. Perselisihan menjadi bencana sosial bukan karena banyak pendapat, melainkan karena adab runtuh, niat keruh, lalu kompas nilai dibengkokkan sesuai arah angin.

Jika perselisihan sudah dijadikan industri, bangsa ini sebenarnya sedang diuji: apakah kita mau terus menjadi pasar bagi keributan, atau kembali menjadi rumah bagi kebersamaan. Pilihannya tidak selalu tampak dramatis, tetapi dampaknya panjang. Yang satu membuat kita ramai tetapi retak. Yang lain menuntut kesabaran, tetapi menyelamatkan masa depan.

Lensa QS. Yūnus [10]: 19—Perbedaan Tidak Berbahaya, Kompas yang Hilanglah yang Mematikan

Sebuah ayat Al-Qur’an, QS. Yūnus [10]: 19, mengingatkan bahwa manusia pernah berada dalam satu kesatuan, lalu perselisihan muncul ketika dorongan-dorongan di dalam diri menguasai arah. Pesannya halus namun tajam: perpecahan tidak selalu lahir karena kurangnya informasi, melainkan karena bergesernya niat, runtuhnya adab, dan melemahnya ketundukan pada kebenaran.

Ayat ini tidak menuntut semua orang berpikir sama. Al-Qur’an tidak menghapus perbedaan sebagai sunnatullah. Perbedaan akan selalu ada, baik dalam ijtihad, pandangan, strategi, bahkan dalam cara membaca realitas. Bukan banyaknya ragam yang diuji, melainkan cara kita menampung ragam itu di dalam ruang bersama. Perbedaan menjadi rahmat ketika adab menjaga lidah, niat menjaga langkah, dan kebenaran dijadikan tujuan. Perbedaan berubah menjadi petaka ketika adab lepas, niat digeser, dan kebenaran dipakai sekadar alat.

Di sinilah satu kalimat perlu dipegang sebagai pasak: keutuhan umat tidak dibangun oleh seragamnya pendapat, melainkan oleh kuatnya adab, jernihnya niat, dan ketundukan bersama kepada Al-Qur’an sebagai kompas. Kalimat ini bukan hiasan retorika, melainkan peta sederhana untuk menuntun bangsa yang sedang mudah terseret arus. Seragam pendapat mungkin tampak rapi, tetapi sering lahir dari takut dan tekanan. Adab, niat, dan kompas nilai justru melahirkan keteguhan tanpa memaksa keseragaman.

QS. Yūnus [10]: 19 juga memberi keberanian untuk menamai akar masalah. Menurut Arief Sulistyanto, yang memecah kita bukan fakta, melainkan cara memperlakukan fakta. Bukan perbedaan pilihan, melainkan cara memperlakukan yang berbeda pilihan. Bukan kritik, melainkan cara kritik disampaikan: apakah ia menuntun, atau justru menghina. Bukan pembelaan, melainkan cara membela: apakah ia berangkat dari kebenaran, atau dari fanatisme.

Bangsa kita, seperti umat manusia dalam ayat itu, tidak kekurangan kecerdasan. Kita sering kekurangan ketenangan. Kita tidak selalu miskin data, tetapi sering miskin adab. Kita tidak selalu kehilangan tokoh, tetapi sering kehilangan arah. Ketika adab runtuh, ruang publik menjadi arena. Ketika niat keruh, kebijakan menjadi transaksi. Ketika kompas nilai dipatahkan, kebenaran menjadi barang yang bisa dinegosiasikan.

Kehidupan madani, pada akhirnya, adalah keberhasilan menjaga tiga hal itu secara kolektif: adab publik agar perbedaan tidak menjadi luka, kejernihan niat agar kekuasaan tetap amanah, serta kompas Al-Qur’an agar kebenaran tidak bergantung pada siapa yang bersuara paling keras. Tanpa tiga hal itu, polarisasi akan terus hidup, karena ia mendapat makanan setiap hari: prasangka yang dipelihara, emosi yang dibakar, serta kepentingan yang menyamar menjadi nilai.

QS. Yūnus [10]: 19 tidak mengajak kita bermimpi tentang bangsa tanpa perbedaan. Ayat itu mengajak kita lebih dewasa: merawat ruang bersama agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan. Jika bangsa ini ingin utuh, yang pertama-tama perlu disatukan bukan pendapat, melainkan adab. Bukan pilihan, melainkan niat. Bukan slogan, melainkan kompas.

Tiga Penyakit yang Merusak Persatuan

Persatuan itu seperti anyaman, tampak kuat dari kejauhan, tetapi sesungguhnya bertahan karena banyak serat kecil saling mengikat dengan sabar. Kerusakan besar sering berawal dari retak yang dianggap sepele. Dalam kehidupan berbangsa, retak itu biasanya tumbuh dari tiga “penyakit” yang pelan-pelan melemahkan simpul kebersamaan.

1. Runtuhnya Adab Publik

Adab adalah pagar halus yang membuat perbedaan tetap menjadi ruang belajar, bukan arena saling menjatuhkan. Ketika adab melemah, yang muncul bukan lagi dialog, melainkan duel. Kata-kata kehilangan malu, sindiran menjadi hiburan, ejekan dianggap keberanian. Orang merasa menang ketika berhasil mempermalukan, bukan ketika berhasil menjernihkan. Dalam keadaan seperti ini, ruang publik bising, tetapi miskin kebijaksanaan. Persatuan pun kelelahan, sebab ia dipaksa menanggung beban emosi yang tidak selesai.

Al-Qur’an mengajarkan batas yang tegas: tidak merendahkan, tidak mencela, tidak menggunjing, tidak memelihara prasangka sebagai kebiasaan (Al-Ḥujurāt [49]: 11–12). Adab bukan aksesori; adab adalah syarat minimal agar bangsa dapat tetap duduk di meja yang sama.

2. Keruhnya Niat Kolektif

Niat itu seperti air di hulu. Jika hulu keruh, hilir tidak mungkin jernih. Ketika niat di ruang publik bergeser dari amanah menjadi hasrat, dari pengabdian menjadi penguasaan, dari pelayanan menjadi kepemilikan, maka persatuan tidak lagi diperlakukan sebagai tujuan, melainkan sebagai alat. Pada fase ini, kata “rakyat” mudah diucapkan, tetapi sulit dibuktikan. Simbol kebaikan dipajang, sementara substansi kebaikan ditunda. Persatuan dipeluk saat menguntungkan, lalu dilepas saat mulai menuntut tanggung jawab.

Al-Qur’an memerintahkan agar amanah ditunaikan dan keputusan ditegakkan dengan adil (An-Nisā’ [4]: 58). Niat yang jernih melahirkan keberanian untuk adil meski tidak populer, serta kesanggupan menahan diri meski punya kuasa.

3. Patahnya Kompas Kebenaran

Ini yang paling berbahaya, karena ia membuat bangsa berjalan, tetapi tersesat. Ketika kebenaran diperlakukan seperti barang dagangan, ia bisa dijual murah pada situasi yang tepat. Fakta diolah agar cocok dengan kepentingan. Kesalahan diberi baju pembenaran. Kebatilan dipoles agar tampak wajar. Pada titik ini, polarisasi menemukan pasokan tanpa henti, sebab setiap kubu merasa punya “versi kebenaran” yang boleh memukul kubu lain.

Al-Qur’an memperingatkan agar kebenaran tidak dicampuradukkan dengan kebatilan, serta kebenaran tidak disembunyikan padahal diketahui (Al-Baqarah [2]: 42). Kompas kebenaran bukan milik satu kelompok; ia milik nurani yang tunduk pada nilai.

Tiga penyakit ini saling menguatkan. Adab yang runtuh membuat fitnah mudah tumbuh. Niat yang keruh membuat fitnah terasa berguna. Kompas yang patah membuat fitnah terasa benar. Persatuan pun tidak runtuh karena perbedaan, melainkan karena “cara hidup bersama” kehilangan kehormatannya.

Jika bangsa ini ingin kembali utuh, yang perlu disembuhkan bukan hanya suasana, tetapi sumber sakitnya: menegakkan kembali adab publik, meluruskan niat dalam kuasa dan kebijakan, lalu mengembalikan kebenaran ke tempatnya—sebagai kompas, bukan sebagai komoditas.

Tiga Resep untuk Merawat Persatuan

Setelah mengenali penyakitnya, kita perlu mengingat satu hal sederhana: persatuan tidak tumbuh dari seruan yang keras, melainkan dari kebiasaan yang benar. Ia dirawat seperti taman—pelan, tekun, dan setia pada musim. Kehidupan madani tidak hadir karena kita sering mengucapkan kata “persatuan”, tetapi karena kita membangun tiga kebiasaan pokok yang membuat persatuan punya tempat tinggal yang layak.

1. Menegakkan Etika Persaudaraan Kebangsaan

Etika ini bukan basa-basi. Ia adalah cara kita memperlakukan sesama anak bangsa ketika berbeda pilihan, tafsir, atau sikap. Al-Qur’an mengajarkan disiplin yang sangat modern: tabayyun—memeriksa sebelum menyebarkan (Al-Ḥujurāt [49]: 6). Di era banjir informasi, tabayyun adalah bentuk ibadah sosial. Ia menahan tangan sebelum menekan “kirim”, menahan lidah sebelum memvonis, menahan kalbu sebelum menghakimi.

Etika persaudaraan juga menuntut kita menjaga martabat orang lain, sebab persatuan tidak mungkin hidup di rumah yang dipenuhi penghinaan. Perbedaan perlu dikelola seperti percakapan orang dewasa: tegas pada prinsip, lembut pada manusia. Jika bangsa ini ingin waras, kita harus berhenti menjadikan prasangka sebagai bahan bakar.

2. Mendisiplinkan Amanah dalam Kekuasaan dan Ekonomi

Persatuan sering patah bukan karena rakyat suka bertengkar, melainkan karena rakyat lelah merasa dipermainkan. Ketika kebijakan terasa timpang, hukum terasa tajam ke bawah tumpul ke atas, dan sumber daya dikuras tanpa pemulihan, rasa adil menghilang. Pada saat rasa adil menghilang, persatuan menjadi rapuh.

Al-Qur’an memerintahkan keadilan, bahkan ketika berhadapan dengan pihak yang tidak disukai (Al-Mā’idah [5]: 8). Keadilan bukan sekadar norma hukum, tetapi jantung kehidupan bersama. Amanah menuntut pemimpin dan pengelola kebijakan menolak cara-cara curang yang merusak kepercayaan publik. Kepercayaan itu seperti kaca: sekali retak, bisa disusun kembali, tetapi bekasnya selalu terlihat. Karena itu, disiplin amanah bukan slogan moral; ia strategi peradaban.

3. Mengembalikan Kompas Bersama kepada Nilai yang Tidak Bisa Ditawar

Bangsa yang besar memerlukan titik temu yang lebih tinggi daripada sekadar kepentingan jangka pendek. Kompas itu bukan milik satu kubu, melainkan nilai kebenaran yang disepakati, dijaga, dan dipertanggungjawabkan. Dalam bingkai refleksi ini, Al-Qur’an tidak diposisikan sebagai stiker identitas, melainkan sebagai sumber nilai: adil, jujur, amanah, menjauhi fitnah, menjaga kehormatan manusia.

Al-Qur’an mengingatkan agar kita tidak mengikuti sesuatu tanpa ilmu (Al-Isrā’ [17]: 36), sebab kebohongan yang diulang-ulang bisa tampak seperti kebenaran. Al-Qur’an juga memerintahkan menyeru dengan hikmah (An-Naḥl [16]: 125), sebab kebenaran yang disampaikan tanpa adab justru melahirkan penolakan. Kompas nilai inilah yang menuntun kehidupan madani: keras pada kebatilan, lembut pada manusia; tegas pada prinsip, teduh pada pergaulan.

Tiga resep ini tidak membutuhkan panggung besar untuk dimulai. Ia bisa dimulai dari cara kita berkomentar, menanggapi berita, memilih kata, dan mengelola kuasa sekecil apa pun. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar; yang dibutuhkan adalah orang yang bersedia menjaga adab ketika sedang punya alasan untuk marah.

Persatuan yang dirawat dengan adab, niat yang jernih, dan kompas kebenaran akan terasa seperti rumah: tidak selalu sunyi, tetapi selalu aman. Tidak selalu sepakat, tetapi tetap saling menghormati. Tidak selalu mudah, tetapi selalu punya arah.

Penutup: Persatuan Sebagai Amanah Sejarah dan Amanah Langit

Pada akhirnya, persatuan tidak pernah lahir dari kebetulan. Persatuan adalah buah dari kesadaran dan pengorbanan. Sejarah bangsa ini menyimpan pelajaran yang tenang namun tegas: kita pernah menang melawan politik adu domba karena memilih menjadi “kita”. Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa yang diperingati, melainkan keputusan batin kolektif—keputusan untuk menaruh masa depan di atas ego, menaruh kebersamaan di atas kemenangan sesaat.

Namun zaman berubah, cara adu domba ikut berubah. Dulu ia datang dengan wajah asing dan kekuasaan senjata. Hari ini ia sering datang sebagai percakapan yang tampak biasa: potongan kabar, bisik-bisik opini, klaim yang dirapikan, prasangka yang dibiakkan, emosi yang dijadikan menu harian. Ia bekerja cepat, sering tanpa suara, lalu diam-diam merenggangkan simpul-simpul kebangsaan. Dalam keadaan seperti ini, merawat persatuan bukan pekerjaan seremoni. Ia pekerjaan sunyi yang menuntut kedewasaan.

QS. Yūnus [10]: 19 memberi kita kunci sederhana: perbedaan tidak harus menjadi api. Api biasanya muncul ketika kompas nilai hilang. Keutuhan tidak dibangun oleh seragamnya pendapat, melainkan oleh kuatnya adab, jernihnya niat, serta ketundukan pada kebenaran sebagai penuntun bersama. Kehidupan madani berdiri bukan karena semua orang sepakat, melainkan karena semua orang sepakat menjaga kehormatan ruang bersama.

Persatuan Indonesia akan selalu diuji, sebab bangsa besar selalu menjadi medan tarik-menarik kepentingan. Ujian itu tidak perlu kita takuti. Yang perlu kita takutkan adalah ketika adab dianggap lemah, ketika niat dibiarkan keruh, ketika kebenaran diperdagangkan. Pada saat itu, kita tidak sedang kalah oleh lawan politik; kita sedang kalah oleh diri sendiri.

Karena itu, mari kita mulai dari yang paling dekat: merapikan bahasa, menata cara berbeda, menahan diri dari fitnah yang menggoda, membiasakan tabayyun yang menenangkan, memuliakan amanah sekecil apa pun, serta menegakkan keadilan sebisanya. Persatuan bukan hanya proyek negara; ia proyek kalbu. Ia tidak cukup dijaga oleh undang-undang, tetapi perlu dirawat oleh adab.

Bangsa ini memiliki banyak perbedaan, itu benar. Namun bangsa ini juga memiliki satu rumah yang sama. Rumah itu tidak akan kokoh bila penghuninya saling mencurigai. Rumah itu akan tegak bila penghuninya saling menjaga. Jika kita ingin Indonesia tetap utuh, kita perlu mengembalikan persatuan ke tempatnya yang mulia: bukan sebagai alat politik, melainkan sebagai amanah sejarah—dan, lebih dari itu, amanah langit. Wallahualam bishawab.

Mureks