Menteri luar negeri dari sejumlah negara Arab-Muslim secara serentak menyoroti kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza, Palestina, yang kian memburuk akibat cuaca ekstrem. Hujan lebat dan badai yang melanda wilayah tersebut telah memperparah krisis yang sudah ada, mendorong para menteri mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak.
Para menteri dari Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, Pakistan, Turki, Arab Saudi, Qatar, dan Mesir menyampaikan kekhawatiran mendalam. Mereka menyoroti bahwa cuaca buruk di Gaza diperparah oleh kurangnya akses kemanusiaan yang memadai serta lambatnya material penting memasuki wilayah tersebut.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Kondisi ini menyebabkan banjir di kamp-kamp pengungsian, kerusakan tenda, serta robohnya bangunan yang tak lagi mampu memberikan perlindungan. Para menteri menegaskan, “Kamp-kamp terendam banjir, tenda-tenda rusak, runtuhnya bangunan-bangunan dan paparan suhu dingin disertai kekurangan gizi telah secara signifikan meningkatkan risiko bagi kehidupan warga sipil, termasuk akibat wabah penyakit, terutama di kalangan anak-anak, perempuan, lansia, dan individu dengan kerentanan medis.”
Menanggapi situasi tersebut, para menteri luar negeri mendesak Israel untuk memastikan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga nirlaba internasional dapat beroperasi di Gaza dan Tepi Barat secara berkelanjutan dan tanpa batasan. Mereka menekankan pentingnya upaya total lembaga-lembaga tersebut dalam memberikan bantuan untuk warga Palestina.
“Setiap upaya untuk menghambat kemampuan mereka dalam beroperasi tidak bisa diterima,” demikian pernyataan para menteri yang dirilis Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI).
Selain itu, para menteri luar negeri menegaskan kembali dukungan penuh mereka terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 2903 serta Rencana Komprehensif Presiden AS Donald Trump mengenai perdamaian di Gaza. Mereka menyatakan niat untuk berkontribusi dalam memastikan keberlanjutan gencatan senjata, mengakhiri perang di Gaza, menjamin kehidupan bermartabat bagi rakyat Palestina, serta mewujudkan cita-cita pendirian negara Palestina.
“Dalam konteks ini, para menteri luar negeri menekankan perlunya segera memulai dan meningkatkan upaya pemulihan awal, termasuk penyediaan tempat tinggal yang tahan lama dan layak untuk melindungi penduduk dari kondisi musim dingin,” lanjut pernyataan tersebut.
Para menteri juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk menegakkan tanggung jawab hukum dan moralnya. Mereka mendesak agar tekanan diberikan kepada Israel, sebagai kekuatan pendudukan, untuk segera mencabut pembatasan masuk dan distribusi pasokan penting.
“Para menteri menyerukan kepada komunitas internasional untuk menegakkan tanggung jawab hukum dan moralnya sekaligus menekan Israel, sebagai kekuatan pendudukan, untuk segera mencabut pembatasan masuk dan distribusi pasokan penting termasuk tenda, bahan tempat tinggal, bantuan medis, air bersih, bahan bakar, dan dukungan sanitasi,” tegas pernyataan bersama tersebut.
Seruan untuk bantuan kemanusiaan agar dapat segera masuk sepenuhnya dan tanpa hambatan ke Jalur Gaza kembali digaungkan. Mereka juga mendesak perbaikan infrastruktur dan rumah sakit di Gaza, serta pembukaan jalur perbatasan Rafah sesuai rencana yang didorong Presiden Trump.
Sejak beberapa waktu terakhir, Gaza diterjang musim dingin dan hujan lebat yang membanjiri area pengungsian warga Palestina. Hujan deras ini memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah mengkhawatirkan, dengan bangunan-bangunan rusak akibat perang ikut roboh, menyisakan sedikit tempat berlindung bagi warga.
Mureks mencatat bahwa para dokter telah mewanti-wanti kondisi ini akan diikuti dengan kemunculan wabah penyakit, mengingat buruknya sanitasi di Gaza. Warga juga berpotensi semakin mengalami kekurangan gizi karena sulitnya mengakses air bersih dan makanan. Berbagai media telah melaporkan bahwa anak-anak bayi dan kelompok rentan banyak meninggal dunia akibat situasi ini.






