Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menembus level 10.000 pada akhir 2026. Keyakinan ini didasari oleh fundamental ekonomi yang membaik dan semakin sinkronnya kebijakan pemerintah.
Purbaya bahkan meyakini bahwa target tersebut bisa terlampaui. “10.000 (IHSG) tahun depan? Oh lebih lah. Lebih kalau tahun depan ya,” kata Purbaya, dikutip pada Kamis (1/1/2026).
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Menurutnya, secara fundamental, IHSG seharusnya sudah berada di level yang lebih tinggi pada 2025. Namun, pergerakan indeks sempat tertahan oleh berbagai dinamika kebijakan serta sentimen pasar yang berkembang sepanjang tahun.
Pada penutupan perdagangan akhir 2025, IHSG ditutup menguat tipis 2,68 poin atau 0,03 persen ke level 8.646,94. Capaian ini belum sesuai dengan proyeksi awal Purbaya yang sebelumnya memperkirakan IHSG mampu menembus level 9.000.
“Harusnya kalau kemarin desainnya sesuai dengan desain saya, sekarang sudah 9.000. Tapi kan sudah itu sedikit, ke depan dengan kebijakan semakin sinkron dan ekonominya semakin bagus, harusnya IHSG akan naik lebih cepat,” ujarnya, mencerminkan keyakinan pemerintah terhadap prospek pasar modal Indonesia dalam jangka menengah.
IHSG Cetak Rekor Tertinggi 24 Kali pada 2025
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH) sebanyak 24 kali sepanjang 2025. Rekor terakhir terjadi pada 8 Desember 2025, menandai performa positif pasar modal nasional sepanjang tahun.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menyampaikan bahwa ATH terakhir IHSG tercatat pada level 8.710,69 pada perdagangan 8 Desember lalu. Pada saat yang bersamaan, nilai kapitalisasi pasar juga menembus Rp 16.000 triliun.
“All-Time High kita tercapai di 8 Desember dengan nilai 8.711, market cap kita tembus Rp 16.000 triliun. Berapa kali all time high selama setahun ini? 24 kali,” ungkap Iman dalam konferensi pers, Selasa (30/12/2025).
Menurut Iman, capaian tersebut tidak terlepas dari sinergi antara BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Self-Regulatory Organization (SRO) pasar modal. Selain itu, stabilitas dan dinamika perekonomian, baik domestik maupun global, turut mendukung kinerja positif IHSG.
Jumlah Emiten dan Investor Pasar Modal Terus Bertumbuh
Hingga akhir 2025, jumlah perusahaan tercatat di BEI telah mencapai 956 emiten dengan total penghimpunan dana sebesar Rp 278 triliun. Dari jumlah tersebut, terdapat 26 perusahaan baru yang melantai di bursa dengan nilai dana yang berhasil dihimpun sekitar Rp 28 triliun.
Iman juga menyampaikan bahwa sepanjang tahun ini terdapat enam perusahaan mercusuar atau lighthouse company baru yang tercatat di BEI. Sementara dari sisi partisipasi investor, jumlah investor pasar modal telah melampaui 20 juta.
Mureks mencatat bahwa pertumbuhan investor ini menunjukkan minat masyarakat yang tinggi terhadap investasi di pasar modal. “Investor kita ternyata tembus 20 juta dan yang menarik adalah bahwa lebih dari 900 ribu investor kita aktif trading bulanan dan di atas 250 ribu investor trading harian,” pungkas Iman.






