Nasional

Mengurai Luka Psikologis Akibat Penolakan Sosial: Perjuangan Batin Menjadi ‘Yang Diasingkan’ dan Jalan Memaafkan

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Septian Wahyu Rahmanto, kerap mendengarkan berbagai kisah tentang luka psikologis. Salah satu yang paling mendalam adalah pengalaman seorang klien di ruang konseling yang merasa “diasingkan” di lingkungannya sendiri. Pengalaman ini bukan sekadar tentang kesepian, melainkan tentang perasaan tidak diterima dan tidak dihargai secara berulang yang mengikis jiwa.

Ketika Kehadiran Dianggap Beban: Luka Penolakan Sosial

Klien tersebut sering dipersepsikan sebagai beban dan dianggap kurang mampu oleh orang-orang di sekitarnya. Setiap kali ia berupaya membantu, respons yang diterimanya justru berupa penolakan atau ucapan yang meremehkan. Situasi ini, menurut Septian Wahyu Rahmanto, secara perlahan membentuk pengalaman psikologis yang menyakitkan, bahkan dapat berkembang menjadi luka psikologis atau trauma. Kehadirannya seolah tidak diakui dan kontribusinya tidak pernah dianggap berarti, menciptakan jurang emosional yang dalam.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

Pada akhirnya, klien menyimpulkan bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan mengalah. Sikap mengalah ini dapat dipahami sebagai upaya klien untuk bersabar terhadap kondisi yang ia alami. Ia memilih tetap berada dalam lingkungan tersebut, menahan diri untuk tidak membalas perlakuan yang melukai, terutama karena ia merasa tidak memiliki daya atau ruang untuk melawan. Harga dirinya telah terluka, dan bertahan menjadi pilihan yang terasa paling mungkin saat itu.

Kelelahan Emosional di Balik Kesabaran

Namun, seiring berjalannya waktu, posisi sebagai pihak yang terus mengalah justru menimbulkan kelelahan emosional yang parah. Meskipun secara lahiriah klien tampak baik-baik saja, pada kenyataannya ia menyimpan perasaan murung, sedih, dan kehilangan semangat. Hidup di tengah lingkungan yang minim penerimaan dan empati bukanlah pengalaman yang mudah untuk dijalani, bahkan dapat menguras energi mental secara signifikan.

Bagi klien ini, luka terdalam bukan semata-mata karena kehilangan pertemanan, melainkan kesadaran bahwa ia tidak pernah benar-benar diterima apa adanya. Kesadaran tersebut memang menyakitkan, tetapi sekaligus dapat menjadi titik awal untuk proses pemulihan yang esensial.

Jalan Pemulihan: Antara Kesabaran dan Memaafkan

Pemulihan bukanlah proses yang instan. Klien mungkin telah berusaha bersabar, menahan diri, dan bertahan sejauh yang ia mampu. Namun, memaafkan—terutama setelah luka harga diri—adalah proses yang memerlukan waktu dan perjuangan batin yang tidak ringan. Tidak semua individu dapat langsung sampai pada tahap tersebut.

Allah SWT berfirman:

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang utama (mulia).”

(QS. Asy-Syura: 43)

Kata ‘azm (عَزْمِ) mengandung makna kekuatan tekad, kesungguhan, dan keteguhan hati. Istilah ‘azmi al-umūr merujuk pada perkara-perkara yang dimuliakan dan diutamakan, yang tidak dapat dilakukan kecuali oleh mereka yang memiliki keteguhan dan kemauan yang kuat. Hal ini mengisyaratkan bahwa bersabar dan memaafkan adalah sesuatu yang berat dan menantang, sehingga balasannya pun berupa keutamaan dan kemuliaan.

Dengan demikian, wajar apabila seseorang yang memiliki luka psikologis (trauma) membutuhkan waktu untuk mampu bersabar dan memaafkan. Menurut Mureks, proses tersebut tidak menandakan kelemahan, melainkan perjuangan batin yang nyata. Bagi sebagian orang, jalan ini terasa lebih ringan ketika Allah memberikan pertolongan dan ketika individu tersebut bersungguh-sungguh melawan dorongan emosionalnya serta memohon kekuatan kepada-Nya.

Memaafkan bukan berarti melupakan apa yang telah terjadi. Memaafkan juga tidak mengubah masa lalu. Namun, memaafkan dapat menjadi arah bagi jiwa untuk bergerak menuju ketenangan, agar seseorang dapat kembali menemukan dirinya sebagai pribadi yang utuh, pulih, dan mencapai kesehatan mental yang optimal.

Mureks