Nasional

Mengungkap Jejak 25 Arca Bersejarah di ITB: Dari Penyelamatan Kolonial hingga Bahan Ajar

Institut Teknologi Bandung (ITB) menyimpan sebuah rahasia budaya yang tak banyak diketahui publik: koleksi 25 arca Hindu-Buddha bersejarah di lingkungan kampusnya. Keberadaan artefak-artefak kuno ini bukan sekadar koleksi seni biasa, melainkan cerminan dari upaya penyelamatan warisan budaya Indonesia dari ancaman penguasaan kolektor pribadi pada masa kolonial Belanda.

Arca-arca tersebut kini tersimpan rapi di Galeri Soemardja, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Penelusuran mendalam oleh tim peneliti mengungkap kisah di balik perpindahan tangan artefak-artefak ini hingga akhirnya menemukan tempat aman di institusi pendidikan.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Menelusuri Jejak Arca dari Masa Kolonial

Dr. Kiki Rizky Soetisna, Principal Investigator Center for Indonesian Visual Art Studies (CIVAS) sekaligus dosen dan peneliti FSRD ITB, menjelaskan bahwa timnya telah melakukan riset ekstensif. Pada April 2025, mereka mengunjungi Yogyakarta, Solo, dan Mojokerto untuk menelusuri asal-usul arca yang ada di ITB, termasuk arca Panji yang ikonik.

“Kalau ditanyakan kenapa bisa ada di ITB, dapat dari mana, asumsi pertama kami waktu itu mengarah pada seorang profesor bernama Van Rommond, yang menulis artikel atau menulis laporan arkeologi eskavasi, salah satunya adalah di situs Selok Kelir, Gunung Penanggungan,” ujar Kiki kepada tim redaksi Mureks, Jumat (9/1/2026).

Namun, seiring berjalannya riset, ditemukan keterlibatan aktor dan lembaga lain yang lebih luas dalam proses pemindahan arca hingga sampai ke ITB. Awalnya, lembaga yang diasumsikan terlibat adalah Technische Hoogeschool (TH) yang kini menjadi ITB, Oudheidkundige Dienst atau Dinas Purbakala, dan Bataviaasch Genootschap yang sekarang dikenal sebagai Museum Nasional.

“Kami asumsikan di awal, lembaga yang terlibat adalah ITB, dulu Technische Hoogeschool, TH, sekarang ITB, lalu Oudheidkundige Dienst, atau Dinas Purbakala, dan Bataviaasch Genootschap, atau Museum Nasional saat ini. Nah, ternyata kelindannya semakin luas,” jelas Kiki.

Peran A.J. Bernet Kempers dan Misi Pendidikan

Penelusuran arsip juga mengungkap peran penting seorang arkeolog bernama A.J. Bernet Kempers. Pada tahun 1951, Kempers memimpin Dinas Purbakala dan juga aktif mengajar di jurusan seni rupa ITB. Ia dikenal sebagai pengajar mata kuliah sejarah seni Hindu-Buddha, serta sejarah seni Indonesia dan India.

“Kami menemukan satu nama Kempers yang dia juga adalah dosen, dulunya di jurusan seni rupa, dan juga mengajar. Dan satu mata kuliah yang menarik, yaitu sejarah seni Hindu-Buddha. Jadi ini nampaknya mulai mengerucut. Nah, kemudian waktu itu kami ketahui bahwa Kempers juga mengajar sejarah, sejarah seni Indonesia dan India,” papar Kiki.

Dalam kegiatan mengajarnya, Kempers kerap menyarankan mahasiswanya untuk melakukan kuliah lapangan ke Yogyakarta, di mana mereka menggambar candi dan relief. Dari sinilah muncul permintaan Kempers agar dibuatkan replika patung Hindu-Buddha yang ada di Candi Prambanan, yang secara administratif berada di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Namun, permintaan replikasi tersebut tidak dipenuhi. Sebaliknya, sekolah yang saat itu bernama Universitas Guru Gambar (cikal bakal ITB) justru diberikan 24 arca untuk dipelajari. “Jadi diberikan 24, nah yang satu itu kami asumsikan adalah arca lokal,” tambah Kiki.

Motif Penyelamatan dan Pendidikan

Kiki juga mengindikasikan bahwa koleksi arca di ITB kemungkinan berasal dari sumber yang sama dengan arca yang kini tersimpan di Rijksmuseum Amsterdam, yakni dari kawasan Prambanan. “Kami menemukan korelasi bahwa arca-arca atau koleksi yang ada di sana (Rijksmuseum) berasal dari situs yang sama, yaitu di kawasan Prambanan,” ujarnya.

Pada era kolonial, pengoleksian arca marak dilakukan oleh kalangan elite Belanda, yang kerap menjadikan artefak-artefak tersebut sebagai koleksi pribadi. “Kami menemukan bahwa pada tahun-tahun tersebut terjadi pengkoleksian besar-besaran, terutama oleh kaum elite Belanda, yang ingin menjadikan arca-arca itu sebagai bagian dari private collection mereka,” jelas Kiki.

Mureks merangkum, ada dua motif utama di balik pemindahan arca-arca ini ke institusi pendidikan. Pertama, untuk kepentingan pendidikan dan pedagogi, di mana arca-arca tersebut digunakan sebagai bahan pembelajaran dan pengembangan kurikulum seni rupa di ITB pada masa awal. Kedua, sebagai langkah penyelamatan politik agar artefak-artefak berharga ini tidak jatuh ke tangan kolektor privat.

“Jadi kami menemukan ada dua motif utama dalam pemindahan objek ke ITB. Yang pertama adalah motif pendidikan dan pedagogi sebagai bagian dari kurikulum. Yang kedua adalah motif penyelamatan secara politik, termasuk penyelamatan dari kemungkinan dikuasai oleh private collector. Kami berasumsi bahwa menyimpannya di sekolah seni rupa sebagai bahan ajar akan membuat arca-arca tersebut lebih aman,” pungkas Kiki.

Saat ini, FSRD ITB terus menelusuri asal-usul koleksi tersebut dan menyiapkan langkah konservasi lanjutan. Upaya ini bertujuan agar 25 arca bersejarah ini tetap terjaga dan dapat terus dimanfaatkan untuk riset serta pendidikan generasi mendatang.

Mureks