Guyon politik, yang sering dianggap sekadar selingan dalam komunikasi publik, ternyata merupakan praktik berbahasa yang sarat makna sosial. Fenomena ini tidak hanya hadir dalam pidato atau wawancara, tetapi juga merambah panggung hiburan hingga media sosial, terutama di tengah suasana serius.
Mohammad Ali Yafi, seorang Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tunas Pembangunan Surakarta sekaligus Mahasiswa Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Semarang, dalam tulisannya pada Sabtu, 10 Januari 2026, menjelaskan bahwa humor politik mencakup candaan tentang kebijakan, institusi, partai, dan tokoh politik, termasuk yang diproduksi oleh politisi itu sendiri.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
Sejarah dan Konteks Sosial Humor Politik
Kehadiran humor semacam ini bukanlah hal baru. Literatur tentang humor politik menunjukkan bahwa tawa sering kali menyertai ketegangan sosial yang nyata, muncul bersamaan dengan lahirnya kekuasaan dan kritik terhadapnya. Jika ditarik ke belakang, lelucon tentang penguasa sudah ditemukan sejak peradaban kuno seperti Mesir Kuno, Yunani, dan Romawi, yang memiliki tradisi satire politik kuat. Aristophanes, misalnya, menggunakan panggung teater untuk menertawakan perang dan elite politik.
Dalam perspektif sosiolinguistik, guyon dipahami sebagai praktik sosial yang sangat kontekstual. Makna sebuah candaan sangat ditentukan oleh siapa yang bercanda, kepada siapa, dan di ruang apa. Guyon dari pejabat publik, misalnya, membawa beban yang berbeda dibandingkan guyon warga biasa. Penelitian lintas budaya juga menunjukkan bahwa humor politik sangat dipengaruhi oleh pengalaman kolektif masyarakat, sehingga satu guyon bisa diterima hangat di satu tempat namun ditolak di tempat lain.
Mekanisme Linguistik dan Jenis Guyon
Secara linguistik, guyon politik bekerja melalui kejutan makna. Tawa muncul karena pendengar diarahkan pada satu pemahaman tertentu, yang kemudian dipatahkan oleh makna lain yang tidak terduga. Teori pertentangan skrip menjelaskan bahwa humor lahir ketika dua kerangka makna saling bertabrakan, menuntut pengetahuan bersama antara penutur dan audiens. Dalam hal ini, permainan bunyi dan makna menjadi alat utama dalam menyampaikan kritik, melalui kejutan semantik yang terkontrol.
Banyak kajian membedakan jenis guyon politik berdasarkan sasaran kritiknya. Ada denigration joke yang menertawakan tokoh dan institusi politik, serta exposure joke yang menyoroti kondisi sosial seperti korupsi dan ketimpangan. Dalam ringkasan Mureks, di konteks Indonesia, lelucon yang menyasar tokoh politik cenderung lebih dominan. Hal ini sering dikaitkan dengan rasa kecewa publik terhadap elite, menjadikan humor sebagai jalan aman untuk menyampaikan kritik, di mana tawa berfungsi sebagai pelindung pesan.
Strategi Pragmatik dan Dampak Media Sosial
Dalam kajian pragmatik, guyon dipahami sebagai tindak tutur yang penuh strategi. Candaan selalu membawa maksud tertentu; bisa untuk mencairkan suasana politik yang kaku, namun juga bisa menyudutkan pihak tertentu secara halus. Ambiguitas ini kerap dimanfaatkan oleh para politisi. Jika guyon disambut tawa, citra positif terbentuk. Namun, jika menuai kritik, guyon bisa dibela sebagai sekadar candaan. Penelitian komunikasi politik menunjukkan bahwa strategi ini lazim digunakan, memberi ruang aman dalam komunikasi publik yang berisiko.
Media sosial telah mengubah cara guyon politik beredar. Meme, parodi, dan video pendek kini menjadi medium utama, menyebar cepat dan melintasi batas sosial. Warga biasa pun ikut memproduksi dan memodifikasi satire, membuat relasi antara elite dan publik terasa lebih cair. Namun, catatan Mureks menunjukkan bahwa pesan politik sering didapatkan secara ekstrem di platform ini, di mana isu rumit diringkas dalam satu gambar atau kalimat. Humor digital juga dapat memperkuat polarisasi, menunjukkan bahwa tawa tetap membawa dampak politis meski tampil ringan.
Menariknya, humor politik juga memengaruhi cara orang mengingat informasi. Pesan politik yang lucu lebih mudah melekat di ingatan dan orang cenderung ingin membagikannya. Studi neurokognitif menjelaskan bahwa humor mengaktifkan empati sosial, membuat pendengar dapat membayangkan reaksi orang lain terhadap guyon tersebut. Proses ini membuat pesan terasa relevan dan dekat, membantu politik masuk ke percakapan sehari-hari, dan pada gilirannya dapat memperpanjang umur pesan politik di ruang publik.
Pada akhirnya, guyon politik adalah cermin kehidupan demokrasi. Ia merekam ketegangan, kekecewaan, dan harapan masyarakat. Tawa tidak selalu berarti setuju atau puas; dalam banyak kasus, tawa justru menyimpan kritik, di mana humor membuka ruang ekspresi yang tidak selalu tersedia secara formal. Membaca guyon politik membutuhkan kepekaan berbahasa, melihat siapa yang berbicara dan dalam situasi apa. Di balik tawa, politik sedang berbicara dengan caranya sendiri.






