Pada abad ke-20, becak menjadi salah satu moda transportasi yang tak terpisahkan dari denyut nadi perkotaan Indonesia. Kendaraan roda tiga yang dikayuh ini bukan sekadar alat angkut, melainkan juga cerminan adaptasi sosial dan ekonomi masyarakat.
Becak pertama kali masuk ke Indonesia sekitar tahun 1930-an, dibawa oleh pedagang Tionghoa dari Singapura, Hongkong, dan Makassar. Desainnya kemudian mengalami adaptasi lokal, seperti penggunaan ban angin dan roda tiga yang lebih stabil, menjadikannya pilihan utama bagi rakyat biasa. Mureks mencatat bahwa data DPRD DKI Jakarta pada tahun 1936 menunjukkan jumlah becak di ibu kota mencapai 3.900 unit. Angka ini melonjak drastis hingga sekitar 92.650 unit pada tahun 1970, seiring pesatnya urbanisasi.
Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id
Keunggulan Becak yang Memikat Masyarakat
Popularitas becak tidak lepas dari sejumlah keunggulan yang ditawarkannya. Menurut Purnawan Basundoro dalam buku Pengantar Kajian Sejarah Ekonomi Perkotaan, becak banyak dipilih masyarakat karena murah, fleksibel masuk gang sempit, serta tidak membutuhkan bahan bakar seperti delman kuda. Keunggulan ini sangat relevan di tengah keterbatasan infrastruktur dan daya beli masyarakat.
Dibandingkan delman, becak dinilai lebih bersih karena tidak meninggalkan kotoran di jalan. Fleksibilitasnya juga jauh melampaui kendaraan besar yang sulit menjangkau gang-gang sempit di permukiman padat. Buku Dekolonisasi Buruh Kota dan Pembentukan terbitan KITLV-Jakarta menyoroti bahwa biaya operasional becak rendah, tidak membutuhkan modal besar, serta cocok bagi buruh miskin di kota. Selain mengangkut penumpang, becak juga mampu membawa barang kecil, menambah nilai fungsionalnya. Sistem tarif yang fleksibel melalui tawar-menawar juga membuatnya semakin ramah bagi masyarakat kelas bawah.
Puncak Kejayaan dan Larangan di Jakarta
Pada tahun 1950-an, becak mencapai puncak kejayaannya dan disebut sebagai “raja” jalanan Jakarta. Jumlahnya mencapai sekitar 25.000 unit dan beroperasi hampir sepanjang hari dalam tiga shift. Memasuki tahun 1970-an, jumlah becak di Jakarta diperkirakan mencapai 100.000 unit, dengan sekitar 200.000 orang menggantungkan hidupnya sebagai tukang becak.
Namun, era keemasan becak mulai meredup pada tahun 1970-an. Pemerintah Jakarta menerapkan kebijakan pelarangan becak dengan alasan mengurangi kemacetan dan menata lalu lintas. Buku Pengantar Kajian Sejarah Ekonomi Perkotaan karya Purnawan Basundoro menjelaskan bahwa kebijakan ini disertai sistem daerah bebas becak serta razia di jalan-jalan utama. Akibatnya, banyak tukang becak kehilangan mata pencarian.
Warisan dan Pelajaran dari Becak
Meski perannya kini telah menurun drastis, becak pada masanya mampu menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat kota yang padat dan berpenghasilan rendah. Lebih dari sekadar alat angkut, becak juga membentuk relasi sosial yang unik antara penarik dan penumpang. Proses tawar-menawar, percakapan singkat, hingga saling mengenal menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Keberadaan becak dalam sejarah perkotaan Indonesia mengingatkan bahwa kebijakan transportasi yang ideal perlu mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat secara komprehensif.






