Rumah produksi Wokcop Pictures baru saja memulai proses syuting untuk film terbarunya, Surat Ke 8. Film bergenre drama keluarga ini menjanjikan sebuah kisah yang menyentuh hati, mengeksplorasi tema cinta abadi, pengorbanan, serta tantangan komunikasi antar generasi atau generation gap yang kerap terjadi dalam keluarga modern.
Film ini mempertemukan tiga aktor lintas generasi: bintang muda Aurora Ribero, aktor senior Arief Didu, dan Unique Priscilla. Ketiganya akan beradu akting dalam satu layar, menghadirkan dinamika hubungan orang tua dan anak yang penuh emosi. Interaksi lintas generasi ini diharapkan menjadi kekuatan utama yang mampu mengaduk perasaan penonton.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Kisah Surat Ke 8 berpusat pada misteri di balik surat-surat tak terduga yang menyimpan pesan mendalam. Surat-surat tersebut menjadi kunci untuk membuka ruang dialog yang selama ini tertutup rapat dalam keluarga, sekaligus mengungkapkan perasaan terpendam yang tak pernah terucap.
Aurora Ribero, yang didapuk memerankan karakter Cahaya, mengaku langsung jatuh cinta saat pertama kali membaca naskah. Ia merasa cerita yang disajikan sangat dekat dengan realita kehidupan banyak orang.
“Ceritanya sederhana, tapi dalam. Surat Ke 8 terasa sangat dekat dengan kehidupan banyak orang karena ada peran anak, bapak, ibu, partner—jadi banyak yang bisa relate. Packaging-nya simpel, tapi banyak rasa yang akan didapat,” ujar Aurora dengan antusias.
Di kursi sutradara, Franklin Darmadi dipercaya untuk menahkodai film ini. Franklin menekankan bahwa surat dalam film ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan simbol keintiman yang personal.
“Film ini bukan hanya tentang kehilangan, tetapi tentang bagaimana cinta tanpa syarat itu bekerja. Surat-surat menjadi jembatan yang menghubungkan hati yang terpisah, mengajarkan kita bahwa merelakan bukanlah kekalahan, melainkan puncak dari sebuah keikhlasan dan pengorbanan,” jelas Franklin.
Arief Didu, yang berperan sebagai Fajar, seorang ayah, melihat film ini sebagai refleksi mendalam tentang hubungan orang tua dan anak. Ia menyoroti seringnya terjadi kesalahpahaman akibat komunikasi yang tidak tersampaikan dengan baik.
“Semua yang dilakukan seorang ayah pada dasarnya adalah cerminan dari keinginannya agar anaknya baik-baik saja. Masalahnya, sering kali ada hal-hal yang tidak tersampaikan dengan baik, sehingga anak tidak sepenuhnya memahami isi pikiran orang tuanya,” tutur Arief bijak.
Sementara itu, Unique Priscilla yang memerankan tokoh Mentari, merasakan tantangan tersendiri menjadi seorang ibu yang harus menjadi perekat keluarga. Peran ini memberinya pelajaran berharga tentang sulitnya menjaga keharmonisan di tengah perbedaan.
“Dari film ini aku belajar bahwa menjadi seorang ibu itu tidak mudah. Ia sering menjadi perekat antara bapak, anak, dan anggota keluarga lainnya, menjaga agar komunikasi tetap berjalan dalam kondisi apa pun,” ungkap Unique.
Menurut pantauan Mureks, Surat Ke 8 hadir sebagai cerminan dinamika generation gap di era masa kini. Film ini mengajak penonton untuk merenungkan kembali pentingnya empati dan komunikasi dalam keluarga, bahwa rumah adalah tempat belajar untuk saling menerima dan melepaskan.






