Kamis, 01 Januari 2026 menjadi penanda berakhirnya sebuah era bagi sepak bola Uruguay dan dunia. Edinson Cavani, penyerang legendaris berjuluk El Matador, resmi mengakhiri karier profesionalnya pada usia 38 tahun setelah 19,5 tahun berkiprah di lapangan hijau. Sebagai kapten Boca Juniors, Cavani menutup lembaran panjang yang telah membawanya membela tujuh klub besar, termasuk Danubio FC, Palermo, Paris Saint-Germain, Manchester United, Valencia, dan tentu saja, Napoli.
Dari semua persinggahan tersebut, Napoli menjadi salah satu babak paling berkesan. Selama tiga musim (2010–2013), Cavani mengukir performa yang sangat impresif, menjadikannya idola baru dan melambungkan namanya di kancah sepak bola Eropa.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Awal Gemilang Edinson Cavani sebagai Pemain Pinjaman di Napoli
Sebelum tiba di Naples, Cavani telah menarik perhatian manajemen Napoli berkat ketajamannya bersama Palermo, di mana ia mencetak 35 gol dalam dua musim (2008–2010). Penampilannya yang memukau bersama Timnas Uruguay di Piala Dunia 2010 semakin memperkuat minat Napoli.
Atas dorongan pelatih Walter Mazzarri, Napoli akhirnya mendatangkan Cavani pada musim panas 2010 dengan status pinjaman. Ia ditugaskan menggantikan Fabio Quagliarella yang hijrah ke Juventus. Hebatnya, Cavani langsung menunjukkan adaptasi luar biasa dan segera menyatu dengan Ezequiel Lavezzi serta Marek Hamsik. Trio maut ini kemudian dikenal dengan julukan Tre Tenori.
Pada musim perdananya (2010/2011), Cavani tampil sebagai ancaman baru di lini serang Napoli. Ia berhasil mencatatkan 33 gol dan 7 assist dari 47 pertandingan, sebuah statistik yang menegaskan kualitasnya sebagai penyerang kelas dunia.
Gelar Top Skor Perdana dan Juara Coppa Italia
Performa memuaskan selama masa pinjaman membuat Napoli tak ragu untuk mempermanenkan Edinson Cavani dari Palermo. Ia dibeli seharga 12 juta euro (sekitar Rp208,5 miliar) pada musim panas 2011. Angka tersebut, menurut Mureks, terbilang murah mengingat kualitas dan ketajaman sang penyerang yang terus meningkat.
Pada musim keduanya (2011/2012), produktivitas assist Cavani sedikit menurun, dengan 33 gol dan 3 assist dari 48 laga. Namun, hal tersebut tidak mengurangi perannya, mengingat tugas utamanya adalah membobol gawang lawan.
Musim ini menjadi momen bersejarah bagi Napoli dan Cavani. Klub berhasil meraih gelar juara Coppa Italia, dengan Cavani menyumbang lima gol krusial. Torehan tersebut menjadikannya top skor Coppa Italia 2011/2012, sekaligus menjadi gelar top skor pertama dalam karier profesionalnya.
Menutup Karier di Napoli dengan Gelar Capocannoniere
Performa Edinson Cavani mencapai puncaknya pada musim 2012/2013. Penyerang Timnas Uruguay ini berhasil mencetak 38 gol dan 4 assist dari 43 pertandingan di semua kompetisi. Dari jumlah tersebut, 29 gol di antaranya tercipta di Serie A Italia.
Catatan impresif ini mengantarkannya meraih gelar Capocannoniere atau top skor Serie A 2012/2013, sebuah pencapaian individu tertinggi bagi seorang penyerang di liga tersebut.
Penampilan luar biasa dan etos kerjanya yang tinggi menarik minat banyak klub raksasa Eropa. Setelah negosiasi panjang, Paris Saint-Germain (PSG) berhasil memboyong Cavani dari Napoli pada 16 Juli 2013 dengan mahar fantastis sebesar 64,5 juta euro (sekitar Rp1,26 triliun). Napoli pun harus merelakan salah satu pemain terbaiknya.
Legenda yang Membekas di Hati Tifosi Napoli
Meskipun hanya mengabdi selama tiga musim (2010–2013), kiprah Edinson Cavani di Napoli meninggalkan jejak yang sangat mendalam. Ia bukan hanya idola besar bagi tifosi Napoli, tetapi juga menjadi salah satu sosok kunci di balik awal kebangkitan tim asal Naples tersebut.
Secara keseluruhan, Mureks mencatat bahwa Cavani menorehkan 104 gol dan 4 assist dari 138 pertandingan untuk Partenopei, menjadikannya salah satu penyerang paling produktif dalam sejarah klub.






