Nasional

Membongkar Rahasia Pranata Mangsa: Kalender Pertanian Jawa yang Tetap Relevan di Era Modern

Jauh sebelum teknologi meteorologi modern hadir di Indonesia, petani Jawa telah berpegang teguh pada sebuah sistem penanggalan tradisional yang terbukti efektif: Pranata Mangsa. Sistem ini menjadi panduan utama selama berabad-abad, membantu mereka menentukan waktu tanam, merawat tanaman, hingga masa panen tiba.

Pranata mangsa dibangun berdasarkan pengamatan mendalam terhadap pergerakan matahari, perubahan cuaca, serta perilaku makhluk hidup di sekitar. Nenek moyang orang Jawa berhasil menyusun kalender pertanian yang presisi berkat kearifan lokal ini.

Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Asal Usul dan Formalisasi Pranata Mangsa

Meskipun praktik pranata mangsa telah diwariskan secara turun-temurun selama ribuan tahun, formalisasi sistem ini baru terjadi pada pertengahan abad ke-19. Dalam jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia, Sukardi Wisnubroto mencatat bahwa “Pranata mangsa secara resmi disosialisasikan oleh Raja Surakarta pada 22 Juni 1855.”

Penetapan ini dilakukan oleh Sunan Pakubuwana VII. Raja Surakarta tersebut menyadari bahwa sistem penanggalan bulan yang diberlakukan Sultan Agung pada tahun 1633 tidak lagi memadai sebagai patokan bagi para petani untuk menentukan waktu tanam.

Siklus dan Karakteristik Pranata Mangsa

Menurut buku Kiat Tingkatkan Produksi Padi karya Anjar Dwi Astuti dkk, “Pranata mangsa disusun berdasarkan pergerakan semu matahari yang membentuk siklus tahunan selama 365 hari.” Sistem ini membagi satu tahun menjadi 12 mangsa atau periode musim, dengan durasi yang bervariasi antara 23 hingga 43 hari.

Setiap mangsa memiliki karakteristik khusus yang menjadi penanda perubahan kondisi alam. Indikator penting bagi petani meliputi intensitas hujan, kelembaban udara, suhu, serta gejala biologis pada tumbuhan maupun hewan.

Metode Penentuan Pranata Mangsa

Sistem pranata mangsa dibangun melalui pengamatan empiris yang teliti dan konsisten oleh para leluhur Jawa. Artikel Gumelar Senjakala Pranata Mangsa dalam Jurnal Kajian Agraria dan Kedaulatan Pangan oleh R. Gumelar dan M. Ardi menjelaskan bahwa “Pranata mangsa menghimpun berbagai ilmu pengetahuan meliputi astronomi tradisional, meteorologi, bioklimatologi, dan kosmologi yang membentuk pandangan dunia masyarakat Jawa.”

Petani tidak hanya fokus pada posisi matahari, tetapi juga mengamati beragam tanda alam. Ini termasuk rontoknya daun-daunan, retaknya tanah, berbunganya pohon tertentu, perilaku hewan seperti kucing kawin atau burung menyuapi anaknya, hingga kemunculan serangga spesifik. Pengamatan holistik ini memungkinkan petani memprediksi pergantian musim dengan akurat, sehingga dapat menentukan jenis tanaman yang tepat dan mengantisipasi potensi bencana seperti kekeringan, banjir, atau serangan hama.

Fungsi Vital dalam Aktivitas Pertanian

Perhitungan musim tanam dalam pranata mangsa memiliki fungsi vital bagi keberhasilan pertanian tradisional. Setiap mangsa memberikan petunjuk spesifik mengenai aktivitas yang sebaiknya dilakukan. Sebagai contoh, Mangsa Kasa yang dimulai pada 22 Juni menandai awal musim kemarau. Pada periode ini, petani biasanya membakar jerami dan mempersiapkan lahan untuk menanam palawija.

Sementara itu, Mangsa Katujuh, yang jatuh pada periode Desember hingga Februari dengan curah hujan tinggi, menjadi waktu ideal untuk merawat padi di sawah. Petani juga harus tetap waspada terhadap serangan hama dan penyakit pada masa ini. Mureks mencatat bahwa relevansi sistem tradisional ini masih sangat terasa.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di IOP Conference Series oleh N. Khotimah, ditemukan bahwa “86,2% petani di sawah beririgasi, 92,7% petani di sawah tadah hujan, dan 88,6% petani di lahan kering di Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul masih memanfaatkan pranata mangsa untuk menjaga keberlanjutan pengelolaan sumber daya lahan pertanian.” Data ini menegaskan bahwa sistem tradisional tersebut tetap relevan, meskipun modernisasi pertanian telah berlangsung puluhan tahun.

Pola Rotasi Tanaman dan Keberlanjutan Ekologis

Salah satu keunggulan pranata mangsa adalah kemampuannya mengatur pola rotasi tanaman yang sesuai dengan kondisi iklim. Pada masa sistem ini masih dominan, penanaman padi sawah hanya dilakukan sekali setahun, diikuti oleh palawija atau padi gogo, kemudian lahan dibiarkan bera.

Menurut buku Kiat Tingkatkan Produksi Padi karya Anjar Dwi Astuti dkk, “Sistem pranata mangsa mengajarkan petani untuk bekerja selaras dengan ritme alam, bukan melawannya.” Pendekatan ini menciptakan keberlanjutan ekologis. Setiap periode mangsa memberikan kesempatan bagi ekosistem untuk pulih, sehingga keseimbangan alam tetap terjaga dari generasi ke generasi.

Tantangan dan Relevansi di Era Modern

Sejarah perhitungan musim tanam dalam pranata mangsa Jawa mengalami titik balik dramatis sejak Revolusi Hijau pada tahun 1970-an. Program ini memperkenalkan bibit unggul, pupuk kimia, pestisida, dan sistem irigasi teknis yang memungkinkan penanaman padi hingga tiga kali dalam setahun.

Dalam jurnal Asian Journal of Women’s Studies, disebutkan bahwa “Kebijakan tersebut membuat petani bergantung pada pemasok benih, pupuk, dan pestisida asing, sekaligus meninggalkan pengetahuan lokal yang telah terbukti berkelanjutan.” Meskipun demikian, beberapa komunitas petani tetap mempertahankan pranata mangsa sebagai warisan budaya sekaligus strategi adaptasi menghadapi perubahan iklim global.

Penelitian etnosains menunjukkan bahwa “Sistem pranata mangsa memiliki tingkat akurasi 83,3% ketika diuji relevansinya dengan data periode musim dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika tahun 2023.” Ini membuktikan bahwa kearifan lokal ini masih memiliki validitas ilmiah yang kuat di era kontemporer, menegaskan nilai abadi dari pengamatan leluhur Jawa.

Mureks