Nasional

Melacak Akar Bandar Lampung: Perjalanan Kota Kembar, Pusat Ekonomi, dan Kekayaan Budaya Lampung

Bandar Lampung, yang kini dikenal sebagai pusat kegiatan ekonomi dan budaya di Provinsi Lampung, menyimpan jejak sejarah panjang yang membentang dari masa kolonial hingga era modern. Kota ini telah bertransformasi menjadi kawasan metropolitan yang dinamis, dengan perkembangan yang tak lepas dari asal usulnya serta masyarakat yang mendiaminya.

Awal Mula Kota Kembar: Teluk Betung dan Tanjung Karang

Perjalanan Kota Bandar Lampung, menurut A. Yuda Ath Thoriq dalam karyanya Sejarah Kota Bandar Lampung 1945–2019, tidak dapat dilepaskan dari penyatuan dua kota kembar, yakni Teluk Betung dan Tanjung Karang. Sejak masa kolonial, kedua wilayah ini telah memainkan peran vital sebagai pusat perdagangan dan administrasi. Penyatuan resmi kedua kota ini terjadi pada tahun 1983, menandai babak baru dalam perkembangan Bandar Lampung sebagai kota metropolitan di Provinsi Lampung.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.

Teluk Betung, misalnya, telah berkembang pesat sejak abad ke-15 sebagai pusat perdagangan yang didukung oleh aktivitas pelabuhan dan jalur sungai yang strategis. Sementara itu, pada masa kolonial Belanda, Tanjung Karang difungsikan sebagai kawasan permukiman bagi para pejabat. Penyatuan kedua wilayah ini kemudian semakin memperkuat posisi Bandar Lampung sebagai pusat pertumbuhan industri dan perdagangan di Provinsi Lampung.

Jejak Kolonial dan Peran Strategis Bandar Lampung

Pada era kolonial Belanda, Bandar Lampung memegang fungsi sentral sebagai pusat pemerintahan dan distribusi komoditas penting. Teluk Betung diambil alih oleh pemerintah kolonial pada tahun 1847, menjadikannya kedudukan pemerintahan sekaligus pusat pengumpulan lada Lampung yang menjadi komoditas primadona. Di sisi lain, Tanjung Karang terus dikembangkan sebagai area permukiman bagi pejabat Belanda.

Hingga kini, jejak arsitektur dan sistem administrasi kolonial masih dapat ditemui di Bandar Lampung. Salah satu contohnya adalah bangunan Keresidenan Bandar Lampung yang bergaya Belanda, diperkirakan dibangun sekitar tahun 1930. Bangunan-bangunan ini menjadi saksi bisu perubahan sosial yang terjadi akibat kebijakan kolonial pada masa itu.

Identitas Budaya dan Asal Usul Masyarakat Lampung

Masyarakat Lampung dikenal dengan tradisi dan adat istiadatnya yang masih terjaga hingga kini. Identitas budaya mereka sangat dipengaruhi oleh sejarah panjang dan interaksi dengan berbagai pendatang. Menurut Bartoven Vivit Nurdin dan K.S.F. Ng dalam studi mereka Local Knowledge of Lampung People in Tulang Bawang: An Ethnotechnological Study for Utilization and Conservation of Rivers (2013), masyarakat Lampung terbagi menjadi dua kelompok etnis utama: Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin.

Kedua kelompok ini memiliki latar lingkungan serta karakter sosial-budaya yang berbeda. Shisilia Arya Rivera dan Zainudin Hasan, dalam artikel Studi Komparasi dalam Tradisi Pernikahan Masyarakat Lampung: Antara Adat Saibatin dan Pepadun, menjelaskan bahwa masyarakat Lampung Pepadun umumnya bermukim di sepanjang aliran sungai yang bermuara ke Laut Jawa. Sementara itu, masyarakat Lampung Saibatin cenderung mendiami wilayah pesisir pantai serta di sepanjang aliran sungai yang bermuara ke Samudra Hindia. Mureks mencatat bahwa perbedaan geografis ini turut membentuk kekhasan adat dan tradisi masing-masing kelompok.

Dinamika Migrasi dan Pembauran Penduduk

Keberagaman penduduk di Lampung, sebagaimana diuraikan oleh A. Yuda Ath Thoriq dalam Sejarah Kota Bandar Lampung 1945–2019, terbentuk melalui proses migrasi yang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Sriwijaya. Arus migrasi ini berlanjut pada masa kolonial melalui program transmigrasi Belanda, dan diteruskan oleh pemerintah Indonesia setelah kemerdekaan. Peningkatan arus migrasi pascakemerdekaan membawa pendatang dari berbagai daerah, menciptakan dinamika sosial baru dan menjadikan Bandar Lampung semakin kaya secara etnis dan budaya.

Transformasi Pasca-Kemerdekaan Menuju Kota Metropolitan

Setelah proklamasi kemerdekaan, Bandar Lampung memasuki fase perkembangan baru yang ditandai oleh lonjakan pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial yang signifikan. Pada masa awal kemerdekaan, kota ini berperan strategis bagi pergerakan nasional dan proses rekonstruksi pasca-Perang Dunia II. Memasuki era Orde Baru, modernisasi infrastruktur dan urbanisasi berlangsung pesat, mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memunculkan berbagai tantangan, seperti kesenjangan sosial dan permasalahan lingkungan.

Sejak awal kemerdekaan hingga era modern, Bandar Lampung telah mengalami transformasi signifikan menjadi kota modern. Kota ini kini berfungsi sebagai pusat administrasi, perdagangan, jasa, dan pemerintahan Provinsi Lampung, didorong oleh kemajuan ekonomi, pendidikan, kebijakan pemerintah, migrasi penduduk, serta modernisasi infrastruktur.

Sejarah Bandar Lampung secara gamblang memperlihatkan perjalanan kota ini dari masa kolonial hingga era modern. Perpaduan harmonis antara masyarakat asli dan pendatang telah memperkaya identitas kota, menjadikannya pusat pertumbuhan ekonomi dan budaya yang vital di Sumatera. Dengan memahami sejarahnya, masyarakat dapat lebih menghargai peran penting Bandar Lampung dalam dinamika regional.

Mureks