Otomotif

Masa Depan Pirelli di Pasar AS Terancam Aturan Baru, Italia Desak Resolusi Kepemilikan Tiongkok

Pemerintah Italia tengah mempertimbangkan langkah drastis untuk membekukan hak suara Sinochem, perusahaan milik negara Tiongkok, yang memiliki 34 persen saham di produsen ban Pirelli. Keputusan ini diambil di tengah ketegangan kepemilikan yang menghambat ekspansi Pirelli di pasar Amerika Serikat, terutama menjelang pemberlakuan aturan baru AS terkait teknologi Tiongkok pada Maret mendatang.

Selama beberapa bulan terakhir, Pirelli dan mitranya dari Italia, Camfin, telah berargumen bahwa posisi Sinochem sebagai pemegang saham utama mempersulit upaya pertumbuhan bisnis di Amerika. Washington diketahui semakin memperketat pembatasan terhadap teknologi Tiongkok di sektor otomotif, yang menjadi perhatian utama.

Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.

Menurut laporan Reuters, undang-undang “golden power” Italia memberikan wewenang kepada pemerintah untuk membatasi hak pemegang saham di perusahaan yang dianggap strategis bagi kepentingan nasional. Pirelli termasuk dalam kategori tersebut. Menyadari ketegangan ini, Sinochem dilaporkan terbuka untuk melepas kepemilikannya. Perusahaan tersebut bahkan telah menunjuk BNP Paribas sebagai penasihat untuk potensi penjualan sahamnya.

Menteri Perindustrian Adolfo Urso mengonfirmasi bahwa diskusi antara pemegang saham Italia dan Tiongkok di Pirelli masih berlangsung. Ada pula spekulasi bahwa kesepakatan dapat tercapai yang memungkinkan Sinochem mengurangi kepemilikannya, alih-alih keluar sepenuhnya.

Tenggat Waktu Krusial

Kepemilikan besar Sinochem di Pirelli telah menjadi beban bagi produsen ban tersebut selama beberapa tahun, dan kini tekanan untuk menemukan resolusi semakin meningkat. Pada Maret 2026, aturan baru AS akan berlaku yang membatasi penggunaan teknologi Tiongkok pada kendaraan yang dijual secara lokal. Ini bisa menjadi kabar buruk bagi Pirelli, mengingat sebagian besar perusahaan dimiliki oleh entitas Tiongkok.

Financial Times melaporkan bahwa jika tidak ada kesepakatan yang tercapai antara Pirelli dan Sinochem pada Januari 2026, pemerintah Italia akan mempertimbangkan untuk melakukan intervensi. Intervensi tersebut dapat mencakup penangguhan hak suara Sinochem untuk membuka jalan bagi strategi Pirelli di AS. Mureks mencatat bahwa tenggat waktu ini krusial bagi masa depan bisnis Pirelli di pasar global.

Sinochem awalnya mengakuisisi Pirelli pada tahun 2015 sebelum mencatatkan kembali produsen ban tersebut di Milan dua tahun kemudian. Perusahaan Tiongkok ini sebelumnya pernah berupaya memperkuat cengkeramannya pada produsen ban, yang memicu intervensi dari pemerintah Italia pada tahun 2023.

Mureks