Manchester United resmi mengakhiri kerja sama dengan Ruben Amorim, menjadikannya manajer ke-10 yang didepak klub pasca-era Sir Alex Ferguson. Keputusan ini diumumkan pada Senin (5/1/2026) setelah Amorim menjabat selama 14 bulan.
Amorim, yang dikontrak 18 bulan sejak November 2024, harus meninggalkan Old Trafford lebih cepat. Ia mengikuti jejak para manajer sebelumnya seperti David Moyes, Louis van Gaal, Ole Gunnar Solskjaer, Erik ten Hag, hingga Ruud van Nistelrooy yang juga mengalami pemecatan.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Pelatih asal Portugal ini juga menjadi manajer kedua dari negaranya yang dipecat Setan Merah, setelah Jose Mourinho pada 2018 silam. Mureks mencatat bahwa pola pergantian manajer yang cepat ini menunjukkan tantangan besar dalam menstabilkan performa dan visi klub pasca-era keemasan Ferguson.
Sebelum pemecatan, Amorim sempat melontarkan kritik tajam terhadap manajemen klub. Hal ini terjadi usai Manchester United ditahan imbang Leeds United dalam laga pekan ke-20 Premier League musim 2025/26.
“Saya adalah manajer di sini (MU), bukan pelatih. Itu sudah jelas. Kontrak saya selama 18 bulan di sini, dan itu adalah sebagai manajer, bukan pelatih kepala biasa,” ujar Amorim, seperti dilansir Mirror, menyoroti perannya yang lebih luas dari sekadar melatih.
Lebih lanjut, ia juga menuntut semua departemen di MU bekerja optimal, terutama terkait kebijakan transfer tim dan hubungannya dengan Direktur Sepak Bola MU, Jason Wilcox. “Jika orang-orang tak bisa menangani kritik-kritik dari luar, macam dari Gary Neville, semua jajaran klub harus dirombak. Sekali lagi saya tegaskan, saya adalah manajer MU, bukan pelatih. Semua harus menjalankan tugasnya dengan baik,” tegas Amorim, menunjukkan frustrasinya terhadap dinamika internal yang terjadi di klub.
Dinamika internal yang memanas dan kritik terbuka ini akhirnya berujung pada pemecatan Amorim, menambah daftar panjang manajer yang gagal bertahan lama di Old Trafford.






