Manchester United secara mengejutkan memecat Ruben Amorim dari posisi kepala pelatih pada Rabu, 07 Januari 2026. Keputusan ini diambil di tengah posisi tim yang relatif aman di peringkat keenam English Premier League (EPL) 2025/2026 per pekan ke-20. Namun, di balik capaian klasemen tersebut, pemecatan Amorim disebut-sebut berakar pada persoalan taktik yang kaku dan konflik internal yang kian memanas di Old Trafford.
Permasalahan utama selama era Amorim di Manchester United bukan hanya tentang hasil pertandingan, melainkan bagaimana ide taktiknya dipaksakan tanpa kompromi. Skema 3-4-3 yang menjadi ciri khasnya, alih-alih menjadi fondasi permainan, justru berkembang menjadi sumber konflik internal. Dari aspek teknis di lapangan hingga dinamika di ruang rapat, taktik tersebut pada akhirnya merefleksikan kegagalan menyatukan visi antara klub dan pelatih.
Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id
Taktik 3-4-3 Amorim: Ketidaksesuaian dengan Komposisi Skuad MU
Ruben Amorim tiba di Manchester United membawa reputasi pelatih visioner yang sukses menerapkan formasi 3-4-3 bersama Sporting CP. Di Portugal, skema tersebut menjadi fondasi permainan yang terstruktur, agresif, dan konsisten. Namun, gaya Premier League serta karakter skuad Manchester United menghadirkan tantangan yang berbeda.
Persoalan utama muncul dari ketidaksesuaian peran sejumlah pemain inti. Bruno Fernandes, misalnya, sering ditempatkan di antara posisi gelandang dan inside forward, yang kerap membatasi kebebasan kreatifnya. Amad Diallo dan Noussair Mazraoui juga mengalami kebingungan peran, harus berganti antara wing-back atau pemain interior tanpa kejelasan fungsi yang stabil.
Kobbie Mainoo menjadi salah satu pemain yang paling terdampak idealisme taktik Amorim. Ia dimainkan sebagai gelandang bertahan, gelandang serang, bahkan sempat diplot sebagai penyerang. Perpindahan fungsi yang drastis ini mengikis identitas permainannya dan menghambat proses perkembangan alami yang seharusnya ia jalani sebagai pemain muda.
Ketidakselarasan ini bukan disebabkan oleh keterbatasan kualitas individu pemain. Sebaliknya, masalah terletak pada struktur 3-4-3 yang menuntut profil pemain sangat spesifik, sementara skuad Manchester United telah dibangun dengan logika yang berbeda selama bertahun-tahun. Adaptasi yang berlarut-larut membuat automatisme permainan tidak pernah terbentuk secara utuh.
Akibatnya, pola permainan Setan Merah menjadi mudah ditebak. Lawan dengan mudah memahami jalur progresi bola, area overload, serta kelemahan transisi yang berulang. Ketika pelatih lebih mengutamakan sistem daripada situasi pertandingan, fleksibilitas menjadi korban pertama, dan efektivitas tim pun menghilang.
Kekakuan Taktik: Minimnya Evolusi dan Adaptasi Amorim
Tekanan terhadap Ruben Amorim kian meningkat seiring kegagalan Manchester United menunjukkan progres performa yang konsisten. Pada Desember 2025, ia sempat mengisyaratkan perlunya adaptasi, terutama dengan mencoba struktur back four. Dalam beberapa pertandingan setelah Bruno Fernandes cedera, Manchester United terlihat menggunakan formasi 4-4-2 atau 4-2-3-1, termasuk saat menghadapi AFC Bournemouth dan Newcastle United.
Namun, perubahan tersebut hanya bersifat situasional dan temporer. Setelah meraih kemenangan tipis atas Newcastle dengan struktur 4-2-3-1, Amorim kembali ke formasi 3-4-2-1 saat menghadapi Wolverhampton Wanderers pada pekan ke-19 Premier League. Keputusan ini menimbulkan kebingungan, terutama karena perubahan peran pemain dilakukan secara drastis dalam waktu singkat.
Perbedaan antara adaptasi dan evolusi menjadi krusial dalam membaca perubahan taktik Amorim. Adaptasi seharusnya memperkaya sistem permainan, bukan sekadar mengganti bentuk lalu kembali ke pola lama tanpa pengembangan prinsip yang stabil. Inkonsistensi ini membuat bentuk permainan Manchester United timpang, dengan struktur in-possession menyerupai back four, namun transisi bertahan kembali ke back three yang renggang dan mudah dieksploitasi lawan.
Para pemain dibuat bingung karena struktur yang mereka pelajari dalam latihan seringkali berbeda dengan sistem yang diterapkan saat pertandingan. Kondisi ini perlahan mengikis kepercayaan terhadap visi taktik, terutama ketika hasil yang didapat tidak sejalan dengan eksperimen yang dilakukan. Pergantian sistem yang setengah hati ini merusak kontinuitas tim, membuat Manchester United terjebak dalam transisi berkepanjangan, hingga 3-4-3 yang awalnya menjadi pakem, justru berubah menjadi sumber masalah yang berulang.
Skema 3-4-3: Simbol Otoritas di Tengah Konflik Internal Klub
Seiring berjalannya waktu, formasi 3-4-3 tak lagi sekadar pilihan taktis. Skema tersebut justru berubah menjadi simbol otoritas Ruben Amorim di tengah tekanan internal klub. Menurut laporan The Athletic, pernyataan publik Amorim mengenai perannya sebagai “manajer, bukan hanya kepala pelatih” setelah laga melawan Leeds United, mencerminkan ketegangan yang kian terbuka.
Dari sisi manajemen klub, termasuk Sir Jim Ratcliffe dan Jason Wilcox, mendorong fleksibilitas taktik yang lebih besar. Mereka menginginkan evolusi menuju struktur yang lebih selaras dengan identitas historis dan investasi skuad. Namun, Amorim memandang dorongan tersebut sebagai bentuk intervensi terhadap wilayah kerjanya.
Ketika skema 3-4-3 terus dipaksakan dalam pertandingan-pertandingan penting, keputusan tersebut tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan performa. Sistem itu perlahan berfungsi sebagai sarana penegasan otoritas dan garis kewenangan. Dalam situasi seperti ini, pendekatan taktik justru menjelma menjadi ajang tarik-menarik wewenang di dalam klub. Dampaknya, kepercayaan pun retak karena pemain merasakan jurang antara arahan latihan dan praktik di pertandingan, sementara manajemen menilai perkembangan tim stagnan meskipun posisi klasemen masih tergolong aman.
Mureks mencatat bahwa data dari Opta Analyst menunjukkan, sejak Amorim menangani Manchester United pada November 2024, tim hanya meraih 58 poin dari 47 laga Premier League. Persentase kemenangan di liga hanya sebesar 31,9 persen. Angka tersebut menjadi yang terburuk pada era Premier League untuk seorang pelatih Manchester United. Fakta ini memperkuat persepsi bahwa progres yang dijanjikan tidak pernah benar-benar terwujud.
Dengan demikian, pemecatan Ruben Amorim lahir dari persoalan struktural, bukan sekadar luapan emosi sesaat. Perbedaan arah antara visi taktik sang pelatih dengan kerangka organisasi serta tujuan jangka panjang klub menjadi titik masalah yang tak kunjung terjembatani. Mempertahankan proyek yang sama dalam situasi tersebut hanya akan memperpanjang kebuntuan dan menunda perubahan mendasar yang dibutuhkan oleh Manchester United.






