Manchester United resmi mengakhiri kerja sama dengan pelatih Ruben Amorim pada Senin (5/1). Keputusan ini diambil setelah 14 bulan masa jabatannya yang dinilai gagal mengangkat performa klub raksasa Inggris tersebut.
Selama periode tersebut, pelatih asal Portugal itu hanya mampu membukukan 25 kemenangan dari total 63 pertandingan di semua kompetisi. Hasil ini kembali menempatkan Setan Merah dalam fase krusial pencarian pelatih permanen ketujuh sejak Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Skema Taktik yang Tidak Efektif
Salah satu sorotan utama adalah skema taktik yang tidak efektif. Amorim dikenal sukses dengan formasi andalannya 3-4-3 saat melatih Sporting Lisbon, bahkan meraih dua gelar Liga Portugal. Namun, menurut Mureks, pendekatan serupa justru menimbulkan persoalan di Manchester United karena komposisi pemain yang tidak sepenuhnya mendukung sistem tersebut.
Amorim sempat bersikukuh tidak akan mengubah pendekatan ini dalam kondisi apa pun. Fleksibilitas baru terlihat menjelang akhir masa jabatannya, ketika keterbatasan pemain akibat cedera dan Piala Afrika memaksanya beralih ke skema empat bek. Namun, perubahan itu tidak bertahan lama; Amorim kembali menggunakan formasi tiga bek dalam dua laga terakhir yang berakhir imbang melawan Wolves dan Leeds. Hasil tersebut membuat United tertahan di peringkat keenam klasemen, tertinggal tiga poin dari zona Liga Champions.
Gesekan di Bursa Transfer
Ketegangan antara Amorim dan jajaran petinggi klub juga menjadi pemicu. Hal ini mulai mencuat ke publik dalam konferensi pers usai laga di Elland Road, di mana Amorim menegaskan dirinya ditunjuk sebagai “manajer, bukan sekadar pelatih”. Pernyataan tersebut mengindikasikan adanya perbedaan pandangan dengan direktur olahraga Jason Wilcox, khususnya terkait kebijakan transfer.
Meski gagal tampil di kompetisi Eropa musim ini, klub tetap mengucurkan dana lebih dari 200 juta poundsterling untuk mendatangkan sejumlah pemain baru seperti Bryan Mbeumo, Matheus Cunha, dan Benjamin Sesko. Namun, investasi besar tersebut tidak serta-merta berbuah peningkatan performa tim.
Rekor Buruk di Liga Domestik dan Eropa
Catatan Amorim di kompetisi domestik menjadi salah satu noda terbesar dalam sejarah modern Manchester United. Saat Amorim mengambil alih kursi pelatih pada November 2024, United masih berada dekat papan atas. Namun, musim itu berakhir dengan posisi ke-15, pencapaian terburuk klub di liga utama sejak terdegradasi pada 1974.
Amorim sempat mengalihkan fokus ke Liga Europa demi mengamankan tiket Liga Champions, tetapi kekalahan 0-1 dari Tottenham Hotspur di final memupus harapan tersebut dan membuat United absen dari kompetisi Eropa untuk kedua kalinya dalam 35 tahun terakhir. Awal musim berikutnya justru diwarnai kekecewaan setelah United tersingkir secara memalukan dari Piala Liga oleh klub divisi empat, Grimsby.
Minimnya Ruang untuk Pemain Akademi
Kritik lain yang membayangi Amorim ialah minimnya kesempatan bagi pemain lulusan akademi. Meskipun tradisi menyertakan pemain binaan sendiri dalam skuad pertandingan tetap terjaga, sejumlah talenta muda dinilai terpinggirkan. Nama Kobbie Mainoo menjadi sorotan; setelah tampil impresif bersama timnas Inggris di Euro 2024, gelandang muda itu justru belum sekalipun menjadi starter di Liga Primer musim ini.
Amorim membela keputusannya, menyatakan ia “tak mau adanya rasa terlalu berhak untuk tampil di kalangan pemain muda.” Beberapa pemain akademi pun melontarkan kritik kepada Amorim di media sosial.






