Tren

Manager Pasar Induk Kramat Jati Soroti Keterbatasan Armada Picu Penumpukan Ratusan Ton Sampah Harian

JAKARTA – Penumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, menjadi sorotan serius. Volume sampah harian yang mencapai ratusan ton tidak sebanding dengan ketersediaan armada pengangkut, mengakibatkan tumpukan sampah menggunung di area pasar.

Manager Pasar Induk Kramat Jati, Agus Lamun, mengungkapkan bahwa kondisi ini telah berlangsung lama. “Kondisi yang terjadi sekarang ini memang idealnya dari 120 ton sampah yang ada, kita butuh setiap harinya itu 12 sampai dengan 15 armada. Namun demikian, maksimal yang bisa dilakukan oleh Sudin Lingkungan Hidup itu hanya sekitar delapan armada,” kata Agus di Pasar Induk Kramat Jati, Kamis (8/1/2026).

Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.

Menurut Agus, setiap harinya, Pasar Induk Kramat Jati menghasilkan sampah antara 120 hingga 150 ton. Volume masif ini berasal dari aktivitas perdagangan yang berlangsung hampir 24 jam, mulai dari lapak pedagang hingga area bongkar muat barang. Mureks mencatat bahwa jumlah armada yang tersedia jauh di bawah kebutuhan ideal untuk mengelola volume sampah sebesar itu.

Pihak pengelola pasar telah berupaya melakukan pembersihan awal. “Keberadaan sampah itu telah kita lakukan upaya pembersihan mulai dari lapak-lapak pedagang hingga ke tempat pembuangan sementara (TPS) yang ada,” jelas Agus.

Setelah sampah terkumpul di TPS, proses selanjutnya adalah pengangkutan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, yang dilakukan berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta. Namun, Agus menegaskan, keterbatasan jumlah armada menjadi kendala utama dalam proses pengangkutan tersebut.

Idealnya, diperlukan 12 hingga 15 armada pengangkut sampah setiap hari untuk mengangkut seluruh volume sampah yang dihasilkan. Namun, Suku Dinas Lingkungan Hidup hanya dapat menyediakan sekitar delapan unit per hari. “Sehingga setelah itu yang kemudian membuat deposit sampah setiap harinya, dan kondisi itu terus menumpuk hingga seperti sekarang,” tambah Agus.

Meski menghadapi tantangan ini, Agus tetap mengapresiasi upaya maksimal yang telah dilakukan oleh jajaran Dinas Lingkungan Hidup, mulai dari Kepala Dinas, Kepala Suku Dinas LH, hingga Kepala Satuan Pelaksana (Kasatpel) Kramat Jati. “Kami tetap mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh teman-teman dinas, baik Kepala Dinas, Kepala Suku Dinas LH, maupun teman-teman Kepala Satuan Pelaksana (Kasatpel) Kramat Jati yang sudah luar biasa melakukan upaya untuk menanggulangi penanganan sampah di Pasar Induk Kramat Jati ini,” ujarnya.

Agus berharap, persoalan utama terkait pemenuhan jumlah armada pengangkut sampah dapat segera diselesaikan agar sesuai dengan kebutuhan ideal. “Memang patut kita sadari bahwa permasalahannya sudah jelas, yaitu kurangnya armada yang kemudian menyebabkan potensi penumpukan sampah itu terjadi,” pungkasnya. Dengan terpenuhinya armada, diharapkan tidak ada lagi penumpukan sampah yang dapat menimbulkan dampak lingkungan dan mengganggu aktivitas pasar serta warga sekitar.

Mureks