Tren

Mahasiswa Muslim Indonesia di Australia Dihantui Islamofobia: ‘Aku Selalu Merasa Cemas’ Pasca-Penembakan Bondi

Jumat, 02 Januari 2026 – Mahasiswa Muslim asal Indonesia di Australia kini diliputi kekhawatiran mendalam. Pasca-insiden penembakan brutal di Pantai Bondi, Sydney, sentimen Islamofobia dilaporkan menguat, memicu kecemasan akan keselamatan diri dan keluarga mereka.

Peristiwa tragis pada 14 Desember lalu itu menewaskan 15 orang, menyasar komunitas Yahudi saat perayaan Hanukkah di Pantai Bondi. Kepolisian mengidentifikasi pelaku sebagai Sajid dan Naveed Akram, ayah dan anak, yang disebut terinspirasi kelompok militan ISIS. Ironisnya, seorang penjual buah Muslim asal Suriah, Ahmed Al-Ahmed, justru menunjukkan keberanian dengan melucuti salah satu pelaku, meski dirinya turut terluka tembak. Namun, fakta heroik ini tak menghentikan gelombang sentimen Islamofobia yang meningkat di Negeri Kanguru.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

Kecemasan Personal di Tengah Gelombang Islamofobia

Neti, seorang mahasiswi Muslim asal Indonesia di University of Western Australia, Sydney, merasakan dampak personal dari insiden ini. Kampus utamanya di Kensington hanya berjarak sekitar 8 km dari Pantai Bondi. Perempuan berhijab berusia 46 tahun ini mengaku sempat takut keluar rumah, terutama saat harus mengantar anak-anaknya berangkat sekolah.

“Sempat takut keluar, khawatir ketika melepas anak-anak saya sekolah kemarin. Apalagi kami semua berjilbab dan pergi dengan transportasi publik, sangat mudah teridentifikasi,” tutur Neti saat dihubungi CNA Indonesia pada 16 Desember lalu.

Meski diliputi rasa cemas, Neti tetap harus menjalankan aktivitas sehari-hari. “Sementara ini pekan terakhir anak-anak bersekolah, dan saya juga harus keluar ke kampus. Sampai sempat kepikiran untuk tidak usah (berangkat) ke sekolah, dan cancel appointment clinic kampus. Tapi akhirnya berangkat juga,” ujarnya.

Kecemasan serupa juga dialami Hani Noor Ilahi, 36, mahasiswi Indonesia di University of Western Australia, meskipun ia berada sekitar 3.300 km dari Pantai Bondi. Hani mengungkapkan, di luar lingkungan kampus yang multikultural, ia merasakan tensi yang berbeda. Ia menuturkan, masjid-masjid di area kota kini harus dijaga polisi saat salat Jumat karena meningkatnya ketegangan terhadap umat Islam.

Penjagaan ini dilakukan menyusul serangkaian vandalisme. Pada 18 Desember lalu, dinding Masjid Bald Hills di Brisbane dicoreti grafiti bernuansa kebencian terhadap Islam, termasuk gambar swastika. Padahal, masjid tersebut berada di Queensland, ratusan kilometer dari lokasi penembakan.

“Buat kami yang nampak identitas agamanya jadi lebih worry ya. Apalagi kalau lagi di luar lingkungan Muslim, selalu saja ada rasa cemas tentang bagaimana mereka melihat kita,” ungkap Hani.

Peningkatan Laporan Islamofobia dan Disinformasi

Kekhawatiran Neti dan Hani bukan tanpa dasar. Mureks mencatat bahwa Islamofobia Register Australia, sebuah komunitas pemantau, menerima 126 laporan insiden kebencian dalam sepekan setelah penembakan, naik 10 kali lipat dibandingkan dua pekan sebelumnya.

Dewan Imam Nasional Australia juga mencatat peningkatan serupa. Wakil presidennya, Ahmed Abdo, melaporkan perempuan Muslim mengalami pelecehan verbal dan menjadi sasaran gestur tangan meniru senjata api, seperti dilansir The Guardian. Pada 29 Desember lalu, Dewan Imam Nasional Australia merilis pernyataan yang menyebutkan sembilan masjid dan pusat kajian Islam melaporkan tindakan vandalisme atau insiden keamanan serius.

Beberapa insiden termasuk coretan grafiti di Sekolah Islam Melbourne, potongan daging babi yang dilemparkan ke area pemakaman Muslim di Narellan, serta insiden perempuan Muslim yang diludahi, dilecehkan, dan diancam di Perth.

Selain insiden fisik, disinformasi bernada Islamofobia juga meningkat signifikan di media sosial. Australian Associated Press (AAP) Fact Check melaporkan, sebuah video lama aksi protes pro-Palestina pada Oktober 2023 yang meneriakkan “Allahu Akbar” disebarluaskan kembali pasca-penembakan, dengan klaim seolah-olah terjadi setelah serangan Bondi.

Dr. Sara Cheikh Husain, pakar Islamofobia dan penulis buku The Politics of Anti-Islamophobia in Australia, menjelaskan, “[Postingan semacam itu] diunggah ulang untuk membingkai Muslim sebagai teroris atau pembenci radikal melalui narasi Islamofobia, seperti jihadis, teroris, radikal, Muslim, laki-laki Muslim yang marah, pendukung Hamas, pengungsi, dan istilah-istilah serupa, dalam adegan yang digambarkan seolah-olah merayakan serangan di Pantai Bondi.”

Akar Islamofobia dan Kaitannya dengan Sentimen Anti-Palestina

Menurut pengamat terorisme dan intelijen dari Universitas Indonesia, Ridlwan Habib, Islamofobia di Australia bukanlah fenomena baru. “Persoalan ini telah memiliki akar yang panjang dan berkembang sejak lama,” ujarnya, mengaitkannya dengan konteks keterlibatan sebagian Muslim Australia dalam jaringan ekstremisme global, seperti kasus Tareq Kamleh yang bergabung dengan ISIS.

Ridlwan juga menekankan bahwa unggahan bernada Islamofobia pasca-serangan Bondi mencakup berbagai isu terkait Islam dan imigran, “Terutama tentang hijab, kemudian tentang imigran, kemudian tentang isu pengamanan paspor.”

Sara Cheikh Husain menambahkan, narasi “Islam radikal” mencampuradukkan berbagai isu dalam satu kerangka ancaman. “Polanya sejauh ini tetap sama. Yang terjadi kemudian adalah campur-aduk Islamofobia dari tiga narasi saling terkait tentang siapa yang harus disalahkan, yakni tiga kelompok utama yang menjadi sasaran Islamofobia: yaitu Muslim, kelompok pro-Palestina, serta pengungsi dan migran,” jelasnya. Ia menegaskan, label ekstremisme ini melebar untuk menyasar spektrum yang lebih luas, termasuk aktivisme pro-Palestina.

Meski Ahmed Al-Ahmed menunjukkan keberanian, Sara menyayangkan bahwa kisah heroik tersebut tidak menghentikan penyebaran misinformasi untuk mendemonisasi Muslim.

Dukungan dan Harapan Komunitas

Guna mencegah terulangnya serangan serupa, pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh Aceh, Al Chaidar, menyarankan pemerintah Australia melakukan pengumpulan basis data ideologi warganya. Ia juga menekankan pentingnya kampanye yang menegaskan bahwa ISIS tidak mewakili Islam dan menyoroti sosok pahlawan Muslim.

Ridlwan Habib menambahkan, komunitas Muslim Indonesia di Australia harus terus menjalin komunikasi dengan otoritas setempat dan memperkuat solidaritas internal melalui diaspora, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), serta koordinasi dengan KJRI. Ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan di ruang publik, terutama bagi mahasiswi berhijab.

KJRI Sydney sendiri telah mengunggah imbauan kepada WNI di Sydney untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan. Neti dan Hani mengaku selalu memerhatikan imbauan ini. Hani juga menerima email dukungan dari universitasnya, sementara Neti mendapat dukungan informal dari komunitas keagamaan.

“Semoga kita saling menjaga agar tetap aman dan damai semuanya. Kesan pertama saya [datang] ke Australia adalah berbagai komunitas multikultural hidup berdampingan, dan semoga selalu seperti itu,” harap Neti. Senada, Hani berharap mereka yang memiliki identitas agama yang terlihat dapat merasa aman untuk mengekspresikan diri, membuka ruang untuk saling mengenal dan memahami, serta menghindari generalisasi.

Mureks