Pada akhir Oktober 2025, Leica mengumumkan peluncuran kamera bergaya rangefinder terbarunya, Leica M EV1. Dengan tata letak kontrol yang sederhana dan minim tombol, kamera ini hadir dengan electronic viewfinder (EVF) alih-alih rangefinder optik (OVF) tradisional, serta sensor full-frame 60MP. Di atas kertas, spesifikasi M EV1 terdengar sangat menjanjikan.
Namun, seperti halnya produk baru lainnya, tidak semua pihak dapat dipuaskan. Forum daring, khususnya r/Leica di Reddit, terpecah belah menanggapi kamera ini. Para pengguna dan puritan mengeluhkan “kematian” rangefinder dan penghilangan OVF. Sebagai seorang penguji kamera, Nikita Achanta dari Tom’s Guide merasa penasaran untuk mencoba M EV1 dan memutuskan sendiri apakah kritik tersebut beralasan atau sekadar kebencian yang tidak perlu.
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Mureks mencatat bahwa Leica M EV1 dibanderol seharga $8.995 di BHPhoto. Kamera ini dilengkapi sensor BSI CMOS 60.3MP, prosesor Maestro III, dan fitur bantuan fokus manual seperti peaking. Selain itu, M EV1 juga memiliki EVF beresolusi tinggi 5.76M-dot serta opsi cropping tiga resolusi (60MP, 36MP, 18MP).
Kesan Awal: Memukau, tapi Belum Sepenuhnya Meyakinkan
Setelah menggunakan M EV1 selama lebih dari seminggu, termasuk untuk mengabadikan pesta Natal bersama teman-teman, Achanta mengaku terkesan. Namun, ia juga menyatakan, “Saya terkesan… tapi apakah saya yakin?” Pertanyaan ini menjadi inti dari pengalaman awalnya.
Sederhana namun Menantang
Salah satu aspek yang paling disukai Achanta dari Leica M EV1 adalah kesederhanaan yang ia temukan pada setiap kamera Leica yang pernah diujinya: tombol yang minim dan skema kontrol yang lugas membuat pengoperasiannya menyenangkan. Meskipun ia menghargai banyak tombol pada kamera kompleks seperti Sony A1 II, ia juga menyukai kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan Leica.
Namun, kemudahan kontrol M EV1 tidak serta-merta membuat fotografi menjadi mudah. Sebagai kamera bergaya rangefinder, M EV1 tidak memiliki fitur autofokus. Pengguna harus memutar cincin fokus pada lensa secara manual untuk mendapatkan fokus pada subjek.
Berbeda dengan rangefinder tradisional seperti Leica M11-D yang mengharuskan pengguna menyelaraskan dua gambar untuk fokus, M EV1 mengandalkan EVF 5.76M-dot dengan bantuan fokus dan peaking. Fitur focus peaking membantu membingkai subjek dengan menampilkan garis merah di sekelilingnya. Proses ini, menurut Achanta, “sedikit menantang tetapi menyenangkan, dan itu membuat Anda melambat, menikmati lingkungan sekitar, serta meluangkan waktu untuk membingkai subjek Anda.” Baginya, ini membuatnya lebih mempertimbangkan apa dan siapa yang ia abadikan.
Saat memotret manusia dan bangunan, fitur ini terbukti mudah. Tantangan sesungguhnya muncul ketika Achanta mencoba memotret kucing peliharaan sahabatnya, Bunny dan Dougie. Dougie yang pemalu memilih bersembunyi di bawah sofa, namun Bunny berpose beberapa kali. M EV1 sempat kesulitan fokus pada Bunny karena kucing hitam dengan kumis tipis itu. Proses memotretnya membutuhkan banyak percobaan, dengan kamera sesekali menunjukkan garis merah samar pada kumisnya. Meski demikian, beberapa foto yang berhasil fokus menunjukkan detail yang sangat tinggi.
Kualitas Gambar dan Warna yang Tak Tertandingi
Jika ada satu hal yang menjadi keunggulan Leica, itu adalah kualitas gambar yang luar biasa dan warna yang akurat — dan Leica M EV1 tidak terkecuali. Dengan sensor BSI CMOS 60.3MP dan prosesor Maestro III, M EV1 menghasilkan gambar memukau yang kaya detail. Warna-warna yang dihasilkan tampak sangat indah, dan Achanta menegaskan bahwa ia “belum mengedit foto-foto ini selain beberapa cropping dalam pascaproduksi.”
Kontrol penuh atas area fokus memungkinkan Achanta untuk fokus secara presisi pada subjek, menghasilkan beberapa bidikan sinematik, baik dengan efek bokeh latar belakang maupun blur latar depan. Dalam pesta Natal, teman-teman Achanta mengenakan kostum ikon Natal seperti Grinch, Cindy Lou Who, dan Nessa dari Gavin and Stacey. Achanta sendiri (tidak ada dalam foto) berperan sebagai Rudolph si rusa berhidung merah.
Beberapa profil warna juga dicoba, seperti Vivid dan Natural, tergantung pada tampilan yang diinginkan. Namun, favorit Achanta adalah Monochrom High Contrast, yang membuat foto terlihat dramatis. Ia bahkan menyatakan, “Saya mungkin lebih menyukainya daripada Acros Fujifilm, sejujurnya!”
Untuk Siapa Kamera Ini?
Meskipun telah menggunakan Leica M EV1 selama seminggu, Achanta belum sepenuhnya menguji kamera ini sebelum menulis ulasan lengkap dan memberikan peringkat. Kesan awalnya sangat positif. M EV1 menyenangkan untuk digunakan dan memiliki daya tarik tersendiri. Kualitas gambar, seperti yang diharapkan, tajam dan luar biasa, sementara fokus manual bergaya rangefinder terasa menantang sekaligus menyenangkan.
Namun, untuk siapa sebenarnya M EV1 ini? Kamera ini bukan untuk fotografer profesional sebagai “kuda kerja” utama, mengingat kecepatan drive tinggi terbatas pada 4.5fps (hampir identik dengan Sony RX1R III), tidak ada perekaman video seperti Leica SL3, dan tidak ada stabilisasi gambar (mirip dengan Fujifilm GFX100RF bergaya rangefinder). Ini adalah evolusi dari Seri M rangefinder, yang mencakup Leica M11-D, tetapi siapa target pasarnya?
Pertanyaan tersebut, menurut Achanta, akan terjawab setelah ia menyelesaikan ulasan penuh M EV1. Untuk saat ini, ia tetap terkesan namun berhati-hati dalam optimisme.






