Tren

LRT Jabodebek Temukan Hampir 7.000 Barang Tertinggal Sepanjang 2025, Total Nilai Rp797 Juta

JAKARTA – PT LRT Jabodebek mencatat penemuan ribuan barang milik penumpang yang tertinggal di area stasiun maupun dalam rangkaian kereta sepanjang tahun 2025. Total 6.995 barang berhasil diamankan oleh petugas dengan estimasi nilai mencapai Rp797,7 juta.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.399 barang telah berhasil dikembalikan kepada pemiliknya setelah melalui proses verifikasi data yang dilakukan oleh petugas stasiun. Sisa barang yang belum diambil masih disimpan di tempat penyimpanan yang disediakan oleh pihak pengelola.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Manager Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, menekankan pentingnya pengelolaan barang bawaan penumpang untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan bersama. “Barang bawaan adalah bagian dari aktivitas masyarakat kota. Ketika ditempatkan secara tepat, ruang perjalanan dapat tetap berfungsi optimal bagi semua pengguna,” ujar Radhitya di Jakarta, Rabu (7/1).

Menurut Radhitya, transportasi publik merupakan ruang bersama yang menuntut kesadaran kolektif dari para pengguna. PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai operator telah menetapkan aturan dimensi bagasi maksimal 100x40x30 sentimeter. Penumpang juga dilarang membawa benda berbahaya ke area stasiun atau rangkaian kereta.

Penumpang diimbau untuk meletakkan barang bawaan pada rak di atas kursi atau memanfaatkan area khusus penyimpanan di dalam rangkaian kereta agar tidak mengganggu pergerakan orang lain. Mureks mencatat bahwa kesadaran penumpang dalam mengelola barang bawaan sangat krusial untuk kelancaran operasional dan kenyamanan bersama.

Untuk memfasilitasi penumpang, LRT Jabodebek juga menyediakan layanan penitipan barang di Stasiun Halim. Layanan ini beroperasi setiap hari mulai pukul 05.00 hingga 23.00 WIB dengan durasi maksimal penitipan 72 jam.

Andi, salah seorang pengguna layanan LRT Jabodebek, membagikan pengalamannya. “Saya terkadang membawa sepeda alias sepedaan dari satu titik ke titik tujuan. Semisal malas membawa masuk sepeda ke dalam kereta LRT Jabodebek, saya terkadang menitipkan barang atau dikunci ganda dalam parkiran khusus sepeda,” katanya.

Radhitya menambahkan, “Transportasi publik tidak hanya berbicara tentang perpindahan dari satu titik ke titik lain, tetapi tentang bagaimana ruang mobilitas dikelola. Pengaturan bagasi, penitipan barang, hingga layanan barang temuan menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman perjalanan yang aman, tertib, dan berkelanjutan.”

Referensi penulisan: koran-jakarta.com

Mureks