Jakarta, Mureks – Industri reksa dana di Indonesia menunjukkan kinerja impresif sepanjang tahun 2025 dan diproyeksikan akan melanjutkan tren positifnya hingga 2026. Data terbaru dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat pertumbuhan signifikan pada dana kelolaan (Asset Under Management/AUM) serta jumlah investor.
Menurut pantauan Mureks, nilai AUM reksa dana tercatat melonjak 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai angka Rp 996 triliun per 24 Desember 2025. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap instrumen investasi yang fleksibel dan terjangkau.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
Pertumbuhan Investor dan Produk Reksa Dana
KSEI juga melaporkan bahwa jumlah investor reksa dana di Indonesia telah mencapai 19,17 juta Single Investor Identification (SID) pada akhir 2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 37 persen dibandingkan posisi tahun 2024 yang sebanyak 14,03 juta investor, menandakan semakin luasnya inklusi keuangan di sektor pasar modal.
Tidak hanya itu, jumlah produk reksa dana dan instrumen investasi lain yang tercatat di KSEI juga bertambah. Totalnya mencapai 2.317 produk, meningkat sekitar 2 persen dari tahun sebelumnya. Penambahan ini memberikan lebih banyak pilihan bagi investor, baik ritel maupun institusi, untuk diversifikasi portofolio mereka.
Prospek Positif di Tengah Penurunan Suku Bunga
Fund Manager Syailendra Capital, Rendy Wijaya, optimistis terhadap prospek reksa dana di tahun 2026. Ia menyoroti sentimen global positif yang akan didorong oleh potensi penurunan suku bunga acuan. “Investasi pada reksa dana masih memiliki prospek yang positif pada 2026,” ujar Rendy kepada Liputan6.com.
Rendy menjelaskan, di tengah tren penurunan suku bunga yang berkelanjutan, beberapa jenis reksa dana berpotensi mendapatkan katalis positif:
- Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT): Terutama yang didominasi oleh obligasi pemerintah. Rendy menyebut, “Salah satunya adalah Syailendra Fixed Income Fund (SFIF) yang mengalokasikan 94,5% dana ke Obligasi Pemerintah dan berhasil mencetak imbal hasil sebesar 9,51% dalam 1Y terakhir.” Investor juga dapat memanfaatkan obligasi korporasi yang lebih solid. “Salah satunya adalah Syailendra Pendapatan Tetap Premium (SPTP) maupun Syailendra Pendapatan Total Return (SPTR-A) yang dibekali dengan fitur dividen dan mengalokasikan 70% dana ke obligasi korporasi,” kata dia.
- Reksa Dana Saham: Menjadi pilihan menarik karena kondisi dividen dan earnings yield yang melebihi bond yield, membuat instrumen saham lebih atraktif dibandingkan obligasi. “Salah satu produk Syailendra yang layak diperhatikan investor adalah Syailendra Alpha Focus Equity Fund (SAFE) dan Syailendra Equity Oppurtunity Fund (SEOF) yang dikelola secara aktif dan berhasil mencetak imbal hasil lebih dari 20 persen dalam setahun,” ujar Rendy.
Faktor Penentu Pasar Obligasi 2026
Terkait prospek obligasi pada 2026, Rendy menambahkan bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi domestik dan sentimen positif dari pasar global, khususnya penurunan tingkat suku bunga acuan oleh berbagai bank sentral, dapat memberikan dampak positif. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan investor:
- Tren suku bunga ke depan.
- Defisit fiskal yang berpengaruh terhadap kebutuhan pembiayaan program pemerintah.
- Stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, pasar reksa dana dan obligasi di Indonesia diproyeksikan tetap menarik bagi investor yang mencari peluang pertumbuhan di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.






