Keuangan

Krisis Ekonomi Iran Memanas: Rial Anjlok, Unjuk Rasa Meluas, Tujuh Korban Jiwa Dilaporkan

Teheran, Iran – Gelombang unjuk rasa besar-besaran mengguncang sejumlah provinsi di Iran, menelan korban jiwa tujuh warga sipil. Demonstrasi ini dipicu oleh krisis ekonomi yang parah, ditandai dengan anjloknya nilai tukar mata uang Rial dan lonjakan inflasi yang membebani masyarakat.

Aksi protes bermula pada Minggu (28/12/2025) ketika para pengusaha di berbagai daerah memilih menutup toko mereka. Langkah ini merupakan bentuk penolakan terhadap kondisi ekonomi yang kian memburuk. Menurut laporan Al Jazeera, para pengusaha secara spesifik mengkritik pemerintah atas merosotnya nilai tukar Rial Iran yang kini mencapai 1,42 juta per 1 dolar Amerika Serikat (AS). Mureks mencatat bahwa nilai ini telah terjun bebas hingga 56 persen hanya dalam kurun waktu enam bulan terakhir.

Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Inflasi Mencekik dan Kekecewaan Warga

Keruntuhan nilai tukar Rial secara drastis ini memicu inflasi yang tak terkendali, menyebabkan harga kebutuhan pokok melonjak tajam. Rata-rata, harga makanan telah naik 72 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menciptakan tekanan ekonomi yang luar biasa bagi rumah tangga di Iran.

Majid Ebrhimi, seorang sopir taksi, menyuarakan kekecewaannya terhadap prioritas pemerintah. “Seandainya pemerintah, alih-alih hanya fokus pada bahan bakar, dapat menurunkan harga barang-barang lainnya,” kata Majid sebagaimana dikutip dari Al Jazeera. Ia menambahkan, “Harga produk susu telah naik enam kali lipat tahun ini dan barang-barang lainnya lebih dari 10 kali lipat.”

Sanksi Barat dan Eskalasi Protes Politik

Krisis ekonomi Iran tidak dapat dilepaskan dari bayang-bayang sanksi yang diberlakukan oleh negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat (AS). Kebijakan luar negeri Paman Sam ini secara efektif telah memukul perekonomian Iran, salah satu negara produsen minyak terbesar di dunia.

Berawal dari protes para pemilik toko dan krisis yang mendalam, masyarakat akhirnya turun ke jalan untuk menyampaikan kritik keras terhadap pemerintah. Seiring meluasnya unjuk rasa ke berbagai daerah, demonstrasi ini kemudian berkembang menjadi protes politik yang lebih luas. Media setempat melaporkan bahwa para demonstran melempari kantor pemerintahan daerah dengan batu. Kantor gubernur hingga bank-bank lokal juga tidak luput dari sasaran kemarahan massa.

Korban Jiwa dan Respons Pemerintah

Dalam rentetan peristiwa tersebut, sebanyak tujuh orang dilaporkan meninggal dunia dan 44 orang lainnya ditangkap. Salah satu korban tewas adalah anggota The Basij, pasukan relawan yang terafiliasi dengan Garda Revolusi Iran (IRGC).

Wakil Gubernur Provinsi Lorestan, Iran, dalam siaran televisi resmi Iran pada Jumat (2/1/2026), mengonfirmasi insiden tersebut. “Seorang anggota Basij berusia 21 tahun dari kota Kouh Dasht tewas tadi malam akibat serangan demonstran saat membela ketertiban umum,” ujarnya.

Menanggapi situasi yang memanas, pemerintah Iran mengambil langkah cepat dengan menunjuk Abdolnaser Hemmati sebagai Gubernur Bank Sentral baru pada Rabu (31/12/2025). Hemmati berjanji akan berupaya memulihkan stabilitas ekonomi Iran setelah mata uang negara itu terjun bebas. Tim redaksi Mureks akan terus memantau perkembangan situasi di Iran.

Mureks