Kolombia mengerahkan 30.000 personel militer ke perbatasan dengan Venezuela. Langkah ini diambil menyusul agresi Amerika Serikat (AS) yang menggempur Ibu Kota Caracas dan menculik Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya pada 3 Desember lalu.
Pengerahan pasukan ini bertujuan untuk mengantisipasi dan menanggapi potensi peristiwa di wilayah tersebut, serta melindungi kedaulatan negara.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Tujuan Pengerahan Pasukan
Radio Nacional de Columbia, media pemerintah Kolombia, melaporkan bahwa perintah pengerahan 30.000 pasukan ke wilayah perbatasan telah dikeluarkan. Informasi ini dibenarkan oleh Direktur Departemen Administrasi Kepresidenan Kolombia, Angie Lizeth Rodriguez.
Rodriguez menjelaskan, perintah tersebut dikeluarkan pada Minggu, sehari setelah agresi AS. Menurutnya, pengerahan ini merupakan bagian dari strategi pertahanan dan integritas wilayah.
“[Dengan tujuan] mengantisipasi dan menanggapi peristiwa di daerah tersebut,” demikian laporan radio itu, dikutip The National pada Senin (5/1). Rodriguez menambahkan, “Untuk pertahanan dan integritas wilayah serta untuk menjaga keamanan masyarakat perbatasan di tengah meningkatnya ketegangan regional.”
Kondisi Perbatasan dan Kecaman Internasional
Perbatasan Kolombia-Venezuela dikenal sebagai jalur utama perdagangan narkoba dan senjata ilegal. Kawasan ini sering menjadi lokasi bentrokan antara tentara dan pasukan keamanan Kolombia dengan kelompok gerilya serta kriminal yang aktif di sana.
Mureks mencatat bahwa operasi AS yang membombardir Caracas dan menculik Maduro beserta istrinya pada 3 Desember, kemudian menerbangkan mereka ke Amerika Serikat, telah memicu kecaman luas dari komunitas internasional.
Presiden Kolombia Gustavo Petro, yang sebelumnya menjadi target Presiden Donald Trump, turut mengecam tindakan AS tersebut. Ia menilai agresi itu melanggar hukum internasional dan kedaulatan negara lain.






