Olahraga

Kisah Luka Modric: Jose Mourinho Pernah Buat Cristiano Ronaldo Menangis di Real Madrid

Luka Modric, gelandang veteran yang kini membela AC Milan, baru-baru ini membuat pengakuan mengejutkan. Ia menyebut Jose Mourinho sebagai manajer paling keras yang pernah melatihnya sepanjang karier. Bahkan, menurut Modric, pelatih asal Portugal itu pernah membuat megabintang Cristiano Ronaldo menangis di ruang ganti Real Madrid.

Modric pertama kali bekerja di bawah Mourinho saat didatangkan ke Santiago Bernabeu dari Tottenham Hotspur pada Agustus 2012. Real Madrid menggelontorkan sekitar €30 juta untuk memboyong gelandang Kroasia tersebut. Modric langsung merasakan atmosfer juara dengan memenangi Piala Super Spanyol 2012 pada debutnya, mengalahkan rival abadi Barcelona.

Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id

Namun, musim 2012/13 menjadi periode yang penuh tantangan. Real Madrid harus puas finis di posisi kedua La Liga, tertinggal 15 poin dari Barcelona asuhan Tito Vilanova. Mereka juga kalah di final Copa del Rey dari Atletico Madrid dan tersingkir di semifinal Liga Champions oleh Borussia Dortmund yang kala itu dilatih Jurgen Klopp.

Meski hanya semusim bekerja sama, Modric menyimpan kesan mendalam terhadap Mourinho. Dalam wawancaranya dengan Corriere della Sera, ia mengungkapkan, “Dia spesial, sebagai pelatih dan sebagai pribadi. Dialah yang menginginkan saya di Real Madrid. Tanpa Mourinho, saya tidak akan pernah tiba di sana. Saya hanya menyesal bekerja dengannya cuma satu musim.”

Modric kemudian menceritakan salah satu momen paling intens yang menunjukkan ketegasan Mourinho. “Saya pernah melihatnya membuat Cristiano Ronaldo menangis di ruang ganti. Seorang pemain yang selalu memberikan segalanya di lapangan, hanya karena sekali itu ia tidak mengejar bek sayap lawan,” beber Modric. Ia menambahkan, “Mourinho sangat terus terang kepada pemain, dia jujur. Ia memperlakukan Sergio Ramos dan pemain baru dengan cara yang sama. Jika ada yang perlu disampaikan, dia akan mengatakannya langsung. Max [Allegri] juga seperti itu, dia akan mengatakannya di hadapan Anda jika ada yang salah. Kejujuran itu fundamental.”

Setelah kepergian Mourinho, Modric tetap menjadi pilar penting Real Madrid selama 12 tahun berikutnya. Ia mengukir segudang prestasi, termasuk meraih tiga gelar Liga Champions beruntun di bawah Zinedine Zidane pada 2016, 2017, dan 2018. Bersama Carlo Ancelotti, ia kembali mengangkat trofi Si Kuping Besar pada 2022 dan 2024. Di level internasional, Modric juga sukses membawa Kroasia meraih medali perunggu Piala Dunia 2022.

Setelah mengakhiri karier panjangnya di Real Madrid, Modric bergabung dengan AC Milan secara gratis pada musim panas lalu. Mureks mencatat bahwa di usianya yang ke-40, Modric tetap tampil impresif dan menjadi bagian penting kebangkitan Rossoneri yang kini menempati posisi kedua klasemen Serie A. Di bawah arahan Massimiliano Allegri, Modric merasa nyaman. Ia menyebut Allegri sebagai seorang “maestro”, dengan berkata: “Dia punya kepribadian luar biasa. Sedikit mirip Ancelotti: sensitif, lucu, dan suka bercanda. Tapi di lapangan, sebagai pelatih, dia seorang maestro. Tak banyak yang memahami sepakbola seperti dirinya.” Modric melanjutkan, “Saya tidak begitu mengenalnya, tetapi saya senang dia menjadi pelatih saya sekarang.”

Modric dijadwalkan kembali beraksi di Serie A saat AC Milan bertandang ke markas Cagliari pada Sabtu (3/1) dini hari WIB. Setelah itu, ia akan menghadapi dua laga berat dalam sepekan melawan Genoa dan Fiorentina.

Mureks