Olahraga

Kisah Kunlavut Vitidsarn: Juara Dunia yang Tak Pernah Puas, Terus Diasah Lee Chong Wei

Kuala Lumpur, Mureks – Meski menyandang status juara dunia dan menduduki peringkat kedua dunia, pebulutangkis tunggal putra Thailand, Kunlavut Vitidsarn, bersikeras bahwa ia masih jauh dari standar yang ingin dicapainya. Di balik perjalanan kariernya yang gemilang, ada sosok legenda yang terus membimbingnya: Datuk Seri Lee Chong Wei, idolanya sejak kecil.

Pemain berusia 24 tahun itu memang melaju dengan mudah ke babak 16 besar Malaysia Open 2026. Namun, alih-alih membicarakan hasil pertandingan, Kunlavut justru lebih banyak menyoroti keraguan diri, proses pertumbuhan, dan bimbingan yang ia terima.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Keraguan Diri dan Nasihat Sang Idola

“Saya belum cukup bagus,” aku Kunlavut setelah mengalahkan Wang Tzu Wei dari Taiwan dengan skor 21-10, 21-13 di babak pertama yang berlangsung di Axiata Arena pada Rabu (07/01/2026). Ia menambahkan, “Saat melawan pemain-pemain top, serangan saya masih belum kuat. Saya sendiri tahu itu, masih banyak yang harus dipelajari. Di setiap sesi latihan, di setiap pertandingan yang saya mainkan, saya selalu mempelajari hal baru.”

Kunlavut Vitidsarn mengungkapkan bahwa ia sempat bertemu dengan Chong Wei pada awal pekan ini. Pertemuan tersebut, menurutnya, sangat kental dengan nuansa Malaysia.

“Kami bertemu tadi dan pergi makan. Dia mengajakku ke tempat yang bagus, aku tidak yakin di mana tepatnya, tapi tempat itu sangat jauh dari hotelku,” katanya sambil tertawa.

Sesi makan malam tersebut menjadi cerminan persahabatan mereka yang semakin erat, hanya dua tahun setelah keduanya pertama kali bertemu di Malaysia Open 2023. Ketika Kunlavut Vitidsarn memenangkan Kejuaraan Dunia di tahun yang sama, ia secara spesifik menyebut bimbingan Chong Wei sebagai salah satu faktor penentu keberhasilannya.

“Setiap kali saya berada di kota, kami akan nongkrong bersama jika dia sedang luang. Dia selalu sibuk,” jelas Kunlavut.

Namun, makan malam bersama seorang legenda tidak berlangsung santai untuk waktu yang lama. Kunlavut mengaku mendapatkan beberapa nasihat penting dari Chong Wei.

“Saya mendapat beberapa nasihat darinya. Dia menyuruh saya untuk lebih banyak menyerang dan memberi tekanan lebih pada lawan,” ujar Kunlavut. “Ketika saya mendapat kesempatan, terkadang saya melakukan kesalahan yang mudah. ​​Saya perlu lebih berani.”

Konsistensi dan Standar Tinggi

Bagi Kunlavut, nasihat itu bukan sekadar catatan taktis, melainkan pengingat akan pola pikir yang sedang ia kejar. Mureks mencatat bahwa kerendahan hati Kunlavut patut dicontoh. Ketika diingatkan bahwa dirinya adalah juara dunia, ia hanya tersenyum dan menjawab, “Itu keberuntungan. Saya tahu saya belum menjadi pemain top. Saya hanya pemain biasa. Saya perlu bekerja lebih keras.”

Kunlavut Vitidsarn mengakui bahwa ia masih kesulitan untuk menjaga konsistensi dari satu turnamen ke turnamen berikutnya. “Terkadang setelah saya menang, di turnamen berikutnya saya kalah di babak awal. Tahun ini saya berharap bisa lebih stabil — selangkah demi selangkah.”

Ia menyadari bahwa nomor tunggal putra adalah kategori yang sangat sulit. “Target saya adalah mencapai semifinal terlebih dahulu. Di setiap pertandingan, saya hanya berusaha sebaik mungkin,” tambahnya.

Pebulutangkis Thailand ini menunjuk pemain peringkat satu dunia, Shi Yuqi, sebagai standar yang harus ia lampaui. “Saat melawan Yuqi, sering kali saya hanya bertahan. Jika permainan menyerang saya meningkat, saya bisa lebih menekannya — maka saya punya peluang.”

Selain Shi Yuqi, juara Olimpiade asal Denmark, Viktor Axelsen, juga menjadi tolok ukur konstan lainnya bagi Kunlavut. “Yuqi dan Axelsen — keduanya adalah pemain kelas atas.”

Bagi Kunlavut Vitidsarn, kerendahan hati bukanlah sebuah sandiwara, melainkan cara ia memproses bidang yang menurutnya lebih ketat dari sebelumnya. “Setiap lawan itu sulit. Sekarang setiap negara kuat — 15 negara teratas hampir berada pada level yang sama.”

Oleh karena itu, ia memilih untuk menjaga fokusnya tetap kecil: satu pertandingan, satu pelajaran dalam satu waktu. “Lihat dulu pertandingan besok — apakah Koki Watanabe (Jepang) atau Weng Hong Yang (China). Mereka pemain top lagi. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk mengalahkan mereka.”

Referensi penulisan: www.ligaolahraga.com

Mureks