Iran meningkatkan penindakan keras terhadap gelombang protes yang melanda seluruh negeri, bahkan mengancam para demonstran dengan hukuman mati. Langkah ini diambil di tengah ekspektasi kerusuhan yang lebih luas, terutama menjelang Jumat (9/1/2026) malam.
Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa Republik Islam tidak akan mentolerir “vandalisme” atau “orang-orang yang bertindak sebagai tentara bayaran untuk kekuatan asing,” demikian laporan Press TV yang dikelola pemerintah.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Menyusul pernyataan tersebut, jaksa di Teheran memperingatkan bahwa siapa pun yang merusak properti publik selama kerusuhan akan menghadapi hukuman mati.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang memiliki mandat untuk melindungi pilar-pilar revolusi 1979, juga mengeluarkan pernyataan tegas. Mereka menyatakan, “kelanjutan situasi ini tidak dapat diterima” dan menegaskan hak mereka untuk membalas “insiden teroris.”
Pernyataan-pernyataan ini mengindikasikan peningkatan respons otoritas terhadap demonstrasi yang telah berlangsung hampir dua pekan. Padahal, Presiden Masoud Pezeshkian sebelumnya telah menunjukkan pemakluman terhadap keluhan ekonomi para demonstran dan memerintahkan pasukan keamanan untuk menahan diri.
Ribuan demonstran telah turun ke jalan di berbagai wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran. Catatan Mureks menunjukkan, gelombang protes ini terus meluas dan menjadi perhatian serius di kancah global.






