JAKARTA – Harga tiket masuk Museum Nasional Indonesia di Jakarta Pusat resmi naik dua kali lipat, dari semula Rp25.000 menjadi Rp50.000 untuk pengunjung dewasa, mulai 1 Januari 2026. Kenaikan tarif ini, menurut Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin, merupakan langkah krusial untuk meningkatkan perawatan dan pemeliharaan koleksi museum.
Indira menjelaskan, penyesuaian tarif ini bertujuan agar Museum Nasional Indonesia dapat terus merawat koleksinya sesuai standar pemeliharaan internasional. “Penyesuaian tarif dilakukan agar Museum Nasional Indonesia dan koleksinya dapat terus dirawat sesuai standar pemeliharaan internasional serta tetap menjadi ruang yang nyaman dan bermakna bagi masyarakat,” tegas Indira di Jakarta, Senin (05/01/2026).
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Sebagai institusi yang mengemban tugas menjaga warisan arkeologi, sejarah, etnografi, dan numismatika Indonesia, Museum Nasional sangat bergantung pada berbagai sumber pendanaan. Selain dana pemerintah dan filantropi, pemasukan dari tiket pengunjung menjadi salah satu pilar utama untuk mendukung pemeliharaan koleksi dan pelayanan publik.
Kementerian Kebudayaan, sebagai penanggung jawab institusi Museum Cagar Budaya, telah menyetujui kenaikan tarif ini. Meski demikian, kebijakan tarif khusus tetap berlaku bagi penyandang disabilitas, warga berusia di atas 60 tahun, serta pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan KIP Kuliah.
Peningkatan Pemeliharaan Pasca-Repatriasi Fosil
Kenaikan tarif ini juga tidak lepas dari tuntutan peningkatan pemeliharaan koleksi, terutama setelah Museum Nasional Indonesia menerima fosil koleksi Eugene Dubois yang dipulangkan dari Belanda. Mureks mencatat bahwa repatriasi ini menempatkan museum pada posisi strategis sebagai pusat rujukan pengetahuan, penelitian, dan edukasi yang membutuhkan standar perawatan tinggi.
Dalam waktu dekat, pengelola museum berencana mengadakan pameran khusus pada semester pertama tahun 2026 untuk memamerkan koleksi fosil tersebut kepada publik. Pameran ini akan dirancang secara imersif, menghadirkan pengalaman edukasi interaktif berbasis teknologi.
Selain itu, dalam jangka panjang, Museum Nasional Indonesia akan melanjutkan renovasi enam ruang pamer yang sempat terbakar pada tahun 2023. Perbaikan ini akan didukung oleh kolaborasi antara pemerintah, pihak swasta, dan publik. Museum juga tetap menyediakan berbagai sarana pendukung bagi pengunjung, seperti taman, masjid, kantin, dan aula.






