Aktris Katie Leung, yang dikenal luas lewat perannya sebagai Cho Chang dalam waralaba film Harry Potter, baru-baru ini membuka diri mengenai sisi gelap dari ketenaran yang ia alami. Leung mengaku menjadi sasaran perundungan rasis secara masif di internet, sebuah pengalaman yang meninggalkan dampak psikologis mendalam di usia remajanya.
Pengalaman pahit tersebut bermula sejak pengumuman dirinya terpilih sebagai pemeran kekasih Harry Potter dan Cedric Diggory dalam film Harry Potter and the Goblet of Fire. Dalam wawancara terbarunya bersama The Guardian, yang dilansir oleh Mashable Indonesia, Leung menceritakan bagaimana sorotan publik di usia muda menjadi beban berat.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Perundungan Rasis di Awal Karier
Leung, yang melakukan debut layar lebar pada tahun 2005 saat masih remaja, mengungkapkan bahwa antusiasme atas peran besar di Harry Potter berubah menjadi pengalaman pahit ketika kabar casting-nya bocor di internet. Sejak saat itu, ia menerima banyak komentar bernada kebencian, termasuk serangan rasis yang menyoroti latar belakang etnisnya.
“Sejak awal rasanya sudah sangat berat. Berada di pusat perhatian sejak usia segitu, ketika kamu sudah merasa tidak aman dengan diri sendiri, itu sangat sulit. Saat itu aku memang bersenang-senang, tapi sampai sekarang aku masih mencoba memahami bagaimana semua itu memengaruhiku,” ujar Leung.
Leung mengenang, di usia tersebut, rasa ingin tahu mendorongnya untuk mencari namanya sendiri di internet, meskipun ia tahu akan menemukan komentar negatif. “Aku tidak tahu apakah pada saat itu ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk membuat situasinya lebih baik. Di usia tersebut, rasa ingin tahu sangat besar. Aku ingat sering mencari namaku sendiri di internet untuk melihat apa yang orang katakan tentang diriku. Tidak ada yang bisa menghentikanku, karena aku merasa sudah cukup dewasa untuk menentukan sendiri,” tambahnya.
Aktris berusia 38 tahun ini mengakui bahwa ia tidak memiliki bekal emosional atau pemahaman untuk menghadapi gelombang komentar menyakitkan tersebut. “Aku tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Semua itu hanya kupendam, dan ternyata berpengaruh dalam banyak hal. Aku menjadi lebih tertutup, lebih berhati-hati dengan apa yang aku katakan. Untuk waktu yang lama, mungkin aku berusaha menebusnya dan justru terlalu berlebihan,” jelasnya.
Dalam ringkasan Mureks, Leung juga mengungkap alasan personal yang mendorongnya mengikuti audisi terbuka Harry Potter. Ia mengatakan bahwa keikutsertaannya dalam audisi tersebut dilandasi harapan sederhana sebagai remaja berusia 16 tahun. “Orang tuaku sudah lama berpisah dan jarang bertemu. Di pikiranku saat itu, masih ada kemungkinan mereka bisa bersama lagi. Aku tidak benar-benar berpikir akan mendapatkan perannya,” paparnya.
Babak Baru di Bridgerton
Kini, Leung melanjutkan kariernya dengan tampil dalam musim keempat serial populer Netflix, Bridgerton, yang dijadwalkan tayang pada 29 Januari 2026 mendatang. Ia memerankan Lady Araminta Gun, seorang bangsawan aristokrat yang dingin dan penuh perhitungan, serta ibu tiri dari Sophie Baek, karakter muda yang digambarkan sebagai ‘berlian’ masyarakat kelas atas.
Menurut Leung, keterlibatannya dalam Bridgerton menghadirkan nuansa yang terasa akrab namun dengan perspektif yang jauh lebih matang. “Rasanya cukup familiarr. Sekarang aku berada di fase hidup di mana aku tidak terlalu gentar menghadapi proyek sebesar ini. Aku iri dengan generasi yang lebih muda, karena mereka bisa melihat representasi diri mereka di layar. Aku tahu itu akan sangat berarti bagiku jika dulu mengalaminya,” ungkapnya.
Leung juga memuji pendekatan “color-conscious casting” yang diterapkan dalam Bridgerton, sebuah konsep inklusivitas yang dipopulerkan oleh kreator serial tersebut, Shonda Rhimes. “Keberagaman dan inklusi, baik di depan maupun di balik kamera, benar-benar terasa,” ujar Leung. “Kamu bisa melihat dan merasakannya. Itu membuatku merasa aman untuk benar-benar bermain sebagai aktor. Kesuksesan serial ini bukan hanya karena keberagamannya, tapi juga karena penulisan, penyutradaraan, akting, dan relasi antarkarakternya yang kuat.”
Sebagai seorang ibu, Leung kini memandang kariernya dengan sudut pandang yang berbeda. Ia tetap menaruh perhatian besar pada kualitas akting dan profesionalisme, namun tidak lagi menjadikan dunia hiburan sebagai satu-satunya pusat kehidupannya. Pengalaman masa lalu, termasuk perundungan yang pernah ia alami, membentuk ketahanan mental yang membuatnya lebih siap menghadapi sorotan publik, sekaligus lebih seimbang dalam menjalani peran sebagai aktris dan sebagai pribadi di luar layar.






