Internasional

Iran Tak Ingin Perang dengan Israel-AS, Namun Siap Membalas Jika Diserang Lagi

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya tidak menginginkan perang dengan Israel maupun Amerika Serikat (AS). Namun, Teheran siap membalas jika kembali diserang. Pernyataan ini disampaikan Araghchi dalam kunjungan kenegaraan dua hari ke Lebanon, Jumat (9/1/2026), di tengah meningkatnya kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan.

Kekhawatiran tersebut muncul setelah Israel, sekutu dekat AS, melancarkan serangan selama 12 hari pada Juni tahun lalu. Serangan itu menewaskan sejumlah pejabat militer senior dan ilmuwan nuklir Iran. Di sisi lain, AS juga mengebom situs pengayaan nuklir Iran, menambah ketegangan yang sudah ada.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

Dalam kesempatan yang sama, Araghchi juga menyatakan kesiapan Iran untuk bernegosiasi dengan AS terkait program nuklirnya. Syaratnya, negosiasi harus didasari rasa saling menghormati, tanpa adanya sikap “mendikte” dari Washington.

“Kami Tidak Menginginkan Perang, Tapi Siap untuk Itu”

“Amerika dan Israel telah menguji serangan mereka terhadap Iran dan serangan ini serta strateginya mengalami kegagalan besar. Jika mereka mengulangnya, mereka akan menghadapi hasil yang sama,” tegas Araghchi.

“Kami siap untuk pilihan apa pun. Kami tidak menginginkan perang, tetapi kami siap untuk itu,” imbuhnya, seperti dipantau Mureks.

Presiden AS Donald Trump diketahui memberlakukan kembali kampanye “tekanan maksimum” terhadap Iran sejak Februari tahun lalu. Kampanye ini bertujuan memblokir pengembangan senjata nuklir Teheran dan mencakup serangan Washington terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada tahun lalu.

Araghchi kembali menekankan bahwa negosiasi harus didasarkan pada rasa saling menghormati dan kepentingan bersama. “Kami meyakini bahwa begitu Amerika mencapai hasil yang merupakan negosiasi yang konstruktif dan positif, bukan perintah yang bersifat mendikte, adalah kerangka kerjanya, maka pada saat itulah hasil negosiasi tersebut akan membuahkan hasil,” jelasnya.

Mureks mencatat bahwa Iran telah memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen setelah Trump secara sepihak menarik AS dari kesepakatan nuklir Teheran tahun 2015 dengan negara-negara kekuatan dunia pada tahun 2018 lalu.

Iran telah lama menyatakan bahwa program nuklirnya bersifat damai. Namun, Barat dan badan pengawas nuklir PBB, IAEA, menyebut Iran memiliki program senjata nuklir terorganisir hingga tahun 2003.

Bulan lalu, Presiden Trump juga melontarkan peringatan keras terhadap Iran, menegaskan bahwa AS dapat melancarkan serangan militer lebih lanjut jika Teheran berusaha untuk membangun kembali program nuklirnya.

Mureks