Indonesia dan Turki akan memperkuat kerja sama strategis bilateral melalui pertemuan format “2 plus 2” yang dijadwalkan berlangsung di Ankara, Turki, pada 9-10 Januari 2026. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari High Level Strategic Cooperation Council antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Yvonne Mewengkang, menjelaskan bahwa agenda utama pertemuan tersebut mencakup berbagai sektor krusial. “Pokok-pokok pembahasan pertemuan 2 plus 2 nantinya ini merupakan kerja sama strategis bilateral di bidang keamanan, perdagangan, ekonomi, pembangunan, dan juga energi,” ujar Yvonne dalam taklimat media di Jakarta, Kamis (8/1).
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Menurut Mureks, mekanisme pertemuan “2 plus 2” di tingkat Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan ini hanya dimiliki Indonesia dengan beberapa negara lain, yaitu Australia, Jepang, Tiongkok, dan Prancis. Hal ini menunjukkan tingkat kepercayaan dan kedalaman hubungan strategis antara Indonesia dan Turki.
Selain itu, Yvonne juga mengungkapkan bahwa Menteri Luar Negeri RI akan menyampaikan undangan resmi dari Presiden Prabowo kepada Presiden Turki untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D8. “Pada pertemuan dengan Presiden Turki juga dijadwalkan Pak Menlu akan menyampaikan undangan Presiden Prabowo kepada Presiden Turki untuk menghadiri KTT D8 yang akan dilakukan pada April tahun ini,” ungkap Yvonne.
Pembahasan dalam pertemuan tersebut juga akan menyentuh isu-isu penting lainnya, termasuk kerja sama industri pertahanan dan berbagai isu regional yang mencakup Eropa, Asia Tenggara, dan Pasifik. Kedua negara juga akan mendiskusikan pengembangan kerja sama multilateral melalui forum-forum internasional seperti G20, ASEAN, dan BRICS, serta isu Palestina dan ISF.
Sebagai informasi, KTT D-8 yang akan dipimpin oleh Indonesia sebagai ketua periode 2026, dijadwalkan berlangsung pada 15 April 2026.






