Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan momen bersejarah pada perdagangan Kamis (8/1/2026) kemarin, dengan sempat menembus level psikologis 9.000. Namun, euforia tersebut berlangsung singkat, sebab indeks kemudian berbalik arah dan ditutup melemah di zona merah.
Menurut pantauan Mureks, IHSG mencapai puncak tertingginya pada pukul 10.05 WIB, menyentuh angka 9.002,06. Penguatan ini hanya bertahan sekitar enam menit sebelum indeks kembali terkoreksi ke level 8.983.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Sejak pembukaan perdagangan, IHSG sebenarnya menunjukkan sinyal positif, dibuka menguat 0,16 persen ke posisi 8.958,998, atau naik 14,184 poin dari penutupan sebelumnya. Aktivitas pasar pada awal sesi terpantau ramai dengan volume transaksi mencapai 6,44 miliar saham, nilai transaksi Rp 3,698 triliun, dan frekuensi perdagangan 574.875 kali. Mayoritas saham, yakni 301 saham, menguat, sementara 239 melemah dan 163 stagnan. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) pada saat itu tercatat sebesar Rp 16.381,842 triliun.
Meskipun sempat mencetak rekor, IHSG tidak mampu mempertahankan posisinya. Indeks ditutup melemah 19,34 poin atau 0,22 persen, mengakhiri perdagangan di level 8.925,47. Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan, IHSG dibuka pada level 8.946,70.
Sepanjang hari, volume perdagangan mencapai 54,82 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 28,46 triliun, dan frekuensi transaksi tercatat 3,83 juta kali. Pada penutupan, sebanyak 370 saham melemah, 302 saham menguat, dan 138 saham stagnan. Seiring pelemahan indeks, kapitalisasi pasar BEI juga turun menjadi Rp 16.332,87 triliun.
Kinerja Sektor dan Saham Unggulan
Kinerja sektor saham menunjukkan variasi. Sektor transportasi memimpin penguatan dengan kenaikan 1,75 persen, diikuti sektor properti (1,50 persen), infrastruktur (1,43 persen), barang konsumsi non-siklikal (0,60 persen), dan energi (0,49 persen).
Sebaliknya, tekanan jual terlihat jelas pada sektor industri dasar yang mencatat koreksi terdalam sebesar 3,22 persen. Sektor teknologi juga melemah 1,10 persen, barang konsumsi siklikal turun 0,90 persen, keuangan terkoreksi 0,45 persen, industri melemah 0,19 persen, dan kesehatan turun 0,14 persen.
Pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45 juga beragam. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup melemah 1,23 persen ke Rp 8.050 per saham. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) turun 0,28 persen ke Rp 3.530, dan PT Astra International Tbk (ASII) terkoreksi 0,36 persen ke Rp 7.000.
Tekanan terbesar dialami saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang anjlok 9,35 persen, ditutup di Rp 3.490 per saham. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) melemah 1,49 persen ke Rp 6.625, sementara PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) turun 0,31 persen ke Rp 8.025.
Di sisi lain, beberapa saham LQ45 mencatat penguatan, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang naik 0,27 persen ke Rp 3.710, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ARII) menguat 1,00 persen ke Rp 2.030, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) naik 0,77 persen ke Rp 2.620, dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) menguat 0,77 persen ke Rp 1.960. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) bergerak stagnan di level Rp 4.810 per saham.






