Tren

Harga Sampah Anjlok, Pelaku Ekonomi Sirkular Arus Bawah Terancam Bangkrut, Negara Diminta Hadir

Sektor ekonomi sirkular di tingkat akar rumput Indonesia kini menghadapi ancaman serius kebangkrutan. Anjloknya harga bahan baku daur ulang secara terus-menerus telah menimbulkan “petaka” bagi para pelaku ekonomi aras bawah, mulai dari pemulung hingga pengepul. Situasi ini mendesak kehadiran negara untuk mencegah kolapsnya sistem pengelolaan sampah informal yang vital.

Menurut Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas), Bagong Suyoto, sampah yang seharusnya menjadi berkah jika dikelola dengan baik, kini justru menjadi sumber sakit kepala. “Jika diolah untuk bahan baku daur ulang, tetapi harga-harganya anjlok terus-menerus menimbulkan sakit kepala. Bukan lagi berkah, tetapi petaka kebangkrutan pelaku circular economy aras bawah,” ujar Bagong Suyoto pada Selasa, 06 Januari 2026.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

Peran Krusial Pelaku Ekonomi Sirkular Arus Bawah

Pengelolaan sampah non-organik, yang meliputi plastik, kertas, logam, kaca, karet, kain, kayu, hingga tulang, sangat diminati dan menjadi tumpuan hidup ribuan orang. Para pelaku ekonomi sirkular aras bawah seperti pemulung, pengepul, pencacah plastik, bank sampah, dan TPS3R, adalah garda terdepan dalam mengumpulkan dan mengolah sampah bernilai ekonomis.

Bahkan, korporat daur ulang besar dengan investasi ratusan miliar rupiah di berbagai kota seperti Tangerang, Serang, Bogor, dan Surabaya, juga sangat bergantung pada pasokan bahan baku dari sektor informal ini. Semua sampah yang dapat didaur ulang menjadi rebutan di pasar.

Kesenjangan Pasokan Bahan Baku Daur Ulang Nasional

Mureks mencatat bahwa pada tahun 2024, komposisi sampah nasional didominasi oleh plastik sekitar 19-20% (11,6-12 juta ton/tahun) dan kertas 10-11% (10,5-11 juta ton/tahun). Meskipun demikian, terdapat kesenjangan signifikan antara kebutuhan industri dan pasokan domestik.

  • Kebutuhan bahan baku plastik: ± 1,6 juta ton
  • Pasokan domestik plastik: ± 1,2 juta ton (gap ± 443.251 ton atau 28%)
  • Kebutuhan bahan baku kertas: ± 7,2 juta ton
  • Pasokan domestik kertas: ± 3,7 juta ton (gap ± 3,5 juta ton atau 49%)

Data ini menunjukkan potensi besar untuk meningkatkan pengumpulan bahan baku daur ulang dalam negeri melalui penguatan peran bank sampah, TPS3R, dan sektor informal.

Residu Sampah dan Tantangan Lingkungan

Meskipun memiliki peran vital, pelaku ekonomi sirkular aras bawah menghadapi masalah residu sampah. Jenis sampah plastik tertentu, seperti sachet kecil bungkus makanan anak-anak, kopi, atau mi instan (plastik multi-layer), tidak laku dijual karena memerlukan teknologi daur ulang canggih dan biaya mahal.

Akibatnya, mereka terpaksa membuang sisa sortir sampah di sembarang tempat atau membakarnya, meskipun tindakan tersebut dilarang pemerintah. Ini menimbulkan masalah lingkungan baru yang perlu segera diatasi.

Anjloknya Harga Sampah Memicu Kebangkrutan

Situasi semakin memburuk ketika harga sampah campuran (gabrugan) anjlok drastis, dari Rp 1.400 menjadi Rp 700-800 per kilogram pada akhir dan awal tahun. Penurunan harga hingga 50-60% ini membuat pemulung dan pengepul pusing tujuh keliling.

Herman (51), seorang pengepul dan pengelola penggilingan plastik asal Indramayu yang beroperasi di dekat TPST Bantargebang selama lebih dari 15 tahun, merasakan dampak langsungnya. Saat usahanya jaya, ia mampu mempekerjakan 25-30 orang dengan upah rata-rata Rp75-100 ribu per hari atau sistem borongan Rp700-1.000 per kilogram. Putaran uangnya bisa mencapai Rp25-40 juta per bulan, dan ia memiliki aset seperti truk, pikap, serta mobil pribadi.

Namun, dalam dua hingga tiga tahun terakhir, harga sampah dari TPST/TPA terus turun dan sulit diprediksi. “Harga fluktuatif dan cenderung turun terus, tetapi biaya operasional tetap, bahkan naik, misal untuk beli BBM, listrik, upah pekerja,” keluh Herman. Kondisi ini memaksa para bos pengepul seperti Herman untuk menjual aset berharga mereka demi menutupi biaya operasional dan upah pekerja.

Negara Harus Hadir Menyelamatkan Ekonomi Sirkular

Kondisi ini menggarisbawahi urgensi intervensi pemerintah. Tanpa dukungan dan kebijakan yang stabil, sektor ekonomi sirkular aras bawah yang menjadi tulang punggung pengelolaan sampah dan penyedia lapangan kerja bagi jutaan orang, terancam gulung tikar. Kehadiran negara diharapkan dapat menstabilkan harga, memfasilitasi teknologi daur ulang residu, dan memperkuat ekosistem ekonomi sirkular secara keseluruhan.

Mureks