Harga nikel dunia kembali menunjukkan tren positif, menembus level di atas US$17.000 per ton untuk pertama kalinya dalam 15 bulan terakhir. Kenaikan signifikan ini dipicu oleh rencana pemerintah Indonesia untuk memangkas produksi nikel pada tahun 2026.
Berdasarkan data Bursa Logam London (LME) pada perdagangan Jumat (9/1/2025), harga nikel kontrak tiga bulan ditutup pada level US$17.703 per ton. Bahkan, pada pekan ini, harga nikel sempat menyentuh US$18.800 per ton, yang merupakan level tertinggi dalam 19 bulan sejak Juni 2024. Catatan Mureks menunjukkan, harga kontrak nikel 3 bulan di LME terakhir kali mencapai level di atas US$17.000 pada Oktober 2024.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar di dunia, memiliki peran krusial dalam menentukan keseimbangan pasar global. Negara ini menyumbang sekitar 70% dari total produksi nikel global, dengan volume mencapai sekitar 3,8 juta metrik ton per tahun. Oleh karena itu, setiap kebijakan terkait produksi dari Indonesia akan berdampak besar pada harga komoditas ini.
Pemerintah Indonesia sebelumnya telah mengisyaratkan rencana untuk menekan produksi nikel guna memperbaiki keseimbangan pasokan dan permintaan global. Namun, hingga saat ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum mengungkapkan rincian kuota penambangan untuk tahun 2026 dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pihaknya belum dapat membocorkan volume pemangkasan yang akan dilakukan. Menurutnya, produksi nikel pada tahun 2026 akan disesuaikan dengan kebutuhan industri. “Nikel akan kami sesuaikan dengan kebutuhan industri. Dan kami akan buat permintaan agar industri besar harus beli ore nikel dari pengusaha tambang, jangan ada monopoli. Kita ingin investor kuat, tapi pengusaha daerahnya juga kuat. Supaya ada kolaborasi,” kata Bahlil di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Sebelumnya, harga nikel sempat mengalami penurunan akibat lesunya pasar global, yang juga menyebabkan penyerapan bijih nikel domestik belum optimal. Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mengungkapkan bahwa pemangkasan produksi yang dilakukan oleh sejumlah smelter telah menyebabkan penumpukan stockpile nikel.
Dewan Penasihat APNI, Djoko Widajatno, menjelaskan bahwa permasalahan tersebut terlihat dari kuota produksi bijih nikel yang disetujui pemerintah pada tahun 2025 mencapai 364 juta ton. “Namun, penyerapan oleh industri, khususnya smelter, lebih rendah dari kuota tersebut hingga pertengahan tahun ini,” ujar Djoko kepada Bisnis, beberapa waktu lalu, mengacu pada serapan yang masih di kisaran 120 juta ton.






