Harga emas global menunjukkan pergerakan stabil pada Jumat (09/01/2026), seiring dengan antisipasi investor terhadap rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Data ini sangat dinanti karena akan menjadi indikator kunci bagi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) di masa mendatang.
Menurut pantauan Mureks, pada perdagangan Kamis (08/01/2026), harga emas di pasar spot tercatat naik tipis 0,09 persen, mencapai level US$4.456,64 per ons. Meskipun demikian, komoditas logam mulia ini sempat menyentuh level terendah sesi di US$4.406,89. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Februari 2026 mengalami koreksi 0,05 persen, berada pada posisi US$4.460,70 per ons.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
Proses penyesuaian tahunan Bloomberg Commodity Index, yang merupakan rebalancing berkala untuk menyesuaikan bobot komoditas agar selaras dengan kondisi pasar, telah dimulai pekan ini. Senior Market Strategist RJO Futures, Bob Haberkorn, menjelaskan bahwa proses ini akan memberikan tekanan pada harga emas dan perak dalam beberapa sesi ke depan.
“Setelah situasi mereda hingga pertengahan pekan depan, kondisi tersebut justru akan menjadi peluang yang baik bagi investor dengan posisi beli jangka panjang untuk kembali masuk ke pasar,” ujar Haberkorn, memberikan perspektif bagi para pelaku pasar.
Antisipasi Data Ketenagakerjaan AS dan Kebijakan The Fed
Fokus utama pelaku pasar saat ini tertuju pada data Non-Farm Payrolls (NFP) AS yang dijadwalkan rilis pada Jumat (09/01/2026). Survei Reuters memproyeksikan penambahan 60.000 lapangan kerja pada Desember 2025, angka ini lebih rendah dibandingkan 64.000 pada bulan sebelumnya. Selain itu, tingkat pengangguran diperkirakan akan turun tipis menjadi 4,5 persen dari 4,6 persen.
Pasar saat ini memperkirakan The Fed akan melakukan dua kali penurunan suku bunga acuan sepanjang tahun ini. Emas, sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, cenderung berkinerja baik dalam lingkungan suku bunga rendah. Data ekonomi terbaru juga menunjukkan klaim tunjangan pengangguran AS meningkat secara moderat pekan lalu. Hal ini menyusul laporan sebelumnya yang mencatat penurunan pembukaan lowongan kerja pada November 2025 serta pertumbuhan gaji sektor swasta pada Desember yang berada di bawah ekspektasi.
Risiko Geopolitik dan Proyeksi Harga Emas
Di tengah dinamika pasar, ketegangan geopolitik kembali menjadi sorotan. Insiden penyitaan dua kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela di kawasan Atlantik menambah daftar kekhawatiran global. Selain itu, laporan menyebutkan pejabat AS tengah membahas opsi pemberian pembayaran sekaligus kepada warga Greenland untuk mendorong pemisahan dari Denmark dan potensi kedekatan dengan Amerika Serikat.
Bank HSBC, dalam analisisnya, memproyeksikan harga emas berpeluang menembus US$5.000 per ons pada paruh pertama 2026. Proyeksi ambisius ini didorong oleh meningkatnya risiko geopolitik global dan beban utang fiskal yang terus bertambah.
Sementara itu, pergerakan harga logam mulia lainnya menunjukkan tren yang berbeda. Harga perak spot anjlok 3,2 persen ke level US$75,64 per ons. Platinum juga melemah 2,3 persen menjadi US$2.253,91 per ons, dan paladium turun 1,1 persen ke US$1.745 per ons.






