Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan memulai pembongkaran tiang-tiang monorel yang telah lama mangkrak di sepanjang Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan proyek ini akan dilaksanakan pada Selasa atau Rabu pekan depan, menandai langkah konkret penataan infrastruktur kota.
“Untuk pembongkaran tiang monorel seperti yang kemarin kami sampaikan, akan kami lakukan minggu ketiga, apakah hari Selasa atau Rabu depan,” ujar Pramono, Jumat (9/1/2026), seperti dikutip dari Berita Jakarta.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Pramono menjelaskan, seluruh proses pembongkaran akan ditangani langsung oleh Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Bina Marga DKI Jakarta. Keputusan ini diambil setelah surat yang dilayangkan Pemprov DKI kepada PT Adhi Karya (Persero) Tbk, sebagai pemrakarsa awal proyek, telah melewati batas waktu yang ditentukan.
“Pembongkaran tiang monorel yang melakukan adalah Pemerintah DKI Jakarta, dalam hal ini Bina Marga. Adhi Karya sudah kami surati dan batas waktunya sudah lewat, kami akan melakukan sendiri,” tegasnya.
Meskipun melibatkan alat berat dan pengerjaan konstruksi di jalur utama, Pramono menegaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta tidak akan melakukan penutupan jalan selama proses pembongkaran. Hal ini untuk meminimalkan dampak terhadap lalu lintas.
“Dan untuk itu tidak dilakukan penutupan jalan. Jadi yang dibongkar tetap dilakukan, dengan pengalaman yang ada, Bina Marga berkoordinasi untuk melakukan pembongkaran, tidak dilakukan penutupan,” imbuh Pramono. Terkait lokasi pembuangan material hasil pembongkaran, ia menambahkan bahwa hal tersebut juga menjadi kewenangan Pemprov DKI Jakarta.
Optimalisasi Ruang dan Penataan Kota
Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Siti Dinarwenny, menjelaskan bahwa pembongkaran tiang monorel yang terbengkalai ini bertujuan untuk mengoptimalkan ruang jalan yang selama ini terhambat. Upaya ini merupakan bagian dari penataan kawasan perkotaan yang lebih luas, diharapkan dapat menambah badan jalan dan menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan di kawasan Rasuna Said.
“Pembongkaran dilakukan sebagai upaya penataan kawasan untuk meningkatkan keindahan kota, kenyamanan pejalan kaki, keselamatan pengguna jalan, serta sebagai upaya mengurai kemacetan dan perbaikan mobilitas di Jakarta,” kata Siti.
Setelah proses pembongkaran selesai, pemerintah akan melanjutkan tahap penataan kawasan. Penataan ini meliputi perbaikan jalan dan trotoar, peningkatan sarana pejalan kaki, serta penyesuaian elemen pendukung lainnya agar kawasan menjadi lebih aman dan nyaman. Melalui langkah ini, tim redaksi Mureks mencatat, Dinas Bina Marga DKI Jakarta menegaskan komitmennya dalam menata kembali infrastruktur kota demi mewujudkan Jakarta yang lebih nyaman, aman, dan inklusif bagi seluruh penggunanya.
Sejarah Panjang Proyek Monorel Mangkrak
Proyek monorel Jakarta sendiri memiliki sejarah panjang yang penuh kendala. Catatan Mureks menunjukkan, proyek ini bermula pada tahun 2003 dengan peletakan batu pertama oleh Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri. Pemrakarsa proyek adalah PT Indonesia Transit Central, sebuah konsorsium yang dibentuk oleh Adhi Karya, Global Profex Sinergy, dan Radiant Utama.
Sejak awal, proyek ini diketahui bermasalah dari segi pembiayaan, di mana konsorsium kesulitan mencari sumber pendanaan. Meskipun demikian, pada tahun 2005, tiang-tiang pancang sudah terpasang di tengah jalan dengan harapan sumber pendanaan akan ditemukan. Namun, kendala tersebut terus berlanjut hingga tahun 2008, yang akhirnya membuat pemerintah memutuskan menghentikan proyek tersebut. Akibatnya, hanya menyisakan tiang-tiang pancang yang berdiri tegak dan menjadi pemandangan mangkrak di jalanan Jakarta.
Wacana untuk melanjutkan proyek ini terus bergulir di setiap periode kepemimpinan gubernur DKI Jakarta, namun selalu berakhir dengan kegagalan. Hingga akhirnya, Gubernur DKI Jakarta Basuki T.P (Ahok) memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan proyek tersebut. Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi), kemudian lebih memilih untuk mengembangkan moda transportasi lain seperti MRT dan LRT daripada meneruskan proyek monorel Jakarta yang tak kunjung terealisasi.






