Yogyakarta dipadati ratusan ribu wisatawan pada malam pergantian Tahun Baru 2026. Kawasan ikonik Tugu Yogyakarta, Malioboro, hingga Titik Nol Kilometer dilaporkan menampung sekitar 500 ribu orang. Meski demikian, volume sampah yang dihasilkan justru diklaim menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Fitria Dyah Anggraeni, mengungkapkan kepadatan tersebut terjadi di sepanjang area vital kota. “Jadi mungkin ya kita bisa sampai, sampai mungkin ya mendekati 500 ribu bisa sih. Dari Tugu sampai ke Malioboro itu soalnya penuh semua sih gitu,” kata Anggraeni saat dihubungi pada Kamis (1/1).
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
Penurunan Volume Sampah yang Anomali
Anggraeni, yang akrab disapa Anggi, mengeklaim bahwa meskipun jumlah pengunjung mencapai ratusan ribu, masalah sampah berhasil diatasi dengan baik. Menurutnya, terjadi fenomena yang tidak biasa terkait volume sampah.
“Tapi memang kenaikan sampah sendiri agak anomali karena ternyata kenaikannya enggak signifikan. Justru kayak terjadi penurunan dari tahun lalu,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa volume sampah yang terkumpul tidak mencapai angka delapan ton. “Volume sampahnya itu, saya lupa disebutkan, tapi dia tidak sampai 8 ton, itu nggak,” ujarnya.
Petugas kebersihan langsung bergerak cepat setelah pergantian tahun. Pada pukul 00.30 WIB, truk pengangkut sampah mulai menyisir area Tugu Yogyakarta, Malioboro, hingga Titik Nol Kilometer sebanyak tiga kali putaran untuk membersihkan sisa-sisa perayaan.
Tantangan Alas Plastik dan Imbauan Pengunjung
Mureks mencatat bahwa salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah banyaknya sampah dari tikar plastik bekas. Anggraeni mengakui bahwa alas duduk tersebut masih banyak ditemui karena mudah diselundupkan oleh penjual maupun pengunjung.
“Meski di awal waktu di jam-jam 7 (malam) itu kita sudah coba tertibkan, tapi kan penjual, dan kita, kita apa ya, kita amankan untuk tidak apa menjual. Tapi kan memang alas duduk itu kan bisa dengan mudah diselundupkan ya dalam tanda kutip. Jadi tidak yang, tidak yang terlihat dia sebagai barang jualan,” paparnya.
Berbagai upaya antisipasi telah dilakukan, termasuk mengimbau pengunjung Malioboro agar tidak membeli alat plastik atau membawa pulang alas plastik yang mereka gunakan. “Kita imbau lewat radio, lewat petugas, tapi tetap, tetap mereka (membeli). Ya nggak masalah deh, maksudnya tapi kemudian kita imbau juga pada saat alas plastik itu bisa kemudian mereka bawa pulang seperti itu. Dan kemarin juga tetap ada tapi tidak yang kemudian masif menumpuk secara sembarangan seperti itu,” terang Anggraeni.
Penurunan Pengunjung di Hari Pertama 2026
Pantauan Mureks menunjukkan bahwa pada hari pertama Tahun Baru 2026, Kamis (1/1), jumlah pengunjung Malioboro mulai menunjukkan penurunan. Peningkatan pengunjung sempat terjadi pada pukul 14.30 WIB, namun kemudian kembali menurun seiring turunnya hujan.
“Mungkin ya, ya ini salah satu faktor untuk kemudian pengunjung menjadi mungkin membatalkan niatnya untuk jalan-jalan di Malioboro,” kata Anggraeni.
Secara keseluruhan, selama masa liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru), total pengunjung Malioboro diperkirakan telah mencapai 1,4 hingga 1,5 juta orang. “Kalau kami (hitung) masih sampai di kisaran 1,5 juta, 1,4 juta,” pungkasnya.






