Otoritas Amerika Serikat (AS) berhasil membongkar skema penipuan besar-besaran yang menguras lebih dari US$333 juta, setara dengan sekitar Rp 5,56 triliun (kurs Rp 16.700/US$), sepanjang tahun 2025. Biro Investigasi Federal (Federal Bureau of Investigation/FBI) mengungkapkan, aksi kejahatan ini menargetkan warga AS melalui berbagai modus yang memanfaatkan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Bitcoin.
Angka kerugian ini menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, seiring dengan semakin populernya penggunaan mata uang kripto. Mureks mencatat bahwa data terbaru dari FBI secara konsisten menunjukkan peningkatan nilai transaksi penipuan melalui kios kripto, tanpa ada tanda-tanda perlambatan.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Kerugian Melonjak Tajam
Dilansir dari ABC News pada Sabtu (3/1/2026), kerugian akibat penipuan serupa pada tahun 2024 tercatat sekitar US$250 juta, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, untuk periode Januari hingga November 2025 saja, total kerugian telah mencapai US$333,5 juta.
Saat ini, terdapat lebih dari 45 ribu ATM Bitcoin di seluruh AS. Mesin-mesin ini memungkinkan pengguna untuk menyetorkan uang tunai dan mengirimkannya ke dompet digital di mana pun di dunia hanya dalam hitungan menit. Setelah transaksi dilakukan, dana tersebut hampir mustahil untuk dilacak atau dikembalikan, menjadikannya metode favorit bagi para pelaku penipuan.
Lansia Jadi Sasaran Utama
Direktur dukungan korban penipuan AARP, Amy Nofziger, menegaskan bahwa “permintaan pembayaran lewat kripto kini menjadi cara utama yang digunakan para penjahat.” Masalah ini dinilai sangat serius, terutama bagi kelompok lansia yang kerap menjadi target.
Menanggapi situasi ini, otoritas mulai bertindak. Pada September lalu, jaksa agung Washington DC melayangkan gugatan terhadap Athena Bitcoin, salah satu operator ATM Bitcoin terbesar di AS. Gugatan tersebut menuduh Athena Bitcoin meraup ratusan ribu dolar dari biaya tersembunyi yang dibebankan kepada korban penipuan.
Gugatan itu secara spesifik menyebutkan bahwa 93% transaksi di mesin Athena di wilayah Washington DC terkait langsung dengan penipuan, dengan usia median korban mencapai 71 tahun. Pihak Athena Bitcoin membantah tuduhan tersebut dan menyatakan telah menerapkan berbagai langkah pencegahan, termasuk peringatan yang jelas dan edukasi konsumen.
Desakan Regulasi Semakin Kuat
Dorongan untuk memperketat regulasi terus menguat. AARP, misalnya, mendesak pembatasan jumlah setoran harian di ATM Bitcoin. Selain itu, sedikitnya 17 negara bagian telah menerbitkan aturan baru terkait operasional mesin ini, dan sejumlah kota bahkan memilih untuk melarang keberadaan mesin ATM Bitcoin sepenuhnya.






