Hiburan

Diteror Usai Kritik Penanganan Bencana, Yama Carlos Pertanyakan Ruang Aman Berekspresi di Media Sosial

Aktor Yama Carlos menolak bungkam setelah kebebasan berekspresinya di media sosial dibungkam oleh pihak tak bertanggung jawab. Ia mengunggah sejumlah bukti pesan berisi teror yang diterimanya, mempertanyakan ruang aman bagi warga negara untuk menyampaikan pendapat.

Ancaman Setelah Konten Satir

Dalam video yang diunggah di akun Instagram terverifikasi pada 30 Desember 2025, Yama Carlos menunjukkan tangkapan layar pesan WhatsApp dari nomor asing. Pesan-pesan tersebut, menurutnya, datang bertubi-tubi setelah ia mengunggah 12 video konten satir.

Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id

“Ini saya tidak omong kosong. Saya mau menunjukkan chat teror tersebut. Tapi, sebelumnya kita harus tetap sopan, ya teman-teman di suatu negara. Ini chat-nya. Tapi, tenang saja kok, nomornya sudah saya hilangin,” ujar Yama Carlos dalam unggahan tersebut.

Pesan singkat dari oknum tersebut berbunyi, “Halo,” diikuti dengan instruksi tegas, “Segera hapus konten TikTokmu selama 1 minggu terakhir.”

“Jadi bisa kalian lihat sendiri. Sangat singkat, padat tapi membuat saya gimana gitu. Nah, pada saat hari kejadian, itu bertubi-tubi datangnya. Itu baru beberapa nomor. Belum nomor yang lain, enggak apa-apa,” beber bintang film May dan Kereta Berdarah itu kepada publik.

Yama Carlos juga mengungkapkan bahwa oknum-oknum ini tidak hanya menargetkan dirinya, tetapi juga memanfaatkan orang-orang di sekelilingnya. Ia menyayangkan teror ini datang setelah konten satir yang dibuatnya terkait penanganan bencana, padahal ia menegaskan tidak menyebut nama orang atau pihak tertentu dalam video-video tersebut.

Mureks mencatat bahwa insiden ini terjadi di tengah sorotan publik terhadap penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatra. Hingga 25 Desember, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.129 orang.

Pertanyakan Kebebasan Berekspresi

Berkaca pada pengalaman tidak menyenangkan ini, aktor kelahiran Semarang, 28 Desember 1980, itu sampai pada sebuah kesimpulan pahit. Ia merasa bahwa bentuk ekspresi seni seperti impersonate, parodi, hingga sarkas tampaknya tidak lagi berlaku di Indonesia.

“Jadi teman-teman, saya hanya ingin mengatakan bentuk ekspresi yang namanya impersonate, satir, sarkas, atau parodi, di suatu negara, itu kayaknya enggak berlaku lagi. Itu ternyata bisa menyinggung beberapa pihak atau menyinggung beberapa orang lo,” ungkapnya.

Yama Carlos merasa bingung dengan situasi ini, terutama karena kontennya tidak menyebutkan nama siapapun. “Meskipun si pembuat impersonate atau parodi, atau satir, atau sarkas itu tidak menyebutkan nama siapapun. Sekarang jadi bingung, kita hidup di suatu negara, untuk berekspresi saja harus minta izin mungkin ya. Harus bilang dulu kali ya? Harus apa dong?” tanyanya.

Awalnya, Yama Carlos berkeyakinan bahwa dalam sebuah negara berdemokrasi, warga negara berhak menyampaikan pendapat, berserikat, atau melayangkan kritik ketika ada yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Mencari Ruang Aman dan Nyaman

Menurut Yama Carlos, selama tidak melakukan tindakan kriminal yang merugikan langsung orang lain, termasuk merusak milik orang lain, seharusnya warga negara mendapatkan ruang aman dan nyaman untuk berekspresi. Namun, kini ia mempertanyakan keberadaan rasa aman tersebut.

“Harusnya kan kita merasa nyaman, merasa aman, bebas untuk melakukan hal apapun berekspresi apapun selama itu tidak menyebutkan nama atau apapun itulah. Tapi ternyata, tidak lo saudara-saudara,” pungkas Yama Carlos, mengakhiri pernyataannya dengan nada prihatin.

Mureks