Keuangan

Diburu Interpol, Buron Kasus Wanaartha Life Diduga Nikmati Hidup Mewah di Amerika Serikat

Jumat, 02 Januari 2026 – Kasus gagal bayar asuransi Wanaartha Life yang mencuat sejak 2019 masih menyisakan ironi mendalam. Salah satu tokoh kunci yang diburu aparat penegak hukum Indonesia dan Interpol, Evelina F. Pietruschka, diduga kuat menikmati kehidupan mewah di Amerika Serikat, jauh dari jeratan hukum.

Evelina F. Pietruschka bukanlah nama asing di kancah perasuransian nasional. Rekam jejaknya mencakup posisi strategis di berbagai organisasi. Ia pernah menjabat Vice Chairman Dewan Asuransi Indonesia (DAI) pada periode 2001-2002, sebelum kemudian memimpin sebagai Chairman DAI pada 2002-2005.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Kariernya berlanjut sebagai Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) selama dua periode, yakni dari 2005 hingga 2011. Di samping itu, ia juga dipercaya sebagai Chairman Federasi Asosiasi Perasuransian Indonesia (FAPI) pada 2007-2008. Bahkan, di tingkat regional, Evelina sempat menduduki posisi Sekretaris Jenderal ASEAN Insurance Council. Ia juga merupakan lulusan master dari Pepperdine University, California, AS.

Namun, gemerlap karier tersebut kini tertutup oleh statusnya sebagai buron dalam kasus Wanaartha Life. Hingga kini, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) melalui NCB Interpol Indonesia terus memburu Evelina dan anggota keluarganya yang diyakini berada di Amerika Serikat.

Sekretaris NCB Interpol Indonesia, Untung Widyatmoko, menegaskan bahwa upaya penegakan hukum tidak pernah berhenti. Ia menyoroti tantangan dalam menangani buron kasus ekonomi. “Pelaku-pelaku tindak pidana ekonomi itu tidak ada yang miskin. Semua kaya, semua bisa menyewa lawyer. Di situlah mereka selalu mengajukan bail dan menantang kami, supaya red notice Interpol digugurkan dengan alasan ini perdata, bukan pidana,” ujar Untung usai konferensi pers di Gedung 600, Tangerang, Banten, akhir September lalu.

Untung menambahkan, salah satu anak Evelina, Rezanantha Pietruschka, sempat diamankan di California namun kemudian dibebaskan setelah membayar jaminan. Menurut pantauan Mureks, Interpol Indonesia aktif berkoordinasi dengan berbagai otoritas AS, termasuk U.S. Department of Homeland Security, U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE), hingga Federal Bureau of Investigation (FBI). “Jangan kira kami hanya diam saja. Tidak. Kami terus bekerja,” tegas Untung.

Di sisi lain, perburuan terhadap keluarga Pietruschka juga dilakukan secara swadaya oleh para korban Wanaartha. Pada Oktober 2023, seorang nasabah bahkan mengaku terbang langsung ke California, AS, setelah lebih dari empat tahun menanti kejelasan kasus.

Dalam sebuah rekaman video yang diterima tim redaksi Mureks, nasabah tersebut terlihat mendatangi kawasan perumahan elite di Beverly Hills, California. Namun, sebelum memasuki gerbang, mereka dihentikan oleh petugas keamanan dan ditanya perihal kepentingan bertemu Evelina. Petugas kemudian menghubungi penghuni rumah yang dimaksud.

Nasabah tersebut menuturkan, “Yang bicara itu Evelina. Dia menolak saya dan tidak mengizinkan saya masuk,” dalam video tersebut.

Berdasarkan data dari Clustrmaps, sebuah situs yang mengklaim menyajikan informasi publik, keluarga Pietruschka disebut memiliki aset rumah mewah di Beverly Hills. Mengacu pada harga properti di kawasan tersebut menurut marketplace Zillow, nilainya diperkirakan mencapai jutaan dolar AS, setara puluhan hingga ratusan miliar rupiah.

Namun demikian, Mureks mencatat bahwa kebenaran data kepemilikan aset tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Sementara para korban masih menanti keadilan dan kejelasan, Evelina F. Pietruschka tetap menjadi simbol ironi besar dalam salah satu skandal asuransi terbesar di Indonesia: diburu Interpol, namun diduga kuat menikmati hidup nyaman dan mewah di Negeri Paman Sam.

Mureks