Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Jake Auchincloss, meragukan alasan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Presiden AS Donald Trump. Auchincloss menegaskan bahwa penangkapan tersebut bukan terkait narkoba, melainkan “pertumpahan darah demi minyak” Venezuela.
Menurut Auchincloss, narkoba yang menyebabkan banyak kematian di AS adalah fentanyl dari China, bukan kokain yang sebagian besar dikirim dari Venezuela ke Eropa. “Narkoba sebagian besar dikirim ke Eropa, dan kokain bukanlah narkoba yang membunuh warga Amerika. Itu adalah fentanyl yang berasal dari China,” ujarnya pada Minggu (4/1).
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Pernyataan Auchincloss ini menyoroti cadangan minyak Venezuela yang merupakan terbesar di dunia. “Ini selalu tentang fakta bahwa Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia,” tegas Auchincloss, seperti dikutip dari CNN.
Mureks mencatat bahwa Venezuela mengekspor sekitar 921.000 barel per hari (bpd) pada November lalu. Pada tahun 2000, Badan Informasi Energi AS melaporkan produksi minyak negara tersebut mencapai 3,2 juta bpd.
Sebelumnya, Presiden Trump pernah menyatakan niat AS untuk mengambil alih cadangan minyak Venezuela. Perusahaan-perusahaan minyak Amerika disebut akan diminta untuk menginvestasikan miliaran dolar guna memulihkan industri minyak Venezuela yang terpuruk.
Meskipun memiliki cadangan minyak terbesar, produksi Venezuela masih di bawah kapasitas akibat sanksi internasional. Sebagian besar minyak negara itu saat ini dijual ke China. Petróleos de Venezuela (PDVSA), perusahaan minyak milik negara, mengendalikan industri perminyakan di sana.
Chevron, perusahaan berbasis di Houston, menjadi satu-satunya perusahaan AS yang masih melakukan pengeboran di Venezuela, dengan membayar sebagian hasil produksinya kepada PDVSA berdasarkan pengecualian sanksi. Auchincloss menambahkan, “Chevron memiliki kontrak dan izin dari Departemen Keuangan untuk mengeksploitasi cadangan minyak tersebut. Dan presiden ini menepati janji kampanyenya kepada perusahaan minyak besar AS.”
Penangkapan Maduro terjadi setelah militer Amerika Serikat menyerang ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu dini hari (3/1). Laporan menyebutkan terdengar setidaknya tujuh kali ledakan, dan Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya telah ditangkap oleh pasukan AS.






