Nasional

Dari Tak Mampu Membaca hingga Berprestasi: Perpustakaan Sekolah Rakyat Jadi Mesin Perubahan Perilaku

Perpustakaan, yang seringkali dipandang sekadar gudang buku, kini mulai mengambil peran strategis sebagai “mesin perubahan perilaku” di Sekolah Rakyat. Inisiatif ini menyoroti akar persoalan kemiskinan ekstrem yang kerap terabaikan: kegagalan membangun kapasitas berpikir.

Selama ini, upaya pengentasan kemiskinan lebih banyak berfokus pada bantuan tunai dan pangan. Namun, pembentukan cara berpikir dan pola perilaku belum menjadi perhatian utama dalam desain kebijakan. Mureks mencatat bahwa pendekatan ini menawarkan perspektif baru dalam mengatasi kemiskinan yang berulang antar generasi.

Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id

Taufiq A Gani, seorang ASN di Perpusnas RI dan Peneliti di IDCI, menegaskan bahwa perpustakaan di Sekolah Rakyat memang masih dalam tahap awal pelaksanaan. Koleksi buku baru tersedia dan layanan belum sepenuhnya tersusun. “Tulisan ini tidak berangkat dari klaim keberhasilan, melainkan dari pembacaan arah kebijakan: bagaimana perpustakaan mulai ditempatkan dalam desain pembinaan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem,” ujarnya pada Minggu, 04 Januari 2026.

Gani sebelumnya pernah menulis di Kolom Kompas (22/12/25) bahwa “pengentasan kemiskinan tidak cukup diselesaikan melalui bantuan tunai atau pangan semata. Selama kapasitas berpikir tidak dibangun, kemiskinan ekstrem akan terus berulang antar generasi. Bantuan dapat mengurangi beban sesaat, tetapi tidak mengubah kemampuan individu dalam memahami pilihan dan menentukan keputusan hidup.”

Membangun Kapasitas Berpikir dan Pengakuan Negara

Kapasitas berpikir mencakup kemampuan memahami informasi, mengelola pilihan, dan mengambil keputusan secara sadar. Kemampuan ini tidak terbentuk secara instan, melainkan dibangun melalui proses literasi yang berulang dan terstruktur, bukan sekadar aktivitas membaca sporadis.

Pemahaman ini kembali mengemuka saat pra-launching Sekolah Rakyat di Bekasi. Dalam forum tersebut, Menteri Sosial menyampaikan bahwa ketimpangan kemampuan dasar anak-anak Indonesia masih sangat besar. “Bahkan pada usia sekolah menengah, masih ditemukan anak yang belum mampu membaca dengan baik,” kata Menteri Sosial.

Pernyataan agar tidak ada anak putus sekolah, menurut Gani, tidak dapat dipahami hanya sebagai seruan moral. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan semata akses pendidikan, tetapi kemampuan anak untuk bertahan dan berkembang di dalam sistem pendidikan itu sendiri.

Perubahan Nyata di Lapangan

Perubahan yang dibutuhkan tidak hanya terkait capaian akademik, tetapi juga keteraturan hidup. Hal ini tercermin dari pengalaman sejumlah siswa Sekolah Rakyat:

  • Nazriel: Sebelumnya belum mampu membaca, kini menunjukkan kemajuan akademik sekaligus perubahan disiplin harian dalam beberapa bulan.
  • Jumaroh: Nyaris berhenti sekolah, kini kembali mengikuti proses belajar secara utuh setelah masuk Sekolah Rakyat.
  • Wali Murid: Anaknya yang berprestasi, tetapi lama terhambat biaya, kini dapat kembali mengikuti kompetisi dan meraih penghargaan.

Pengalaman-pengalaman ini menunjukkan bahwa perubahan tidak semata dihasilkan oleh kurikulum. Perubahan terjadi karena adanya struktur perilaku yang jelas, meliputi aturan, ritme kegiatan, dan pendampingan yang konsisten.

Perpustakaan dalam Desain Pembinaan

Pentingnya struktur perilaku semakin jelas saat Taufiq A Gani mendampingi Kepala Perpustakaan Nasional RI, Aminuddin Azis, berdialog dengan Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 70 Kendari, Yeni Alexander. Percakapan tersebut difokuskan pada bagaimana literasi dapat dimasukkan ke dalam desain pembinaan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem desil 1 dan desil 2.

Dari dialog tersebut, terlihat bahwa perpustakaan memiliki fungsi strategis jika ditempatkan secara tepat. Fungsi itu tidak bergantung pada jumlah koleksi yang masih terbatas, tetapi pada cara literasi diintegrasikan ke dalam kegiatan sehari-hari.

Kepala Perpustakaan Nasional menegaskan bahwa “literasi di Sekolah Rakyat tidak berhenti pada kegiatan membaca. Anak-anak membaca buku, kemudian mendiskusikan dan mengolahnya menjadi aktivitas lanjutan. Buku dibaca bersama, dibahas, dan dijadikan bahan kegiatan kreatif yang terarah.”

Literasi sebagai Proses Pembentukan Perilaku

Pendekatan ini bertujuan membentuk kebiasaan berpikir dan perilaku sosial. Anak-anak belajar mengikuti aturan, menunggu giliran, bekerja bersama, dan menyelesaikan tugas secara bertanggung jawab. Literasi diposisikan sebagai proses aktif yang berlangsung terus-menerus.

Kerangka pembinaan ini menjadi krusial mengingat latar belakang anak-anak Sekolah Rakyat. Banyak dari mereka berasal dari lingkungan yang tidak memiliki keteraturan dasar, seperti pola makan, waktu istirahat, dan aturan hidup bersama yang belum terbentuk dengan baik. Cara menyelesaikan konflik kerap berlangsung keras karena itulah pola yang mereka kenal.

Kepala Sekolah bahkan menyebut mereka sebagai “anak-anak ajaib” untuk menggambarkan besarnya energi yang dimiliki, tetapi belum pernah diarahkan melalui struktur perilaku yang jelas.

Perpustakaan sebagai Inti Pembinaan

Dalam kondisi tersebut, perpustakaan berperan sebagai ruang pembentukan perilaku. Anak-anak tidak hanya menggunakan buku, tetapi juga dilibatkan dalam pengelolaan ruang baca, penataan koleksi, dan pelaksanaan kegiatan literasi. Pelibatan ini bukan untuk menambah beban, melainkan untuk memberi pengalaman bertanggung jawab. Anak-anak belajar dipercaya, menjalankan tugas, dan berkontribusi dalam kegiatan bersama. Proses ini membentuk perilaku secara bertahap dan konsisten.

Perpustakaan di Sekolah Rakyat memang belum berjalan optimal. Koleksi baru tersedia dan layanan masih dalam tahap penataan. Namun, kondisi ini justru menunjukkan bahwa peran perpustakaan masih berada pada fase pembentukan. Jika perpustakaan ditempatkan sebagai mesin perubahan perilaku, literasi tidak lagi dipahami sebagai aktivitas tambahan. Literasi menjadi bagian dari desain pembinaan untuk membangun kapasitas berpikir dan memutus kemiskinan ekstrem antar generasi.

Mureks