Keuangan

CSIS Peringatkan: “Dana Asing Bisa Minggat dari RI” Akibat Ketidakpastian Ekonomi Global 2026

Dana asing terancam hengkang dari pasar keuangan Indonesia pada tahun 2026. Peringatan ini disampaikan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang menyoroti ketidakpastian ekonomi global sebagai pemicu utama.

Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS, Deni Friawan, menjelaskan bahwa kondisi ekonomi dunia yang volatil akan sangat memengaruhi tren aliran dana investor asing di Indonesia. Implikasinya, nilai tukar rupiah berpotensi melemah dan biaya pinjaman Surat Berharga Negara (SBN) akan meningkat.

Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id

“Nah, yang dikhawatirkan adalah seperti yang terjadi di tahun kemarin kita mengalami sudden capital outflow yang besar. Baik itu di pasar bond market ataupun di stock market dan itu berimplikasi pada nilai tukar rupiah yang nantinya berimplikasi pada cost of borrowing dari SBN kita,” ujar Deni dalam acara Media Briefing: “Outlook 2026: Ancaman dan Risiko Instabilitas Ekonomi, Sosial, dan Politik” pada Rabu (7/1/2026).

Deni melanjutkan, perlambatan ekonomi global pada 2026 diprediksi masih akan berlanjut. Mesin-mesin pertumbuhan ekonomi dunia, khususnya China dan Amerika Serikat, menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

“China misalnya mengalami deflasi, walaupun misalnya angka officialnya mengatakan 5%, tapi banyak orang melakukan, apakah benar 5%? Karena perkiraan mungkin hanya sekitar 2%. Begitu juga Amerika. Dia menghadapi tekanan dari public debt yang besar dan defisit anggaran yang besar. Itu juga membuat tekanan inflasi di sana juga besar,” paparnya.

Ketegangan geopolitik juga menjadi perhatian utama. Deni menyoroti konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Venezuela, menyusul tindakan Presiden Donald Trump yang disebut menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Peristiwa ini, menurut Deni, meningkatkan tensi geopolitik dan risiko instabilitas ekonomi dunia.

“Kita hari-hari ini melihat ada peningkatan geopolitical risk eskalasi dari misalnya US attack di Venezuela. Itu juga menimbulkan instabilitas di dunia dari sisi geopolitik,” ucapnya.

Ketegangan geopolitik ini menambah daftar panjang katalis negatif yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026. Mureks mencatat bahwa katalis lain yang diungkap Deni meliputi tekanan utang publik Amerika Serikat yang besar, penerapan tarif resiprokal oleh Trump, larangan ekspor rare earth oleh China, larangan ekspor chip maker di Eropa, serta tekanan fiskal yang dihadapi Inggris dan Jerman.

“Jadi, semua itu berimplikasi bahwa perekonomian dunia, pertumbuhan di tahun 2026 akan sangat gloomy, akan lebih slowdown,” tegas Deni.

Dalam proyeksi terbaru, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global mencapai 3,1% pada edisi Oktober 2025. Namun, Bank Dunia dan Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memiliki pandangan yang lebih pesimis, dengan proyeksi pertumbuhan masing-masing 2,4% dan 2,9%.

Referensi penulisan: www.cnbcindonesia.com

Mureks