Bek Juventus, Gleison Bremer, menyuarakan kekhawatirannya usai timnya ditahan imbang 1-1 oleh Lecce dalam lanjutan Serie A pada Minggu (4/1/2026) dini hari WIB. Hasil ini menyoroti masalah mentalitas yang serius di kubu Bianconeri, terutama saat mereka mendominasi jalannya pertandingan.
Bremer, bek asal Brasil, mengaku sangat cemas dengan pola permainan timnya. Menurutnya, Juventus kerap lengah dan kehilangan fokus justru ketika sedang menguasai laga. Padahal, Juventus mendominasi hampir sepanjang waktu normal, namun penyelesaian akhir yang buruk menjadi biang keladi kegagalan meraih kemenangan.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Bahaya Meremehkan Lawan
Satu kesalahan fatal di lapangan dapat mengubah segalanya. Bremer menyebut timnya terlalu santai saat merasa di atas angin dan cenderung meremehkan lawan. Hal ini terbukti saat mereka kebobolan gol yang mengubah momentum pertandingan.
Kepada DAZN usai laga, Bremer tidak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya. Ia melihat rekan-rekannya kehilangan kendali permainan dengan cara yang cukup konyol. “Ini adalah jenis pertandingan yang paling membuat saya khawatir,” kata Bremer.
“Terkadang kami bersantai dan kebobolan gol yang bermula dari ketiadaan. Ketika Anda mendominasi seperti itu, Anda harus langsung mencetak gol,” lanjutnya, menegaskan pentingnya efektivitas dalam menyerang.
Hukuman Akibat Buang-Buang Peluang
Mureks mencatat bahwa Juventus sebenarnya menciptakan segudang peluang emas di depan gawang Lecce. Namun, dominasi mutlak itu gagal dikonversi menjadi gol tambahan yang sangat dibutuhkan. Bremer menilai timnya telat panas untuk menyamakan kedudukan setelah tertinggal, yang membuat momentum pertandingan bergeser drastis dan merugikan tim.
“Kami butuh waktu terlalu lama untuk menyamakan kedudukan,” terang Bremer. “Kami menciptakan banyak peluang, itu benar, tapi pada akhirnya kami tidak cukup mencetak gol dan inilah yang terjadi.”
Jebakan Rasa Nyaman
Masalah utama Juventus, menurut Bremer, adalah rasa percaya diri yang berlebihan saat memegang bola. Mereka seolah berpikir gol akan datang dengan sendirinya tanpa usaha keras yang konsisten. Pola pikir seperti ini dianggap racun mematikan bagi tim besar, karena sepak bola modern tidak bekerja secara instan.
“Saat mendominasi, kami mulai berpikir kami bisa mencetak gol kapan saja,” ujar Bremer. “Tapi tidak seperti itu kerjanya. Satu serangan balik, satu kesalahan, seperti yang kami buat, dan mereka mencetak gol. Tiba-tiba seluruh permainan berubah,” tegasnya.
Pembelaan untuk Jonathan David
Sorotan tajam juga mengarah kepada Jonathan David yang tampil kurang beruntung. Ia mengalami momen sulit sepanjang pertandingan, termasuk kegagalan penalti dan peluang yang membentur tiang. Namun, Bremer langsung pasang badan membela rekan setimnya itu dari kritik pedas.
Ia menjamin bahwa sang striker memiliki kualitas mumpuni dan etos kerja tinggi. “Dia orang baik dan dia bekerja keras. Dalam latihan saya selalu kesulitan menjaganya karena dia memiliki pergerakan pemain yang kuat,” puji Bremer.
“Dia bermain bagus bahkan sebelum itu. Dia tidak beruntung, dia membentur tiang dan bola jatuh ke kiper. Tapi dia profesional yang baik, dan saya yakin segalanya akan berjalan baik untuknya ke depan,” tutup Bremer, memberikan dukungan penuh kepada David.






