Olahraga

Bayang-bayang Konflik di Balik Medali: Polemik Timnas Kickboxing Indonesia SEA Games 2025

Tim Indonesia berhasil menorehkan prestasi gemilang di ajang SEA Games 2025 yang dihelat di Thailand, menempati posisi runner-up dengan koleksi 91 medali emas, 112 perak, dan 130 perunggu. Namun, di balik euforia tersebut, tersimpan kisah pahit bagi Tim Nasional Kickboxing Indonesia yang harus berjuang di tengah berbagai polemik.

Meski demikian, Timnas Kickboxing tetap mampu menyumbangkan satu medali emas, satu perak, dan empat perunggu. Medali emas tunggal dipersembahkan oleh Riyan Jefri Hamonangan Lumbanbatu, sementara Apriyanta Sitepu meraih perak. Empat perunggu disumbangkan oleh Andi Mesyara Jerni Maswara, Sevi Nurul Aini, Aprilia Eka Putri, dan Enggar Bayu Saputra.

Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!

Prestasi ini patut mendapat apresiasi tinggi, mengingat perjuangan mereka diwarnai serangkaian dinamika pelik. Lantas, seperti apa polemik yang membayangi Timnas Kickboxing Indonesia?

Manajer Tim Dideportasi dari Thailand

Polemik bermula dari insiden deportasi Manajer Timnas Kickboxing, Rosi Nurasjati, dari Thailand. Rosi, yang tidak menginap bersama atlet, berinisiatif mendatangi hotel tim untuk memenuhi kebutuhan serta keluhan para atlet, salah satunya terkait kualitas makanan yang dinilai kurang baik.

Selain itu, Rosi juga berniat melanjutkan rutinitas pelatnas berupa pengajian, kebaktian, dan sesi motivasi sebelum waktu istirahat. Namun, kehadirannya diketahui oleh Sekretaris Jenderal Federasi Kickboxing Asia (WAKO Asia).

Pertemuan tersebut berujung pahit ketika Rosi dihampiri sekitar 20 polisi bersenjata lengkap dengan anjing pelacak. Meski telah menjelaskan urgensi kedatangannya, Rosi tidak dihiraukan dan dipaksa untuk kembali ke Indonesia.

“Aku bilang mau ada urusan sama atletku. Kata dia ‘gak bisa, gak bisa’. Lalu datang polisi dua orang, datang lagi tiga orang, empat orang, sampai beberapa. Ada kali 20 polisi, sama anjing pelacak, bawa senjata gede-gede. Kayak aku nih pelaku teror,” kenang Rosi kepada IDN Times pada 14 Desember 2025.

Rosi Nurasjati Dibekukan WAKO Asia Sejak Juli 2025

Rosi menjelaskan, insiden deportasi ini merupakan puncak dari konflik panjang yang telah berlangsung sejak Juli 2025. Saat itu, ia menerima 17 tuduhan pelanggaran dari Presiden WAKO Asia, Nasser Nassiri. Namun, Rosi dengan tegas membantah semua tuduhan tersebut, menyatakan bahwa itu adalah fitnah tak berdasar.

Salah satu tuduhan yang dinilai Rosi konyol adalah soal komunikasi dengan pelatih asing asal Kyrgyzstan, Edward. Rosi disalahkan karena masih berkomunikasi dengan Edward, padahal Edward dikontrak resmi oleh Pengurus Pusat Kickboxing Indonesia (PP KBI) dan digaji menggunakan uang negara.

Karena dianggap melanggar status penangguhan sementara yang dijatuhkan WAKO Asia, Rosi diusir paksa. Namun, Rosi merasa tidak melakukan pelanggaran karena hanya mengunjungi hotel tim, bukan arena pertandingan.

“Saya merasa suspend ini sangat berat, karena tuduhannya adalah fitnah. Saya nyatakan 100 persen fitnah. Bahkan 100 persen tendensiusnya sangat luar biasa,” kata Rosi dalam jumpa pers bersama para atlet di Jakarta, 18 Desember 2025 petang WIB. “Kenapa saya sampaikan ini? Karena ini merugikan saya secara moril, merugikan juga secara materiil. Akibat dari suspend itulah saya tidak diperbolehkan mengikuti event internasional mana pun di bawah WAKO Asia. Termasuk juga ke SEA Games,” sambungnya.

Area Hotel Atlet Dinilai Bukan Tempat Steril

Keberangkatan Rosi ke Thailand sebenarnya telah mendapat izin dari Ketua Umum PP KBI, Ngatino, dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Namun, karena status pembekuan oleh WAKO Asia, Rosi tidak mendapatkan akreditasi sebagai tim kontingen Indonesia dari Komite Olimpiade Indonesia (KOI).

Rosi hanya diperingatkan oleh Ngatino via WhatsApp untuk tidak datang ke arena pertandingan dan lokasi penimbangan berat badan. Namun, menurut atlet Andi Mesyara Jerni Maswara, area hotel atlet bukanlah tempat yang steril.

Jerni mencontohkan, orang tuanya yang datang mendukung langsung ke Thailand sering berkunjung ke hotel atlet tanpa akreditasi SEA Games dan tidak dipermasalahkan. Atlet dari negara lain seperti Myanmar, Vietnam, dan tuan rumah juga disebutnya tidak mengalami masalah serupa.

“Banyak yang datang juga kok kemarin. Dari negara thailand juga ada. Sekeluarga datang. Orang tua saya juga datang, bolak-balik,” kata Jerni kepada IDN Times.

Klaim Pencoretan Rosi oleh Kemenpora Dibantah

Jauh sebelum keberangkatan ke SEA Games, atlet kickboxing, termasuk Jerni, sempat menemui Sekretaris Jenderal KOI, Wijaya Noeradi, untuk mengonfirmasi perihal pencoretan manajer mereka dari Timnas Kickboxing.

Wijaya saat itu menyatakan bahwa Rosi dicoret oleh pihak Kemenpora. Namun, Rosi yang juga merupakan pegawai Kemenpora, saat menanyakan hal tersebut, mendapat jawaban bahwa namanya tetap masuk dalam tim sesuai hasil tim review SEA Games 2025.

“Yang mencoret saya adalah Kemenpora. Akhirnya, saya bertanya lagi ke teman-teman di Kemenpora, karena juga pegawai Kemenpora. Jawabannya ya sama, ‘Tidak ada pencoretan untuk Bu Rosi dan namanya Bu Rosi masih tetap di dalam tim’,” ujar Rosi sambil menunjukkan bukti pesan dari pihak Kemenpora. Mureks mencatat bahwa inkonsistensi informasi ini menambah kerumitan polemik yang ada.

Tanpa Manajer, Timnas Kickboxing Tak Bisa Protes Dugaan Kecurangan

Absennya Rosi di arena pertandingan akibat sanksi WAKO Asia berdampak buruk bagi para atlet. Mereka tidak dapat mengajukan protes terkait dugaan kecurangan yang terjadi selepas pertandingan.

Dalam setiap pertandingan, tim memiliki batas waktu tertentu untuk mengajukan protes, namun hak tersebut hanya bisa dilakukan oleh manajer tim. Situasi ini membuat atlet kebingungan.

Jerni kemudian memilih mengunggah video dugaan kecurangan di media sosialnya. Video tersebut viral, namun justru berujung pada intimidasi.

Jerni dihampiri dua anggota KOI, Krisna Bayu dan Adi Wirawan, yang menurut pengakuannya, mengintimidasi agar ia menghapus unggahan tersebut jika ingin tetap naik podium untuk prosesi pengalungan medali perunggu.

“Kalau dari kata-kata orang NOC (KOI), ‘Kamu hapus video itu atau tidak, saya tidak bisa menjamin kamu bisa naik di podium.’ Itu kan hak saya, kecuali saya doping. Harusnya mereka itu mendukung saya, bahwasanya ‘Ini loh ternyata atlet Indonesia dicurangin’, bukannya hanya menyuruh saya untuk men-take down video itu,” kata Jerni kepada awak media pada 18 Desember 2025.

KOI membenarkan pihaknya menghampiri Jerni, namun membantah adanya intimidasi. Mereka menyatakan langkah yang diambil di lapangan merujuk pada prosedur dan aturan federasi internasional, serta telah mendapat persetujuan dari Ketua Umum PP KBI, Ngatino.

“Untuk yang menyebut NOC Indonesia sebagai oknum sebaiknya baca dulu aturan. Kehadiran saya di kickboxing, sudah banyak isu, yang mengatakan bahwa ada ini-itu, saya tidak ambil pusing. Maka dari itu kami mengambil langkah untuk berbicara dengan atlet tersebut. Saya sebagai mantan atlet ikut merasakan. Sebagai seorang atlet itu kalau sudah menang, kita tidak ngomong posisi pertama, kedua, atau ketiga, tetapi sakralnya adalah saat pengalungan medali,” ujar Bayu dalam jumpa pers di Kantor KOI, pada 24 Desember 2025.

Aroma Konflik Personal dengan Presiden WAKO Asia

Di sisi lain, konflik antara WAKO Asia dan Rosi dinilai memiliki aroma personal yang kuat. Hal ini dirasakan para atlet saat mengikuti seminar di Pattaya, Thailand, 40 hari sebelum SEA Games 2025.

Atlet Aziz Calim dan Toni Kristian Hutapea mengaku mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Presiden WAKO Asia, Nasser Nassiri. Nassiri mendorong Aziz saat penimbangan badan, karena berat badannya melebihi nomor yang akan diikutinya.

Para atlet merasa bingung, karena insiden itu terjadi jauh sebelum SEA Games dimulai dan bukan urusan Nassiri.

“Entah dia lagi ada masalah atau bagaimana, atau tidak suka sama Indonesia. Jadi dia kayak melampiaskan ke kami. Maaf kalau bahasa saya agak kurang bagus. Jadi dia selalu kayak mencari kesalahan kami. Jadi, setiap program dia lihatin saya dan Toni. Tapi, kami kan enggak ada salah karena sudah kenal lama dengan pelatih dari Kyrgyzstan itu. Kami latihan, kasih contoh tiap hari tidak pernah absen,” ujar Aziz dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (18/12/2025) petang WIB.

“Terus dia mencari kesalahan soal berat badan. Berat badan kami, padahal (SEA Games) masih jauh itu. Dia cari kesalahan. ‘Oke kita besok timbang badan’ kata dia. Terus ini pada over kan. Saya sebenarnya over-nya dua kilo saja, karena kan saya pakai jaket. Terus di situ kan banyak orang dari berbagai negara. Semua negara dan calon-calon lawan kami di SEA Games. Kami buka jaket, tapi enggak dikasih, katanya tetap harus pakai jaket. Dia sempat kira timbangannya eror, saya suruh turun dan naik lagi. Setelah itu dia dorong saya. Kemudian saya perhatikan lagi apakah perlakuan dia ke saya dan Toni sama tidak ke negara lain. Ternyata yang lain tidak didorong, padahal berat badannya juga melebihi,” lanjutnya.

Harapan Intervensi DPR untuk Titik Terang

Andi Mesyara Jerni Maswara berharap polemik ini dapat segera dituntaskan. Ia secara khusus berharap Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dapat ikut turun tangan sebagai penengah, memanggil semua pihak terkait demi menemukan titik terang.

Menurut Jerni, intervensi DPR dapat menjadi solusi agar KOI, PP KBI, dan para atlet dapat memberikan pembuktian atas permasalahan yang terjadi.

“Saya berharap sih polemik ini segera di akhiri karena ini sangat berimbas kepada pembinaan kami dan kickboxing di daerah, terlebih saat ini ada upaya yang dilakukan oknum federasi kickboxing Indonesia untuk mempengaruhi seluruh pengurus provinsi untuk menyerang dan menyudutkan saya menggunakan hasil jumpa pers KOI. Saya bisa buktikan,” ujar Jerni. “Sejauh ini saya mengeluarkan pernyataan karena berdasarkan bukti. Anehnya, jumpa pers dari KOI dipakai untuk menyerang dan menyudutkan saya. Lalu apa gunanya safeguarding KOI? Saya berharap DPR bisa membantu menengahi dan juga memberikan solusi yang tepat dalam permasalahan ini,” lanjutnya.

Mureks