Gelandang kawakan Luka Modric secara resmi memulai babak baru dalam karier profesionalnya bersama AC Milan musim ini. Keputusan mengejutkan untuk meninggalkan raksasa Spanyol, Real Madrid, diungkapkan Modric sebagai upaya mewujudkan impian masa kecilnya yang telah lama terpendam.
Modric, yang dikenal sebagai salah satu gelandang terbaik di generasinya, mengakui bahwa ia adalah penggemar setia Milan sejak kecil. Kecintaannya terhadap Rossoneri tidak lepas dari sosok panutannya, Zvonimir Boban, kapten tim nasional Kroasia yang nyaris membawa negaranya meraih Piala Dunia 1998.
Simak artikel informatif lainnya hanya di mureks.co.id.
“Itu benar. Saya adalah penggemar Milan karena pahlawan masa kecil saya: Zvonimir Boban, kapten Kroasia yang hampir saja memenangkan Piala Dunia 1998,” kata Modric, seperti dikutip dari Corriere della Sera. Pernyataan ini menegaskan ikatan emosional Modric dengan klub Italia tersebut.
Pemain berusia 38 tahun ini tidak pernah menyangka kesempatan untuk berseragam Milan akan datang. Namun, jauh di lubuk hatinya, keinginan untuk bermain di San Siro selalu ada. “Hidup selalu memberikan kejutan pada dirimu. Sebuah hal bisa saja terjadi dengan cara yang dikira tidak mungkin,” ujarnya.
Mureks mencatat bahwa Modric sebelumnya sempat berkeyakinan akan mengakhiri kariernya di Real Madrid, klub yang telah memberinya banyak gelar bergengsi. Namun, tawaran dari Milan mengubah segalanya. “Saya sudah yakin bahwa saya akan mengakhiri karier di Real Madrid namu saya juga selalu berpikir seperti ini: Bila saya bakal punya tim lain, itu adalah Milan. Jadi saya di sini untuk menang,” tutur Modric, menegaskan ambisinya.
Setibanya di Milan, Modric tanpa ragu menetapkan target tinggi: membawa klub meraih scudetto. Meskipun demikian, ia juga menekankan pentingnya fokus pada setiap pertandingan tanpa berpikir terlalu jauh ke depan.
“Di Milan, pemain harus selalu main untuk menang, hanya untuk menang,” tegasnya. Mengenai peluang meraih gelar juara musim ini, Modric menambahkan, “Mungkin saja [menang di musim ini]. Namun itu masih terlalu jauh. Di sepak bola, seorang pemain harus berpikir dari laga ke laga. Bila seorang pemain merencanakan beberapa bulan ke depan, hal itu akan membuatnya kalah.”






