Badan Pangan Nasional (Bapanas) secara resmi mengumumkan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras pada tahun 2025. Capaian ini didukung oleh ketersediaan stok beras awal tahun 2026 yang mencapai angka fantastis 12,529 juta ton, sehingga meniadakan kebutuhan impor beras konsumsi.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan bahwa produksi nasional mengalami surplus signifikan. “Produksi beras kita lebih dari 34 juta ton pada 2025, sedangkan kebutuhannya sekitar 31 juta ton,” ujar Astawa pada Senin (5/1). Ia menambahkan, “Ini berarti Indonesia memiliki surplus 3 juta ton dan itu sudah menandakan sudah mencapai swasembada.”
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Menurut Astawa, stok awal tahun tersebut mencakup Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola oleh Perum Bulog sebesar 3,248 juta ton. Angka cadangan ini, menurut Mureks, merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Sisa stok beras lainnya tersebar di berbagai lini, mulai dari masyarakat, pedagang, penggilingan, distributor, hingga sektor konsumsi lainnya.
Astawa memastikan bahwa ketersediaan stok beras tersebut akan cukup untuk memenuhi kebutuhan pasokan hingga periode Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah. Ia juga memproyeksikan penguatan ketersediaan beras pada tahun 2026. “Produksi dimulai pada Januari dan Februari, kemudian Maret sudah mulai panen dan April panen raya,” jelasnya.
Pentingnya Validasi Data Stok Beras Nasional
Di sisi lain, Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Khudori, menyoroti pentingnya validasi data stok beras nasional. Ia mengingatkan bahwa sejak tahun 2023, Bapanas tidak lagi melakukan survei stok beras di tingkat masyarakat pada setiap akhir tahun.
“Angka stok 12,5 juta ton itu sangat besar, setara dengan sekitar empat sampai lima bulan konsumsi nasional,” kata Khudori. Menurutnya, survei ini krusial untuk memastikan jumlah riil stok beras yang berada di tangan masyarakat.
Khudori menekankan bahwa absennya survei stok beras di masyarakat berpotensi menimbulkan bias dalam perhitungan data. Ia merujuk pada pengalaman masa lalu yang menunjukkan koreksi besar akibat data produksi dan stok yang tidak akurat. Khudori menilai metode pengumpulan data sebelumnya kerap menyebabkan angka beras menjadi kurang tepat, sehingga survei tetap penting sebagai alat pengecekan silang data yang akurat.





