Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan kebijakan strategis pemerintah untuk memangkas target produksi batu bara pada tahun 2026 menjadi sekitar 600 juta ton. Keputusan ini disampaikan dalam konferensi pers Capaian Kinerja Tahun 2025 Kementerian ESDM di Jakarta, Kamis (08/01/2026).
Angka ini menandai penurunan signifikan sebesar 24% dibandingkan realisasi produksi batu bara pada tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton. Menurut Bahlil, pemangkasan target produksi ini bertujuan untuk mendongkrak kembali harga batu bara di pasar global sekaligus menjaga keberlanjutan cadangan nasional.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
“Batu bara yang diperdagangkan di global 1,3 miliar ton. Dari jumlah itu, Indonesia menyuplai 514 juta ton atau 43%, akibatnya apa supply and demand tidak terjaga, artinya harga batu bara turun. Lewat kesempatan berbahagia ini, Kementerian ESDM sudah rapatkan dengan Dirjen Minerba, kita akan lakukan revisi terhadap kuota RKAB. Jadi, produksi kita akan turunkan supaya harga bagus dan tambang kita untuk cucu kita,” jelas Bahlil.
Kebijakan serupa, lanjut Bahlil, juga akan diterapkan pada komoditas nikel. “Bangsa ini harus berjalan, terus lingkungan kita jaga, dan ini juga terjadi tidak hanya di batu bara, termasuk nikel kita akan sesuaikan kebutuhan indsutri dan supply ore nickel kita,” ujarnya. Mengenai detail kuota, Bahlil menambahkan, “Urusan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) Pak Dirjen Minerba lagi hitung, yang jelas di sekitar 600 juta lah batu bara, kurang lebih lah, bisa kurang bisa lebih dikit, catatnya kurang lebih ya. nanti judulnya pasti 600 (juta).”
Untuk nikel, pemerintah akan menyesuaikan target produksi dengan kebutuhan industri. Mureks mencatat bahwa Bahlil menekankan pentingnya pemerataan, di mana industri-industri besar diwajibkan membeli bijih nikel dari pengusaha tambang lokal untuk menghindari monopoli. “Kita ingin perusahaan daerah kuat supaya ada kolaborasi supaya hilriisasi berkeadilan. Kita support tapi harus berkolaborasi,” tuturnya.
Data Produksi Batu Bara Nasional
Berdasarkan data Kementerian ESDM, produksi batu bara pada tahun 2025 tercatat 790 juta ton, menurun dari 836 juta ton pada tahun 2024. Angka 2024 sebelumnya merupakan rekor produksi tertinggi sepanjang masa, bahkan melampaui 775 juta ton pada tahun 2023.
Dari total produksi 790 juta ton pada 2025, sebanyak 514 juta ton (65,1%) dialokasikan untuk ekspor, sementara 254 juta ton (32%) memenuhi kebutuhan pasar domestik. Penjualan domestik ini mencakup pasokan untuk pembangkit listrik, pabrik semen, serta fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) mineral. Adapun sisanya, 22 juta ton (2,8%), tercatat sebagai stok.
Realisasi produksi batu bara 2025 yang lebih rendah 5,5% dibandingkan 2024 ini sekaligus mematahkan rekor produksi tertinggi sepanjang masa yang sempat dicapai pada tahun 2024.






